Api di Danar dan Luka yang Terlambat Dilihat
Langgur, TribunNusantara.web.id | Asap yang membubung dari rumah-rumah terbakar di Danar memang menyayat mata. Foto-fotonya beredar cepat, menggetarkan lini masa, memancing amarah dan simpati dalam waktu bersamaan. Kayu yang hangus dan atap yang runtuh menjadi simbol yang mudah dipahami: telah terjadi kehancuran.
Namun sebelum api menjilat dinding-dinding itu, ada sesuatu yang lebih dulu runtuh tubuh manusia.
Di lorong-lorong kampung yang tak tersorot kamera, jeritan lebih dulu pecah. Ada yang tersungkur karena sabetan senjata tajam. Ada yang berlari sambil menahan panah yang menancap di tubuhnya. Darah lebih dulu membasahi tanah sebelum api menyala dan menjadi tontonan.
Di antara nama-nama itu, ada satu yang kini hanya bisa disebut dengan doa: Aimar Raharusun.
Ia bukan sekadar korban. Ia anak yang pernah dipanggil ibunya untuk pulang makan. Ia saudara yang pernah bercanda di beranda rumah. Ia bagian dari masa depan kecil kampung itu. Kini ia telah tiada bukan karena sakit, bukan karena usia, tetapi karena kekerasan yang meninggalkan luka-luka begitu dalam di tubuhnya. Luka yang bukan hanya merobek kulit, tetapi juga merobek hati keluarganya.
Ayahnya, Amir Rahurusun, turut menjadi korban. Bayangkan seorang ayah yang tubuhnya sendiri terluka, namun harus berdiri di hadapan kenyataan bahwa anaknya tak lagi bernapas. Tidak ada bahasa yang cukup untuk menjelaskan perasaan itu.
Selain Aimar, ada Fahmi yang turut menjadi korban pembacokan. Ada Abu Bakar Kaharasun (Iki) dan Mohamad Saleh Sedubun (Ale) yang harus dirujuk ke Ambon demi mendapatkan perawatan lebih lanjut. Ada Husin Reliubun, Irfan Ohoira, Gilang Slamat, M. Soleh Hanubun, Farhan Ngabalin, Abdul Rauf Sampara, Hidayat Rahawarin, Aditia Hanubun, Muhamin Let-let, Ahmadi Ohoiwutun, dan Muhamad DiFinubun nama-nama yang kini lebih sering disebut dalam nada cemas daripada dalam sapaan sehari-hari.
Ferdi Harubun harus menahan sakit karena panah yang melukainya. Sebagian korban mungkin akan pulih secara fisik. Tetapi trauma tidak memiliki ruang perawatan yang jelas. Ia tinggal dalam ingatan: pada suara langkah yang tiba-tiba terdengar seperti ancaman, pada malam yang tak lagi mudah dilewati dengan tidur nyenyak.
Tragedi ini bukan tentang siapa yang paling menderita. Bukan pula tentang luka siapa yang lebih layak mendapat perhatian. Rumah yang terbakar adalah duka. Tubuh yang tersayat adalah duka. Nyawa yang hilang adalah duka yang tak tergantikan.
Yang menyakitkan adalah ketika sebagian kesedihan menjadi viral, sementara sebagian lainnya tenggelam dalam sunyi.
Empati seharusnya tidak bekerja secara selektif. Ia tidak memilih berdasarkan gambar yang paling dramatis atau narasi yang paling keras. Ia hadir ketika kita mampu melihat bahwa di balik setiap konflik, selalu ada ibu yang menangis, ayah yang terpukul, anak-anak yang kebingungan memahami mengapa kampung mereka berubah menjadi medan ketakutan.
Danar hari ini membutuhkan lebih dari sekadar simpati sesaat. Ia membutuhkan keberanian kita untuk melihat peristiwa ini secara utuh bahwa sebelum api membakar rumah, ada darah yang lebih dulu tumpah. Bahwa sebelum dinding runtuh, ada keluarga yang sudah lebih dulu hancur.
Tidak ada luka yang pantas dipertandingkan. Tidak ada nyawa yang boleh dianggap lebih kecil nilainya.
Sebab pada akhirnya, yang paling harus diselamatkan dari konflik semacam ini bukan hanya bangunan yang berdiri kembali, melainkan hati manusia agar tidak ikut hangus bersama api.








































Komentar via Facebook