Dana Desa Kei Kecil Dipangkas 58 Persen, Bupati Malra: “Tekad Jangan Ikut Terpotong!”
Langgur, TribunNusantara.web.id | Kabar mengejutkan datang untuk 190 ohoi di Kabupaten Maluku Tenggara. Dana Desa tahun 2026 resmi dipangkas hingga 58 persen. Dari semula Rp121,6 miliar, kini tersisa hanya Rp52,1 miliar.
Hal itu diungkapkan langsung Wakil Bupati Maluku Tenggara Charlos Viali Rahantoknam saat membacakan sambutan tertulis Bupati Muhammad Thaher Hanubun, dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Kei Kecil Tahun 2026 di Balai Ohoi Langgur Senin (2/3/2026).
“Dana boleh saja berkurang, tapi tekad jangan pernah goyah!” tegas Bupati di hadapan camat, kepala ohoi, tokoh adat, dan tokoh agama di Langgur.
Terbit PMK Baru, Anggaran Turun Drastis
Bupati menjelaskan, pemotongan terjadi setelah terbit Peraturan Menteri Keuangan Nomor 7 Tahun 2026 tentang Pengelolaan Dana Desa pada 9 Februari 2026. Akibat aturan tersebut, alokasi Dana Desa Maluku Tenggara anjlok lebih dari setengahnya.
Meski begitu, Pemkab Malra berupaya menutup sebagian kekurangan melalui:
Alokasi Dana Ohoi dari APBD Rp38,2 miliar,
Bagi hasil pajak dan retribusi Rp2,8 miliar, BPJS perangkat ohoi Rp1,2 miliar.
Total dana yang mengalir ke ohoi tahun ini sekitar Rp94,3 miliar.
“Kita kekurangan uang, tetapi tidak boleh kekurangan semangat. Kita kekurangan anggaran, tetapi tidak boleh kekurangan akal,” ujarnya.
Kei Kecil Disebut Jantung Ekonomi
Dalam sambutannya, Bupati menyebut Kecamatan Kei Kecil sebagai tulang punggung ekonomi kabupaten. Pasar Langgur menjadi simpul distribusi yang menghidupi kepulauan, sementara sektor rumput laut, perikanan, UMKM, hingga kuliner menjadi kekuatan utama.
“Langgur harus maju, tetapi tetap punya jiwa. Karakter sejarah kota ini harus dijaga,” katanya.
Menurutnya, kekuatan terbesar bukan hanya infrastruktur, melainkan manusia, budaya, dan tradisi masyarakat Kei.
Tiga Instruksi Tegas untuk Ohoi
Di tengah keterbatasan anggaran, Bupati menyampaikan tiga penekanan penting:
1. Kelola Dana dengan Jujur dan Tepat Sasaran
Setiap rupiah harus berdampak nyata bagi masyarakat, bukan hanya seremonial.
“Satu toilet bersih di kawasan wisata lebih berharga daripada sepuluh proposal yang tidak terlaksana.” sebut Bupati.
2. Bangun Sumber Pendapatan Sendiri
Ohoi diminta memperkuat retribusi lokal dan mendorong kelompok tani, nelayan, serta UMKM agar mandiri.
“Kita tidak bisa selamanya bergantung pada uang dari Jakarta.” tambahnya.
3. Berani Tentukan Prioritas
Jika ada sepuluh usulan, pilih tiga yang paling mendesak dan berdampak luas. “Keberanian memilih prioritas adalah tanda kedewasaan bermusyawarah.” pesan Thaher untuk Pemuda dan Ibu-Ibu.
Bupati juga menyemangati generasi muda agar tidak meninggalkan kampung halaman.
“Satu video pendek bisa mengundang ribuan wisatawan. Satu ide kreatif bisa mengubah nasib satu ohoi.”
Sementara kepada para ibu, ia menilai kuliner khas Kei, kerajinan tangan, dan keramahan masyarakat adalah modal sosial yang tak ternilai.
“Maluku Tenggara Hebat Dibangun dari Ohoi” jelasnya.
Menutup sambutannya, Bupati kembali menegaskan bahwa kemajuan daerah harus dimulai dari desa.
“Dana dipotong, tetapi semangat tidak boleh ikut terpotong. Anggaran berkurang, tetapi kreativitas harus bertambah," pungkas Bupati Malra dua periode itu.
Musrenbang Kei Kecil pun diharapkan bukan sekadar forum menyusun daftar keinginan, melainkan momentum menentukan arah pembangunan yang realistis, mandiri, dan berdampak langsung bagi masyarakat.








































Komentar via Facebook