35 Pelaku Ekraf Fakfak Digembleng Literasi Digital, RUNGKRAF Jadi Pintu Masuk Pasar Lebih Luas

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 01 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

35 Pelaku Ekraf Fakfak Digembleng Literasi Digital, RUNGKRAF Jadi Pintu Masuk Pasar Lebih Luas

Fakfak, TribunNusantara.web.id | Era digital membuka peluang besar bagi pelaku ekonomi kreatif (ekraf) untuk menembus pasar yang lebih luas. Namun, peluang itu membutuhkan satu hal mendasar: data yang kuat dan kemampuan memanfaatkan teknologi.

Pemerintah Provinsi Papua Barat melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menjawab tantangan tersebut dengan menggelar Sosialisasi Aplikasi Data Ruang Kreatif (RUNGKRAF) bagi pelaku ekonomi kreatif di Kabupaten Fakfak.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 1–2 September 2026, di Hotel Grand Papua, Ruang Arguni, itu melibatkan 35 pelaku ekraf yang bergerak pada 17 subsektor ekonomi kreatif.

Kegiatan resmi dibuka Selasa (1/9) pukul 09.00 WIT oleh Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Fakfak, Saoda Kasriani, S.STP., M.M., yang mewakili Kepala Dinas.

Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua Barat, Martalita Ullo, S.H., M.Si., mengatakan pendataan melalui RUNGKRAF bukan sekadar kegiatan administratif.

Menurut dia, data tersebut akan menjadi fondasi penting untuk membaca potensi sekaligus menentukan arah pengembangan ekonomi kreatif di Fakfak.

"Pendataan ini bertujuan untuk mendata pelaku usaha kreatif berdasarkan 17 subsektor. Data ini diharapkan menjadi basis kekuatan kebangkitan ekonomi kreatif di Fakfak ke depan," kata Martalita.

Ia juga menegaskan bahwa ekonomi kreatif tidak dapat disamakan begitu saja dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

"Ekraf dan UMKM tidak sama. Ekraf berbasis ide yang sifatnya pada peningkatan inovasi dan nilai tambah berbasis digital. Sementara UMKM fokus pada skala usaha," jelasnya.

Perbedaan itu penting. Sebab, kekuatan ekraf tidak hanya terletak pada produk yang dihasilkan, tetapi juga pada gagasan, kreativitas, inovasi, serta kemampuan mengubahnya menjadi produk bernilai ekonomi.

Dalam sambutan tertulis Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Fakfak, pemerintah daerah menegaskan komitmennya mendorong peningkatan pendapatan masyarakat melalui pengembangan ekonomi kreatif.

Produk ekraf dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi sumber pendapatan baru. Namun, potensi tersebut masih menghadapi tantangan, terutama dalam persaingan dan perluasan jejaring pemasaran.

"Kegiatan ini merupakan komitmen pemerintah dalam meningkatkan standar pendapatan masyarakat. Produk ekonomi kreatif merupakan salah satu potensi yang menjanjikan, tetapi seiring waktu terkendala pada persaingan jejaring pemasaran," demikian disampaikan dalam sambutan tersebut.

Karena itu, pemerintah mendorong pelaku ekraf tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk. Mereka juga dituntut mampu membaca perubahan pasar dan memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana promosi maupun pemasaran.

Salah satu langkah yang didorong ialah inventarisasi pelaku ekonomi kreatif secara digital melalui aplikasi RUNGKRAF.

"Oleh karena itu perlu dilaksanakan sosialisasi dan inventarisasi pelaku ekonomi kreatif secara digital pada aplikasi Ruang Ekonomi Kreatif. Harapannya dapat memperluas jejaring pemasaran secara digital dan legal," lanjutnya.

RUNGKRAF diharapkan tidak berhenti sebagai basis data. Sistem tersebut diproyeksikan menjadi salah satu instrumen pemerintah dalam memetakan potensi pelaku ekraf secara lebih akurat, terintegrasi, dan terukur.

Dengan data yang lebih valid, pemerintah akan memiliki pijakan yang lebih kuat dalam menyusun program pembinaan, membuka akses pembiayaan, hingga mendorong promosi produk ekraf ke pasar yang lebih luas.

Pendataan juga menjadi penting karena karakter pelaku ekraf sangat beragam. Mulai dari kuliner, fesyen, kriya, fotografi, musik hingga subsektor berbasis teknologi digital.

Sebanyak 17 subsektor yang menjadi sasaran pendataan di Fakfak meliputi aplikasi, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fesyen, film animasi dan video, fotografi, kuliner, kriya, musik, penerbitan, periklanan, pengembang permainan (game), seni pertunjukan, seni rupa, serta televisi dan radio.

Di tengah percepatan digitalisasi, langkah tersebut menjadi penting bagi Fakfak. Produk lokal tidak lagi harus bergantung pada pasar konvensional. Dengan penguatan kapasitas digital dan basis data yang baik, produk kreatif dari Fakfak memiliki peluang diperkenalkan hingga keluar daerah.

Sosialisasi RUNGKRAF sekaligus menjadi sinyal bahwa pembangunan ekonomi kreatif membutuhkan pendekatan baru: bukan hanya menghasilkan produk, tetapi juga memastikan produk tersebut memiliki identitas, nilai tambah, legalitas, serta mampu menemukan pasarnya.

Bagi 35 pelaku ekraf yang mengikuti kegiatan tersebut, dua hari pelatihan bukan sekadar belajar menggunakan aplikasi. Lebih jauh, mereka sedang didorong masuk ke ekosistem ekonomi kreatif yang semakin bergantung pada data, teknologi, inovasi, dan jaringan pasar.

Jika dikelola secara konsisten, RUNGKRAF dapat menjadi salah satu pintu penting untuk membawa kreativitas masyarakat Fakfak dari ruang lokal menuju pasar yang lebih luas.
 

Writter : ASAH | Editor : Den