Kei Is Safe to Visit” — Maluku Tenggara Gaspol Jadikan Pariwisata Mesin Ekonomi Rakyat
“Kei Is Safe to Visit” — Maluku Tenggara Gaspol Jadikan Pariwisata Mesin Ekonomi Rakyat
LANGGUR, MALUKU TENGGARA Tribunnusantara-webmid — Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara terus tancap gas menjadikan sektor pariwisata sebagai mesin utama penggerak ekonomi daerah. Dalam dialog publik “Maluku Tenggara Menyapa” yang disiarkan langsung dari Pantai Ngurbloat oleh RRI Tual, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Maluku Tenggara, Victor Emmanuel Buditovi Empar, menegaskan bahwa Kepulauan Kei kini bukan lagi sekadar destinasi wisata biasa, melainkan ikon pariwisata unggulan Indonesia Timur.
Dengan branding besar “Surga Pantai Dunia”, Maluku Tenggara terus memperkuat posisi sebagai barometer pariwisata Provinsi Maluku bahkan mulai diperhitungkan secara nasional.19/05/2026
“Keindahan Indonesia ada di Pulau Kei. Surga pantai dunia ada di Kepulauan Kei. Tapi yang paling penting, kita harus yakinkan dunia bahwa Kei aman untuk dikunjungi,” tegas Victor Buditovi Empar.
Dalam dialog tersebut, Victor membeberkan bagaimana sektor pariwisata kini diposisikan sebagai leading sector bersama perikanan dalam visi pembangunan Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara.
Menurutnya, geliat pariwisata Kei mengalami lonjakan signifikan sejak 2019 hingga kini, ditandai dengan sederet prestasi nasional dan internasional, mulai dari branding Pantai Ngurbloat sebagai pemilik pasir terhalus dunia, homestay terbaik Asia, hingga Festival Pesona Meti Kei yang enam kali berturut-turut masuk dalam agenda nasional Karisma Event Nusantara (KEN).
“Kalau daerah lain punya wisata bagus, Kei punya sesuatu yang berbeda. Kita punya comparative advantage dan competitive advantage. Pasir terhalus dunia itu ada di sini,” katanya.
Tak hanya menjual panorama alam, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara kini serius mendorong konsep sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan berbasis masyarakat.
Victor menegaskan bahwa pariwisata bukan sekadar tempat rekreasi, tetapi alat strategis membuka lapangan kerja, menekan angka kemiskinan, dan menggerakkan ekonomi rakyat dari desa hingga kota.
“Jangan sampai kita seperti tikus mati di lumbung padi. Alam kita luar biasa indah, tapi masyarakat tidak menikmati manfaat ekonominya,” sindirnya tajam.
Ia mengungkapkan, sektor ekonomi kreatif kini mulai menjadi tulang punggung baru masyarakat Kei, terutama subsektor kuliner, kriya, fashion, fotografi, hingga videografi.
Bahkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kini aktif mendampingi pelaku UMKM dan seniman lokal untuk mendapatkan HAKI atau Hak Kekayaan Intelektual agar produk budaya dan karya lokal tidak diklaim pihak lain.
“Kami tidak mau produk lokal Kei dicuri atau diambil daerah lain. Semua karya anak daerah harus punya perlindungan hukum,” tegas Victor.
Di sisi lain, Pemerintah Daerah juga mulai membangun jejaring promosi wisata berbasis digital. Salah satunya bekerja sama dengan Telkomsel agar setiap wisatawan yang tiba di Bandara Karel Sadsuitubun langsung mendapat informasi tentang destinasi wisata dan produk ekonomi kreatif Kepulauan Kei.
Tak hanya itu, Maluku Tenggara juga tengah membangun konektivitas internasional melalui gagasan kerja sama Friendship City antara Langgur dan Darwin, Australia.
Jika terealisasi, jalur penerbangan Darwin–Kei–Labuan Bajo disebut akan menjadi game changer besar bagi pariwisata Kei.
“Kalau akses internasional terbuka, dampaknya luar biasa. Lapangan kerja terbuka, ekonomi bergerak, dan wisata Kei makin mendunia,” ujarnya optimistis.
Meski demikian, Victor mengingatkan bahwa Maluku Tenggara tidak ingin terjebak dalam konsep mass tourism yang berpotensi merusak lingkungan.
“Kita tidak mengejar wisata massal. Kita ingin quality tourism. Ekowisata tetap harus dijaga,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Victor juga menyinggung pentingnya pembenahan fasilitas pendukung wisata seperti toilet berstandar internasional, area parkir, musala, transportasi wisata, hingga pelatihan SDM pemandu wisata lokal.
Menurutnya, kemajuan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan pantai indah, tetapi juga harus ditopang budaya pelayanan dan keramahan masyarakat.
“Hospitality masyarakat Kei adalah kekuatan terbesar kita. Wisatawan datang bukan hanya karena pantai, tetapi karena mereka merasa diterima dan dihargai,” pungkasnya.
Kini, dengan gaung Festival Pesona Meti Kei 2026 yang mulai dipersiapkan lebih besar dan lebih megah, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara tampak serius menjadikan Kepulauan Kei sebagai magnet wisata kelas dunia sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan timur Indonesia.
*Singa*








































Komentar via Facebook