Ambon Bersejarah: Jadi Tuan Rumah Forum Nasional Dekan Syariah-Hukum, Lahirkan Konsep "Kurikulum Cinta"

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 28 April 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Ambon Bersejarah: Jadi Tuan Rumah Forum Nasional Dekan Syariah-Hukum, Lahirkan Konsep

Ambon,Tribun-nusantara.web.id. Sekali lagi, Kota Ambon menunjukkan kapasitasnya sebagai pusat pertemuan nasional. Sebanyak 67 perwakilan dari seluruh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia berkumpul dalam Rapat Nasional Forum Dekan Fakultas Syariah dan Hukum, yang berlangsung megah di Ballroom Hotel Santika Premiere, Senin (27/4/2026).

Bukan sekadar acara biasa, momen ini menjadi tonggak sejarah bagi UIN M.S. Sengaji Ambon. Sebab, ini adalah pertama kalinya kampus tersebut dipercaya menjadi penyelenggara sejak resmi bertransformasi dari IAIN menjadi UIN. Forum yang mempertemukan pemimpin akademik dari Sabang sampai Merauke ini pun berjalan penuh makna.

Ketua Panitia, Syah Awalauddin Uar, mengungkapkan rasa syukur atas tingginya antusiasme peserta. “Alhamdulillah, luar biasa. Padahal situasi saat ini diwarnai efisiensi anggaran dan biaya perjalanan yang tidak murah, tapi semangat untuk hadir di Ambon tidak surut sedikit pun,” ujarnya.

Bahkan, jumlah peserta terus bertambah hingga hari pelaksanaan, dengan kedatangan rombongan tambahan yang datang melalui berbagai jadwal penerbangan. Hal ini membuktikan bahwa forum ini memiliki bobot strategis dan menjadi rujukan penting bagi kemajuan pendidikan tinggi keislaman di tanah air.

Dalam diskusi intensif yang berlangsung, sejumlah isu krusial digali secara mendalam. Salah satu terobosan paling menarik perhatian adalah pengembangan konsep “Kurikulum Cinta”. Inovasi ini dirancang untuk menyatukan ajaran syariah dan ilmu hukum dengan nilai-nilai kemanusiaan, rasa kebangsaan, serta kepedulian terhadap lingkungan hidup.

“Selama ini hukum sering dipandang kaku, hitam-putih, dan hanya berlandaskan aturan semata. Lewat konsep ini, kami ingin membuktikan bahwa hukum dan syariah juga punya hati. Tantangannya adalah bagaimana mengintegrasikan nilai luhur itu secara proporsional dalam setiap materi pembelajaran,” jelas Syah.

Selain soal kurikulum dan penyesuaian nama program studi, forum juga menyoroti isu perlindungan perempuan dan anak. Hadirnya narasumber dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak memperkuat kesepahaman bersama, bahwa perguruan tinggi memiliki peran vital dalam mencegah kekerasan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ke depannya, forum ini direncanakan akan digelar dua kali dalam setahun untuk mempercepat pertukaran ide dan inovasi. Namun, penentuan lokasi penyelenggaraan berikutnya masih dibahas dengan cermat, mengingat kendala keterbatasan anggaran yang dihadapi oleh sejumlah kampus di daerah.

Di sisi lain, penyelenggaraan di Ambon juga berhasil mempromosikan identitas daerah. Para peserta disambut dengan keramahan khas masyarakat Maluku, yang didukung penuh oleh Pemerintah Kota Ambon. Hal ini membuktikan bahwa Ambon bukan hanya kota yang aman dan kondusif, tetapi juga terbuka untuk menjalin kerja sama dan persaudaraan dengan seluruh elemen bangsa.

Rangkaian kegiatan ini akan resmi berakhir pada Rabu (29/4/2026). Seluruh peserta diharapkan pulang membawa semangat baru, keputusan strategis, dan gagasan segar yang nantinya diterapkan di kampus masing-masing, demi kemajuan pendidikan hukum dan syariah yang lebih inklusif dan berkeadilan di Indonesia.

(H.R)