Dari Wunlah Menyemai Harapan: Yosepus “Cepu” Luturmas dan Jalan Sunyi Regenerasi Petani
Wuarlabobar, TribunNusantara.web.id | Di saat banyak pemuda memilih meninggalkan ladang dan sawah demi pekerjaan yang dianggap lebih menjanjikan, Yosepus Luturmas justru mengambil jalan sebaliknya. Pemuda asal Desa Wunlah, Kecamatan Wuarlabobar, itu memilih tanah, benih, dan cangkul sebagai medan pengabdian. Di kampungnya, ia lebih akrab disapa Cepu.
Fenomena menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian bukan perkara baru. Urbanisasi, keterbatasan modal, hingga minimnya akses terhadap teknologi pertanian modern menjadi sederet alasan. Dampaknya tak sederhana: produktivitas stagnan, regenerasi petani tersendat, dan ancaman ketahanan pangan mengintai.
Namun Cepu melihat celah di tengah persoalan itu. Meski mengakui kemampuannya di bidang pertanian tak sepenuhnya ditempa oleh pendidikan formal, ia mengandalkan keberanian dan kerja keras sebagai modal utama. Dari lahan-lahan yang sebelumnya dibiarkan, ia mulai membangun kepercayaan petani untuk mencoba cara-cara baru.
“Inovasi tidak harus rumit. Yang penting tepat guna dan bisa diterapkan,” ujarnya suatu ketika.
Langkahnya sederhana: mengajarkan teknik pemilihan bibit unggul, pola tanam yang lebih teratur, pemupukan berimbang, hingga cara pengendalian hama yang efektif. Ia juga mendorong petani memanfaatkan lahan tidur tanpa harus terbebani modal besar, dengan sistem gotong royong dan pembagian hasil yang adil.
Perubahan mulai terasa. Hasil panen meningkat, semangat petani tumbuh, dan beberapa desa di Kecamatan Wuarlabobar perlahan dikenal sebagai sentra pertanian baru. Bagi sebagian warga, capaian itu tak lepas dari peran Cepu yang tak kenal lelah mendampingi petani dari satu desa ke desa lain.
Kini, statusnya sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tak mengubah arah langkahnya. Alih-alih berjarak dengan sawah dan kebun, ia justru memanfaatkan perannya untuk memperluas jangkauan pembinaan. Pelatihan demi pelatihan digelar dari teknik penanaman hingga proses panen dengan pendekatan yang membumi dan mudah dipahami.
Bagi Cepu, pertanian bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan untuk membangun kemandirian desa. Ia percaya, pemuda dapat menjadi agen perubahan jika diberi ruang dan kesempatan. Di tengah arus zaman yang menggoda anak muda untuk menjauh dari lumpur sawah, ia memilih tetap berpijak pada tanahnya sendiri.
Sosok Yosepus Luturmas menjadi pengingat bahwa membangun negeri tak selalu dimulai dari kota besar. Dari Wunlah, ia menunjukkan bahwa keberanian untuk bertahan dan berinovasi di sektor yang kerap dipandang sebelah mata justru bisa melahirkan perubahan yang nyata.
Di tangan pemuda seperti Cepu, ladang bukan hanya sumber pangan, tetapi juga ruang harapan.








































Komentar via Facebook