DARAH RAKYAT PAPUA JANGAN DITUTUPI!” — DIANU OMALENG DESAK KAPOLRI DAN PANGLIMA TNI BONGKAR PELAKU PENEMBAKAN UIAUGIN MILE 69

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 13 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

DARAH RAKYAT PAPUA JANGAN DITUTUPI!” — DIANU OMALENG DESAK KAPOLRI DAN PANGLIMA TNI BONGKAR PELAKU PENEMBAKAN UIAUGIN MILE 69

“DARAH RAKYAT PAPUA JANGAN DITUTUPI!” — DIANU OMALENG DESAK KAPOLRI DAN PANGLIMA TNI BONGKAR PELAKU PENEMBAKAN UIAUGIN MILE 69

TIMIKA, Tribunnusantara-web.id — Tragedi penembakan warga sipil di kawasan pendulangan Uiaugin Mile 69, Tembagapura, kini berubah menjadi gelombang kemarahan publik.     

Tokoh intelektual Amungme,  Dianu Omaleng, melontarkan pernyataan keras kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Tentara Nasional Indonesia agar tidak bermain diam dalam kasus berdarah yang melukai warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.14/05/2026

Menurut Dianu, rakyat Papua sudah terlalu sering disuguhi peristiwa kekerasan yang berakhir tanpa pelaku, tanpa proses hukum, dan tanpa keadilan. Karena itu, ia menuntut Kapolri dan Panglima TNI segera turun langsung membongkar siapa oknum penembak di balik operasi penyisiran malam yang berubah menjadi teror bagi warga sipil di Mile 69.

“Kami minta Kapolri dan Panglima TNI jangan tutup mata. Ungkap siapa pelaku penembakan di Uiaugin Mile 69 dan proses hukum seberat-beratnya. Jangan biarkan darah rakyat Papua hilang begitu saja tanpa keadilan,” tegas Dianu Omaleng.

Ia menilai, apabila aparat keamanan gagal membuka kasus ini secara terang-benderang, maka publik akan semakin yakin bahwa hukum hanya tajam terhadap rakyat kecil tetapi melempem ketika berhadapan dengan oknum bersenjata.

“Kalau kasus seperti ini kembali hilang tanpa pelaku, rakyat akan bertanya: negara ini sedang melindungi hukum atau melindungi pelaku?” katanya tajam.

Dianu juga mengingatkan bahwa tindakan brutal terhadap warga sipil hanya akan memperparah luka sosial dan memperbesar ketidakpercayaan masyarakat Papua terhadap aparat keamanan negara.

Menurutnya, menjaga keamanan tidak boleh dijadikan alasan untuk menebar ketakutan terhadap masyarakat sipil yang tidak bersalah.

    “Jangan sampai aparat yang seharusnya melindungi rakyat justru ditakuti rakyat. Kalau keadilan mati, maka kepercayaan masyarakat juga ikut mati,” ujarnya.

Desakan kini mengarah agar Mabes Polri, Mabes TNI, dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia segera menurunkan tim investigasi independen guna membongkar fakta sebenarnya di lapangan secara terbuka dan objektif.

Kasus penembakan Uiaugin Mile 69 kini bukan lagi sekadar insiden keamanan biasa.                            

Di mata masyarakat adat Amungme, ini adalah ujian besar bagi keberanian negara menegakkan hukum terhadap aparatnya sendiri — atau sekali lagi membiarkan kasus kemanusiaan tenggelam tanpa pertanggungjawaban.

(*****)