Ambon di Ujung Api: Hunut Menyalakan Alarm Bahaya Maluku
Tiakur, TribunNusantara-web.id | Nama Ambon kembali mencuat, bukan karena musik atau keindahan lautnya, melainkan kabar panas dari Hunut yang membuat bulu kuduk berdiri.
Peristiwa yang sekilas tampak sepele ini sejatinya adalah alarm bahaya. Maluku pernah berdarah, dan jika hukum kembali tumpul serta aparat hanya menonton, sejarah kelam itu bisa berulang.
“Jangan tunggu darah tumpah baru aparat turun,” tegas Fredi Moses Ulemlem, S.H., M.H., pengurus DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Selasa, 19 Agustus 2025. “Kalau rasa keadilan tak ditegakkan, percikan kecil bisa meledak jadi konflik besar.”
Luka Lama yang Belum Kering
Dua dekade silam, Ambon jadi saksi salah satu tragedi paling kelam di Indonesia. Tahun 1999–2002, konflik komunal pecah: agama, suku, hingga kepentingan politik bercampur aduk.
Ribuan nyawa melayang, ratusan ribu orang mengungsi, kota dan kampung terbakar. Luka itu sampai kini belum benar-benar sembuh.
“Itu bukan film dokumenter,” kata seorang warga tua di Ambon, “itu kenyataan pahit yang kami alami.”
Hunut, Bom Waktu yang Berdetak
Insiden di Hunut memperlihatkan masih rapuhnya penegakan hukum di Maluku. Profesionalisme aparat, integritas, dan transparansi kerap dipertanyakan.
Saat publik kehilangan kepercayaan pada polisi, pilihan yang tersisa adalah main hakim sendiri. Dan di Maluku, “main hakim sendiri” bisa berubah jadi perang terbuka.
Fredi mengingatkan, mentalitas masyarakat juga harus dibenahi.
“Kalau masih maunya benar sendiri, nggak mau disalahkan, itu bensin buat api. Kita butuh kesadaran diri, evaluasi diri, biar masalah selesai tanpa darah.”
Polisi, Pemadam atau Penonton?
Situasi ini menuntut Polda Maluku bergerak cepat, profesional, dan transparan. Polisi, kata Fredi, harus jadi pemadam, bukan penonton. Prinsipnya sederhana: due process of law—proses hukum yang adil, bukan formalitas belaka.
Jika aparat lengah, api kecil di Hunut bisa membesar, merembet ke Ambon, lalu ke Maluku. Dan Maluku, jika kembali berdarah, bisa jadi penyesalan besar bagi Indonesia.
Hunut bukan sekadar peristiwa lokal. Ia alarm keras yang menggema jauh melampaui batas kampung kecil di Ambon. Pertanyaannya tinggal satu: maukah kita belajar dari masa lalu, atau membiarkan sejarah berdarah itu kembali terulang?
Writter : Karel








































Komentar via Facebook