Tidak Bisa Hanya Bicara”: DPRK Mimika Soroti Kegagalan Penanganan Konflik Kwamki Narama
“Tidak Bisa Hanya Bicara”: DPRK Mimika Soroti Kegagalan Penanganan Konflik Kwamki Narama
MIMIKA, Tribunnusantara-web.id Wakil Ketua Komisi III DPRK Mimika, Adolof Omaleng, menilai penanganan konflik di Kwamki Narama selama ini masih terlalu lemah, normatif, dan tidak menyentuh akar masalah.
Ia menegaskan, konflik tidak akan selesai hanya dengan “bahasa” dan imbauan damai yang berulang tanpa hasil nyata.
Solusi Terukur Masih Sekadar Wacana
Menurutnya, penyelesaian konflik harus berbasis solusi terukur, mulai dari pemetaan akar masalah, target waktu penyelesaian, hingga koordinasi lintas sektor yang jelas. Namun hingga kini, semua itu belum berjalan efektif di lapangan.
Damai Butuh Biaya, Tapi Tak Punya Skema Jelas
Ia juga menyoroti fakta bahwa perdamaian di Mimika tidak lepas dari mekanisme adat seperti denda adat dan ritual patah panah, yang membutuhkan biaya besar.
Namun, hingga kini belum ada skema anggaran yang jelas dan terstruktur untuk mendukung proses tersebut, sehingga perdamaian kerap tidak tuntas.
Tim Dibentuk, Tapi Perlu Dukungan Nyata
Pembentukan Tim Keamanan DPRK dinilai langkah awal yang baik, tetapi tanpa dukungan anggaran dan kewenangan yang kuat, tim tersebut berpotensi tidak efektif.
Inti Masalah: Tanpa Anggaran, Konflik Akan Berulang
Adolof Omaleng menegaskan perlunya keberanian politik Pemda dan DPRK untuk mengalokasikan anggaran khusus perdamaian berbasis adat.
Tanpa itu, setiap upaya damai hanya akan berhenti di seremoni, sementara konflik terus berulang.
"Elang Kei"








































Komentar via Facebook