Ambon Menuju Kota Tangguh Bencana: Wali Kota Bodewin Wattimena Resmikan Tugu Tsunami dan Sistem Peringatan Dini Banjir

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 05 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Ambon Menuju Kota Tangguh Bencana: Wali Kota Bodewin Wattimena Resmikan Tugu Tsunami dan Sistem Peringatan Dini Banjir

AMBON,Tribun-nusantara.web.id. Pemerintah Kota Ambon terus bergerak cepat dalam memperkuat benteng pertahanan wilayahnya dari ancaman bencana alam. Pada Sabtu (5/9/2026), Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, meresmikan Tugu Peringatan Tsunami 1950 yang berlokasi di depan Balai Negeri Hatiwe Kecil, sekaligus memperkenalkan instalasi deteksi banjir modern di Jembatan Satu Rupiah.

Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk kolaborasi global dan lokal demi memastikan keselamatan jiwa warga Kota Ambon melalui mitigasi yang berbasis teknologi dan sejarah.

Deteksi Dini Banjir Jembatan Satu Rupiah: Sistem Empat Warna

Dalam wawancaranya, Wali Kota Bodewin Wattimena menjelaskan bahwa instalasi baru yang dipasang di Jembatan Satu Rupiah dirancang khusus untuk memantau pergerakan pemukaan air secara real-time. Sistem ini menggunakan indikator empat warna sebagai panduan bagi masyarakat:

Hijau dan Kuning: Menunjukkan kondisi air permukaan yang masih dalam batas aman dan pemantauan normal. 

Orange (Oranye): Menandakan status Siaga. Masyarakat diwajibkan mulai waspada terhadap potensi luapan air.

Merah: Menandakan status Awas/Bahaya. Pada tahap ini, warga harus segera mengambil langkah-langkah penyelamatan diri."Jika indikator menyentuh warna orange, kita harus siap siaga. Begitu menyentuh warna merah, tidak ada pilihan lain selain langsung mengambil langkah-langkah penyelamatan," tegas Bodewin.

Merawat Ingatan Kolektif Lewat Tugu Tsunami 1950

Selain deteksi banjir, Pemkot Ambon bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga meresmikan Tugu Tsunami untuk mengenang peristiwa kelam tsunami yang menerjang Kota Ambon pada tahun 1950 silam. Tugu ini difokuskan sebagai penanda sejarah bagi masyarakat di Desa Galala dan Hatiwe Kecil.

Bodewin menekankan bahwa tugu ini bukan sekadar monumen pajangan, melainkan alat perawat ingatan kolektif agar generasi hari ini tidak abai terhadap potensi bencana.

"Tugu ini menjadi pengingat bahwa tsunami pernah ada dan terjadi di sini. Tujuannya untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan kita semua agar ke depan bisa lebih berhati-hati," ujarnya.

Kolaborasi Multinasional Menuju Tsunami Ready

Upaya pembangunan sistem keselamatan ini didukung penuh oleh peta jalur evakuasi dan program Tsunami Ready yang pemetaannya telah diinisiasi sejak dua tahun lalu. Keberhasilan ini merupakan buah manis dari kolaborasi lintas sektor dan akademisi internasional, di antaranya:

-Institut Teknologi Bandung (ITB)

-Kyoto University (Jepang)Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh

-Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon

Di akhir wawancara, Wali Kota Bodewin Wattimena menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh mitra yang terlibat. Ia juga mengetuk hati masyarakat untuk ikut peduli menjaga fasilitas mitigasi yang telah dibangun.

"Semua investasi teknologi dan kolaborasi ini ujung-ujungnya adalah demi keselamatan jiwa masyarakat itu sendiri. Kami berharap program seperti ini terus berlanjut agar Ambon benar-benar tumbuh menjadi kota yang tangguh terhadap bencana," pungkasnya.

(H.R)