Sakit Itu Mahal”: Dinkes Malra Bongkar Krisis Pelayanan Kesehatan, dari Dokter Minim hingga Pustu Rusak Parah
“Sakit Itu Mahal”: Dinkes Malra Bongkar Krisis Pelayanan Kesehatan, dari Dokter Minim hingga Pustu Rusak Parah
Langgur Tribunnusantara-web.id — Di balik klaim keberhasilan penurunan stunting dan program kesehatan gratis, Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara akhirnya buka suara soal wajah asli pelayanan kesehatan di daerah kepulauan itu: kekurangan dokter, fasilitas rusak, akses sulit, hingga keluhan masyarakat yang terus menumpuk.
Fakta itu terungkap dalam dialog interaktif “Maluku Tenggara Menyapa” yang disiarkan langsung Pro 1 RRI Tual, Rabu (20/5/2026), menghadirkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara, Muhsin Rahayaan, sebagai narasumber.
Dalam dialog yang dipandu host Maya Pranira tersebut, Muhsin Rahayaan secara terbuka mengakui sektor kesehatan Maluku Tenggara masih menghadapi persoalan serius yang selama ini dirasakan langsung masyarakat.
“Kami akui masih banyak kekurangan. Pelayanan kesehatan belum sepenuhnya memenuhi harapan masyarakat,” ungkapnya.
Meski demikian, Dinkes Malra mengklaim sejumlah program prioritas pemerintah mulai menunjukkan hasil signifikan. Salah satunya penurunan angka stunting yang sebelumnya berada di kisaran 32 persen kini turun drastis menjadi 12,07 persen per Mei 2026, bahkan berada di bawah target nasional.
Namun capaian itu belum mampu menutupi berbagai persoalan mendasar di lapangan.
Dokter Kurang, Puskesmas Belum Ideal
Muhsin mengungkapkan, dari 21 Puskesmas yang tersebar di Maluku Tenggara, masih ada tiga Puskesmas tanpa dokter. Kondisi lebih memprihatinkan terjadi pada pelayanan kesehatan gigi.
“Hanya dua Puskesmas yang punya dokter gigi. Sisanya belum ada,” katanya.
Tak hanya itu, standar tenaga kesehatan sesuai regulasi Kementerian Kesehatan juga disebut belum terpenuhi hampir di seluruh Puskesmas.
Krisis tenaga medis ini paling terasa di wilayah Kei Besar dan daerah kepulauan terpencil yang sulit dijangkau.
“Banyak tenaga kesehatan minta pindah ke wilayah kota. Ini menjadi tantangan besar pemerataan pelayanan,” ujarnya.
28 Pustu Rusak, Pelayanan Terseok di Wilayah Kepulauan
Masalah lain yang ikut disorot adalah rusaknya fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Dari total 34 Puskesmas Pembantu (Pustu), hanya enam yang dinyatakan dalam kondisi baik.
Sisanya mengalami kerusakan sedang hingga berat.
Kondisi tersebut membuat pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah terpencil berjalan tertatih-tatih, terutama di Pulau Kei Besar yang memiliki medan sulit dan keterbatasan transportasi.
Bahkan masyarakat dalam sesi dialog meminta pemerintah menyediakan speed boat khusus kesehatan untuk menangani pasien gawat darurat di wilayah kepulauan.
Muhsin mengakui sebagian armada pelayanan laut memang sudah rusak dan membutuhkan perbaikan segera.
Rumah Sakit Karel Disorot: Air Bermasalah hingga Kucing Berkeliaran
Dalam dialog interaktif itu, masyarakat juga melontarkan kritik tajam terhadap pelayanan RSUD Karel Sadsuitubun Langgur.
Keluhan mulai dari antrean panjang dokter spesialis, keterbatasan layanan, air bersih yang sering bermasalah, hingga keberadaan hewan liar seperti kucing di area rumah sakit ikut mencuat ke publik.
“Kami akan benahi. Ini menjadi catatan serius bagi kami,” kata Muhsin menanggapi kritik warga.
Ia menjelaskan, RSUD Karel saat ini sedang dipersiapkan menjadi rumah sakit pengampu layanan kanker, jantung, stroke, dan urologi di Maluku Tenggara.
Sejumlah fasilitas seperti CT Scan dan ruang Cath Lab jantung mulai dibangun, sementara dokter spesialis juga tengah disiapkan melalui program pendidikan.
Penyakit Tidak Menular Meningkat
Dinkes Malra juga mengungkap ancaman baru di sektor kesehatan. Jika sebelumnya fokus utama berada pada penyakit menular seperti TBC dan HIV/AIDS, kini penyakit tidak menular justru meningkat tajam.
Kasus stroke, jantung, hipertensi, diabetes, hingga kanker disebut terus mengalami kenaikan, bahkan sudah menjangkau masyarakat pedesaan.
Karena itu pemerintah mulai mengubah pola pelayanan kesehatan dari pendekatan pengobatan menjadi pencegahan.
“Paradigmanya sekarang berubah. Jangan tunggu sakit baru datang ke rumah sakit. Sakit itu mahal,” tegas Muhsin.
Cek Kesehatan Gratis Tertinggi di Maluku
Di tengah berbagai keterbatasan, Maluku Tenggara disebut menjadi daerah dengan capaian tertinggi program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Provinsi Maluku.
Dari total sekitar 129 ribu penduduk, lebih dari 29 ribu warga telah mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis atau mencapai sekitar 32 persen.
Program tersebut dilakukan melalui pelayanan di Puskesmas hingga sistem jemput bola ke desa-desa.
Dialog itu pun menjadi potret nyata bahwa sektor kesehatan di Maluku Tenggara masih berada di persimpangan: antara capaian program pemerintah dan kerasnya tantangan pelayanan di lapangan.
Masyarakat kini menanti, apakah berbagai janji pembenahan benar-benar diwujudkan atau hanya berhenti sebagai bahan diskusi di ruang siaran radio.
Editor : Bruce Elang








































Komentar via Facebook