Dua Gubernur, Satu Meja: Hangatnya “Hidop Orang Basudara” di Perantauan Bekasi
Bekasi, TribunNusantara.web.id | Di sebuah sudut Kota Bekasi, Sabtu petang (14/3/2026), kehangatan tidak hanya datang dari hidangan berbuka. Ia hadir dari pelukan, tawa, dan sapaan khas yang melampaui sekat agama dan wilayah. Ratusan warga Maluku dan Maluku Utara yang bermukim di Jabodetabek berkumpul dalam satu semangat: merawat persaudaraan.
Momentum itu terasa kian istimewa dengan hadirnya dua kepala daerah Gubernur Maluku Utara, Sherly Laos, dan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa. Keduanya duduk berdampingan, mengenakan busana putih senada, seolah menegaskan pesan yang ingin disampaikan: kesederhanaan dalam kebersamaan, dan persatuan dalam keberagaman.
Acara yang digagas Front Pemuda Muslim Maluku ini bukan sekadar buka puasa bersama. Ia menjelma menjadi ruang temu lintas identitas. Tak hanya umat Muslim yang hadir, tetapi juga warga non-Muslim yang datang sebagai “basudara” saudara sebuah istilah yang sarat makna dalam kultur Maluku.
Ketua panitia, Umar Kei, menyebut kegiatan ini sebagai ikhtiar menjaga simpul-simpul kebersamaan yang kerap diuji oleh jarak dan kesibukan hidup di perantauan.
“Di sini, semua kembali ke akar: kita ini basudara,” ujarnya singkat.
Dalam sambutannya, Hendrik Lewerissa menekankan pentingnya merawat persatuan, terutama di tengah realitas masyarakat yang semakin majemuk.
Ia mengingatkan bahwa sejarah Maluku dan Maluku Utara pernah diuji oleh konflik, namun justru dari sana lahir kesadaran kolektif akan pentingnya toleransi.
“Kebersamaan seperti ini bukan hanya seremoni. Ini pengingat bahwa persaudaraan harus terus dipelihara,” katanya.
Sherly Laos, di sisi lain, memilih menyoroti makna pertemuan ini sebagai jembatan emosional antara kampung halaman dan tanah rantau. Ia mengapresiasi inisiatif komunitas yang mampu menghadirkan suasana akrab, bahkan bagi mereka yang telah lama meninggalkan tanah asal.
“Silaturahmi seperti ini memperkuat ikatan, bukan hanya antarindividu, tetapi juga antarwilayah,” ujarnya.
Menjelang azan magrib, suasana hening sejenak. Doa dipanjatkan, tangan-tangan terangkat, dan harapan-harapan diselipkan di antara detik-detik penantian. Ketika waktu berbuka tiba, tak ada sekat.
Semua larut dalam kebersamaan menegaskan bahwa “hidop orang basudara” bukan sekadar semboyan, melainkan praktik hidup yang terus dijaga, bahkan jauh dari rumah.








































Komentar via Facebook