Abu Janda Bantah Diusir dari “Rakyat Bersuara”, Sebut Video Viral Dipotong dan Perdebatan Berlanjut
Jakarta, TribunNusantara.web.id | Pegiat media sosial Permadi Arya atau Abu Janda memberikan klarifikasi atas video viral yang menampilkan dirinya terlibat perdebatan panas dalam acara *Rakyat Bersuara* yang dipandu Aiman Witjaksono. Ia menilai potongan video yang beredar di media sosial tidak merepresentasikan keseluruhan peristiwa di studio.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui akun Instagram resminya, Abu Janda menyebut video tersebut hanya menampilkan momen ketika Aiman meninggikan suara, tanpa memperlihatkan kelanjutan diskusi.
“Video saya diusir keluar diviralkan dipotong cuma sampai Bang Aiman teriak-teriak. Padahal setelah itu kita duduk lagi, dan Bang Aiman persilakan saya bicara lagi,” ujarnya, Jumat, 13 Maret 2026.
Menurut dia, setelah suasana mereda, diskusi kembali berlangsung dan dirinya diberi kesempatan melanjutkan argumen. Ia mengaku tengah berupaya meluruskan informasi yang dianggap keliru, khususnya terkait klaim bahwa Indonesia memiliki utang kepada Palestina.
Abu Janda menilai klaim tersebut tidak berdasar secara historis. Ia berargumen bahwa pada saat Indonesia merdeka pada 1945, negara Palestina belum terbentuk secara resmi.
“Saya lanjut meluruskan hoaks ‘Indonesia berhutang pada Palestina’. Itu hoaks karena saat Indonesia merdeka tidak ada negara Palestina. Ini fakta,” katanya.
Perdebatan di studio, kata dia, juga berlanjut dengan peserta lain, Muhammad Husein, yang memiliki pandangan berbeda terkait konflik Israel-Palestina. Abu Janda menegaskan bahwa sejumlah pernyataan yang disampaikan lawan debatnya bersifat opini, bukan fakta.
Di sisi lain, ia mengungkapkan alasan di balik sikapnya yang sempat meninggi dalam forum tersebut. Menurut dia, reaksi tersebut muncul sebagai respons terhadap sejumlah pernyataan yang dinilainya tidak logis.
Ia menyinggung pandangan Ikrar Nusa Bhakti, mantan Duta Besar RI untuk Tunisia, yang menyatakan agar publik tidak menganggap Amerika Serikat sebagai negara yang baik. Abu Janda menilai pernyataan itu terlalu subjektif.
“Tidak ada negara yang sepenuhnya baik. Penilaian itu sangat tergantung sudut pandang,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menanggapi pernyataan pakar hukum tata negara Feri Amsari yang menyebut Indonesia memiliki utang kepada Palestina. Abu Janda kembali menegaskan bahwa klaim tersebut tidak memiliki dasar historis yang kuat.
Perdebatan dalam acara tersebut mencerminkan tajamnya perbedaan pandangan publik terkait isu geopolitik, khususnya konflik Israel-Palestina dan posisi Indonesia di dalamnya. Namun, polemik yang muncul juga memperlihatkan bagaimana potongan informasi di media sosial dapat membentuk persepsi yang tidak utuh terhadap sebuah peristiwa.








































Komentar via Facebook