AKSES KRITIS DI UJUNG TANDUK: JALAN BANTI–TEMBAGAPURA TERANCAM PUTUS, RIBUAN WARGA DI AMBANG ISOLASI

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 26 April 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

AKSES KRITIS DI UJUNG TANDUK: JALAN BANTI–TEMBAGAPURA TERANCAM PUTUS, RIBUAN WARGA DI AMBANG ISOLASI

AKSES KRITIS DI UJUNG TANDUK: JALAN BANTI–TEMBAGAPURA TERANCAM PUTUS, RIBUAN WARGA DI AMBANG ISOLASI

TIMIKA, Tribunnusantara-web.id Ancaman serius membayangi Distrik Tembagapura. Satu-satunya akses darat yang menghubungkan wilayah Banti dengan Tembagapura kini berada di ambang kerusakan total akibat pergeseran tanah yang terus meluas.26/04/2026

Di sepanjang bantaran Sungai Agawogom—yang dikenal warga sebagai Kali Kabur—tanah mulai terbelah. Retakan besar muncul di kawasan permukiman Wanegogom, Pertanian, hingga Kimbeli.              

Bukan sekadar retakan biasa, pergeseran ini telah merambat ke bawah rumah warga, menggoyahkan pondasi, dan membuka kemungkinan runtuh sewaktu-waktu.

Situasi di lapangan menunjukkan satu hal: ini bukan lagi potensi bencana, melainkan krisis yang sedang berlangsung.

Jalan Banti–Tembagapura bukan sekadar jalur penghubung. Ia adalah urat nadi kehidupan.                

Dari jalan inilah distribusi logistik, akses layanan kesehatan, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat bergantung sepenuhnya.

“Kalau jalan ini putus, kami tidak hanya terisolasi—kami lumpuh total,” tegas Dianus Omaleng, perwakilan intelektual Waa Banti.

Pernyataan itu bukan alarm kosong. Di wilayah dengan akses terbatas seperti Banti, terputusnya satu jalur berarti terhentinya seluruh sistem pendukung kehidupan masyarakat.

Warga kini hidup dalam bayang-bayang dua ancaman sekaligus: kehilangan tempat tinggal dan terputus dari dunia luar.

Desakan pun menguat. Masyarakat meminta langkah cepat, bukan kajian berlarut.

Kepada Pemerintah Kabupaten Mimika, warga menuntut kehadiran segera tim teknis di lokasi, penanganan darurat, serta perlindungan bagi keluarga yang rumahnya sudah tidak layak huni.

Sementara itu, PT Freeport Indonesia didorong untuk mengambil peran aktif dalam memperkuat infrastruktur kritis, termasuk penanganan bantaran sungai yang terus tergerus.

Waktu menjadi faktor penentu. Tanpa intervensi cepat dan terkoordinasi, kerusakan yang kini terjadi berpotensi memutus akses vital dan memicu krisis kemanusiaan di wilayah Banti.

Di tengah tanah yang terus bergerak, satu hal menjadi jelas: jika respons terlambat, konsekuensinya tidak akan kecil.

"Elang"