KNPI Mimika Jangan Jadi Panggung Dagang Politik: Kandidat Harus Diuji, Bukan Sekadar Bawa Map Organisasi”

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 17 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

KNPI Mimika Jangan Jadi Panggung Dagang Politik: Kandidat Harus Diuji, Bukan Sekadar Bawa Map Organisasi”

“KNPI Mimika Jangan Jadi Panggung Dagang Politik: Kandidat Harus Diuji, Bukan Sekadar Bawa Map Organisasi”

TIMIKA Tribunnusantara-web.id — Kritik terhadap proses pemilihan Ketua KNPI Kabupaten Mimika kembali mengeras. Pemerhati sosial yang menamakan diri “Pemburu Korup” menilai bursa calon KNPI jangan hanya dipenuhi formalitas organisasi dan transaksi kepentingan yang akhirnya melahirkan pemimpin tanpa kapasitas nyata.

Menurutnya, rekam jejak organisasi memang penting, tetapi bukan jaminan seseorang layak memimpin organisasi kepemudaan terbesar di Mimika.

  “Jangan hanya lihat berkas organisasi lalu langsung dianggap layak memimpin. Banyak yang aktif organisasi, tapi minim gagasan, minim keberanian, dan tidak punya visi untuk pemuda,” kritiknya tajam.

Ia menyebut, selama inibanyak proses pemilihan organisasi kepemudaan terjebak dalam pola lama: penuh lobi belakang layar, kompromi kepentingan, hingga praktik titip-menitip kandidat yang jauh dari semangat demokrasi pemuda.

Akibatnya, KNPI terancam hanya menjadi panggung perebutan pengaruh politik, bukan tempat lahirnya pemimpin muda yang benar-benar berkualitas.

  “Kalau pemimpin lahir dari deal politik dan bukan dari kualitas, maka jangan harap KNPI bisa jadi rumah perjuangan pemuda,” sindirnya.

arena itu, ia mendesak agar pemerintah daerah ikut turun tangan memfasilitasi proses uji publik bagi seluruh bakal calon Ketua KNPI Mimika secara terbuka dan transparan.

Menurutnya, seluruh kandidat harus diuji lewat debat publik, pemaparan visi-misi, hingga wawancara kepemimpinan di tempat netral agar masyarakat bisa melihat langsung kualitas masing-masing calon.

   “Jangan pemilihan hanya jadi ajang saling klaim dukungan. Rakyat dan pemuda harus tahu siapa yang benar-benar punya kapasitas memimpin,” katanya.

Ia juga meminta proses penilaian melibatkan tokoh-tokoh independen dan berkompeten, mulai dari akademisi, tokoh adat, aktivis, LSM, tokoh politik, hingga tokoh pemuda agar hasilnya tidak dikendalikan kepentingan kelompok tertentu.

Menurutnya, jika proses seleksi dilakukan terbuka, maka stigma bahwa KNPI hanya menjadi arena hutang politik dan pembagian kekuasaan akan runtuh dengan sendirinya.

 “Kalau semua diuji terbuka, publik akan tahu mana calon yang benar-benar punya otak dan visi, dan mana yang hanya modal jaringan politik,” ujarnya.

Ia menegaskan, KNPI Mimika membutuhkan pemimpin yang jujur, kreatif, berani, dan visioner — bukan figur kompromi yang hanya sibuk menjaga kepentingan sponsor politik setelah terpilih.

“Pemuda Mimika butuh pemimpin masa depan, bukan boneka politik berkedok aktivis,” tegasnya.

Pernyataan keras itu kini menjadi tamparan bagi dinamika pemilihan KNPI Mimika yang mulai dipandang publik bukan lagi sekadar agenda organisasi, melainkan pertarungan kepentingan yang akan menentukan apakah KNPI tetap punya marwah perjuangan atau justru berubah menjadi panggung dagang kekuasaan.

"Pemburu Korup"