Uang Daerah Jangan Cuma Tidur Manis di Bank, Rakyat Mimika Butuh Kerja Nyata Bukan Alasan Berulang”

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 30 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Uang Daerah Jangan Cuma Tidur Manis di Bank, Rakyat Mimika Butuh Kerja Nyata Bukan Alasan Berulang”

“Uang Daerah Jangan Cuma Tidur Manis di Bank, Rakyat Mimika Butuh Kerja Nyata Bukan Alasan Berulang”

MIMIKA, Tribunnusantara-web.id – Kesabaran masyarakat Mimika mulai berada di titik kritis. Hingga memasuki pertengahan tahun anggaran 2026, realisasi berbagai program pembangunan masih berjalan lamban, sementara alasan yang disampaikan pemerintah daerah terdengar sama dari tahun ke tahun: revisi harga satuan, penyesuaian administrasi, hingga persoalan teknis birokrasi.

Di mata publik, alasan-alasan tersebut kini tidak lagi terdengar sebagai penjelasan, melainkan telah berubah menjadi dalih yang terus diputar setiap kali masyarakat mempertanyakan mandeknya pembangunan.

Yang lebih menyakitkan, ketika proyek-proyek belum bergerak dan roda ekonomi daerah tersendat, yang justru tampak aktif hanyalah rapat, seremoni, dan agenda formalitas yang minim dampak langsung bagi masyarakat.30/05/2026

“Rakyat tidak hidup dari berita rapat. Rakyat butuh bukti kerja. Kalau setiap tahun alasannya sama, lalu kapan pembangunan benar-benar berjalan?” ungkap seorang warga.

Sorotan tajam juga mengarah pada pengelolaan anggaran daerah. Banyak pihak mempertanyakan mengapa dana pemerintah seolah lebih nyaman mengendap di perbankan dibanding segera dibelanjakan untuk pembangunan yang dapat menggerakkan ekonomi masyarakat.

“Jangan sampai uang rakyat lebih sibuk menghasilkan bunga di bank daripada menghasilkan kesejahteraan di lapangan,” ujar sumber yang enggan disebutkan namanya.

Kondisi ini semakin memantik kemarahan publik karena masih terdapat lebih dari 150 kontraktor yang disebut belum menerima pembayaran pekerjaan fisik tahun 2025, meski pekerjaan mereka diklaim telah rampung seratus persen.

Pertanyaan yang kini bergema di tengah masyarakat pun semakin keras:

Jika pekerjaan sudah selesai dan hasilnya sudah dinikmati pemerintah, lalu ke mana sebenarnya anggaran tahun 2025 itu dialokasikan?

Publik menilai alasan menunggu perubahan anggaran semakin sulit diterima. Sebab kalender tidak pernah berhenti berjalan. Saat ini Mimika sudah berada di penghujung Mei 2026 dan mendekati pertengahan tahun anggaran.

Jika memang persoalannya hanya soal penyesuaian harga satuan, masyarakat menilai hal tersebut semestinya sudah dibereskan sejak awal tahun agar program pembangunan tidak tersandera birokrasi yang berlarut-larut.

Lebih jauh, masyarakat juga menyoroti budaya birokrasi yang dinilai terlalu banyak berdiskusi namun minim eksekusi. Terlalu banyak pihak yang saling melempar tanggung jawab dan terlalu sedikit yang berani mengambil keputusan.

“Jangan sampai pemerintah sibuk mencari alasan sementara rakyat sibuk menanggung akibatnya,” tegas sumber.

Harapan kini tertuju kepada Bupati Mimika Johannes Rettob dan Wakil Bupati Imanuel Kemong untuk segera menunjukkan kepemimpinan yang tegas dan terukur. Publik menunggu langkah nyata, bukan sekadar narasi optimisme atau pencitraan politik.

Karena yang dibutuhkan masyarakat hari ini bukan janji baru, melainkan pembayaran tunggakan kontraktor, percepatan realisasi anggaran, dan dimulainya proyek-proyek pembangunan yang mampu menggerakkan ekonomi daerah.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang bertambah bukan hanya saldo rekening pemerintah di bank, tetapi juga kemarahan dan kekecewaan rakyat yang semakin menumpuk dari hari ke hari.

Editor: Bruce ElangVersi ini lebih tajam dan kritis, tetapi tetap berada dalam koridor opini publik dan pengawasan terhadap kinerja pemerintah tanpa membuat tuduhan faktual yang belum terbukti.