Bupati Thaher Hanubun di HUT Kota Langgur: “Kita Tak Butuh Kota Besar, Kita Butuh Warga dengan Mimpi Besar”

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 10 Oktober 2025

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Bupati Thaher Hanubun di HUT Kota Langgur: “Kita Tak Butuh Kota Besar, Kita Butuh Warga dengan Mimpi Besar”

Langgur, TribunNusantara.web.id | 9 Oktober 2025 — Aula utama tempat perayaan ulang tahun Kota Langgur dipenuhi suasana haru dan kebanggaan. Dari atas podium, Bupati Maluku Tenggara, Drs. M. Thaher Hanubun, menyampaikan pidato yang bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi refleksi mendalam tentang jati diri kota yang menjadi jantung Maluku Tenggara.

“Kota besar bukan diukur dari luas wilayahnya, tapi dari besarnya mimpi dan keberanian warganya untuk mewujudkannya,” ujar Thaher membuka pidatonya, disambut tepuk tangan panjang para hadirin.

Ucapan itu menjadi benang merah dari seluruh isi pidatonya—sebuah ajakan untuk menjadikan Langgur bukan hanya pusat administrasi, melainkan kota harapan, kota kebanggaan, dan kota peradaban.

Tentang Keamanan dan Kebersamaan

Dalam bagian awal pidatonya, Bupati menekankan pentingnya keamanan dan ketertiban sebagai fondasi pembangunan. Ia menyinggung konsep modal sosial yang tumbuh dari nilai budaya Maluku Tenggara — saling percaya, gotong royong, dan rasa kekeluargaan yang kuat.

“Keamanan sejati lahir bukan dari banyaknya pos polisi, tapi dari hati yang saling menjaga. Anak orang adalah anak kita juga,” tegas Thaher.

Ia menekankan bahwa kota yang aman tak akan pernah tumbuh dari ketakutan, melainkan dari rasa memiliki antarwarga.

Kebersihan sebagai Cermin Karakter

Bupati juga menyoroti soal kebersihan dan disiplin publik. Menurutnya, kebersihan bukan hanya urusan petugas, tetapi cerminan karakter warga.

“Kita sering bilang, ini tugas dinas kebersihan. Tapi siapa yang buang sampah sembarangan? Kita sendiri, kan?” ujarnya retoris.

Ia mencontohkan budaya masyarakat Jepang yang membawa pulang sampah sendiri, bukan karena diatur, tapi karena malu mengotori tempat yang mereka cintai.

“Kalau kita mencintai Langgur, kita pun harus malu melihatnya kotor,” katanya.

Langgur Sebagai Pusat Pertumbuhan

Dalam konteks pembangunan, Thaher menggambarkan Langgur sebagai ‘growth pole’—kutub pertumbuhan yang memancarkan energi kemajuan ke seluruh Maluku Tenggara.

“Apa yang berhasil kita bangun di Langgur hari ini, akan menjadi inspirasi bagi Ohoi lain esok hari,” ucapnya.

Ia mengajak seluruh aparatur dan masyarakat menjadi pelopor perubahan, bukan penonton.

Kerukunan, Kearifan, dan Citra Kota

Bupati kemudian menyinggung kerukunan beragama dan adat sebagai kekuatan moral daerah.

“Di banyak tempat, perbedaan bisa memecah. Tapi di Maluku Tenggara, perbedaan justru menyatukan. Itu warisan leluhur yang harus kita jaga mati-matian,” katanya tegas.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya branding positif Kota Langgur di media sosial.

“Sekarang orang mengenal daerah dari apa yang mereka lihat di Instagram dan TikTok. Kalau kita semua posting hal baik tentang Langgur, dunia akan mengenal keindahan kita,” katanya sambil mengajak warga menjadi duta digital kota.

Inovasi dan Kemandirian

Bupati juga menegaskan bahwa Maluku Tenggara tidak boleh menjadi fotokopi daerah lain.

“Kita harus berani berpikir dan bertindak sesuai jati diri kita sendiri. Inovasi bukan soal meniru, tapi soal menemukan cara kita yang khas,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya kreativitas aparatur dan masyarakat dalam menghadapi keterbatasan anggaran.

“Dana kita terbatas, tapi ide tidak boleh terbatas. Sedikit anggaran dengan ide cemerlang bisa menghasilkan perubahan besar,” katanya menohok.

Dari Terlupakan Menjadi Diperhitungkan

Bagian paling emosional dari pidato itu muncul ketika Thaher berbicara tentang posisi Maluku Tenggara di tingkat nasional.

“Dulu, kita sering dilupakan. Tapi sekarang, kita sedang menulis cerita baru — dari yang terlupakan menjadi yang diperhitungkan,” ucapnya dengan nada bergetar.

Ia menegaskan, kebangkitan Maluku Tenggara tak akan terjadi tanpa kerja keras, doa, dan persatuan.

“Langkah demi langkah, nama Langgur akan terdengar bukan karena masalah, tapi karena prestasi,” ujarnya disambut tepuk tangan panjang.

Penutup: Kota yang Dihuni dan Dicintai

Menutup pidatonya, Bupati Thaher mengajak seluruh warga untuk mencintai kotanya melalui tindakan nyata setiap hari.

“Langgur yang hebat bukan datang dari langit, tapi dari pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari — menjaga kebersihan, menghormati perbedaan, bekerja dengan integritas, dan berbicara dengan santun,” tutupnya.

Ia berharap suatu hari nanti, anak-anak muda akan dengan bangga berkata:

“Saya orang Langgur!”

Dan dunia, pada akhirnya, akan mengenal Langgur bukan hanya sebagai kota di timur Indonesia — tetapi sebagai kota yang tumbuh dengan cinta, kerja keras, dan martabat.