Abdul Hasyim Nahkodai Imigrasi Tual: Estafet Kepemimpinan untuk Pelayanan yang Lebih Tajam

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 23 Maret 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Abdul Hasyim Nahkodai Imigrasi Tual: Estafet Kepemimpinan untuk Pelayanan yang Lebih Tajam

Tual, TribunNusantara.web.id | Pergantian pucuk pimpinan di Kantor Imigrasi Kelas II TPI Tual berlangsung senyap namun sarat makna. Senin pagi, 9 Maret 2026, di Aula Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Maluku, tongkat komando resmi berpindah dari Fadila Yudha Waskita Ginting kepada Abdul Hasyim.

Fadila, yang sebelumnya menjalankan peran sebagai Pelaksana Harian (Plh.), menyerahkan tanggung jawab itu kepada Abdul Hasyim yang kini ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Kantor. Pergantian ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan bagian dari ritme organisasi yang menjaga denyut pelayanan publik tetap stabil.

Di tengah tuntutan masyarakat yang kian kompleks, kepemimpinan baru diharapkan membawa energi segar. Abdul Hasyim memikul ekspektasi untuk menguatkan kinerja internal sekaligus memperhalus wajah layanan imigrasi—lebih cepat, transparan, dan berintegritas.

Momentum ini juga mencerminkan upaya berkelanjutan Direktorat Jenderal Imigrasi dalam merawat kesinambungan fungsi keimigrasian. Tak hanya urusan paspor dan izin tinggal, tetapi juga pengawasan yang menjadi garis depan dalam menjaga kedaulatan negara.

Sejumlah pejabat yang hadir menekankan pentingnya soliditas antarpegawai. Sinergi, kata mereka, bukan jargon, melainkan prasyarat agar pelayanan publik tak tersendat dan pengawasan tetap tajam. Dalam konteks wilayah kepulauan seperti Tual, tantangan itu menjadi berlipat: geografis yang terpencar dan mobilitas lintas batas yang dinamis.

Pergantian ini sekaligus menjadi penegasan bahwa stabilitas organisasi adalah fondasi utama. Di atas fondasi itulah, kualitas pelayanan dibangun—perlahan, tapi pasti.

Kini, di tangan Abdul Hasyim, arah pelayaran Kantor Imigrasi Tual diuji: apakah mampu melampaui sekadar rutinitas birokrasi dan menjelma menjadi institusi yang benar-benar hadir bagi masyarakat. Waktu yang akan menjawab, namun harapan telah lebih dulu ditambatkan.