Api di Ohoi Danar, Negara Hadir: Dinsos Maluku Turun Tangan, Luka Konflik Mulai Dirawat
Langgur, TribunNusantara.web.id | 2 April 2026 — Asap mungkin telah lama menghilang dari langit Ohoi Danar Ternate, Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan. Namun, jejak kebakaran itu masih terasa pada puing-puing 74 rumah yang hangus, pada raut wajah 450 jiwa yang terpaksa mengungsi, dan pada satu nyawa yang tak kembali.
Konflik pecah Kamis malam, 26 Maret 2026, sekitar pukul 22.00 WIT. Bermula dari cekcok dua kelompok pemuda dari kompleks Danar Ternate dan Danar Ohoitom, bara kecil menjelma kobaran yang melalap puluhan rumah. Lima orang terluka. Satu orang meninggal dunia. Dalam hitungan jam, ketenangan kampung berubah menjadi kepanikan massal.
Empat hari berselang, 29 Maret 2026, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menjejakkan kaki di lokasi. Ia menyaksikan langsung puing-puing yang masih menyisakan bau arang. Di hadapan warga, ia menyampaikan penyesalan mendalam.
“Konflik ini mengganggu kedamaian yang selama ini kita jaga. Jangan mudah terprovokasi isu yang memecah belah,” ujarnya, menegaskan pentingnya rekonsiliasi dan saling memaafkan.
Arahan itu segera ditindaklanjuti. Dinas Sosial Provinsi Maluku bergerak cepat. Bantuan sosial mulai disalurkan makanan siap saji, makanan anak, kasur, tenda serbaguna, tenda keluarga, tenda gulung, lampu darurat, selimut, perlengkapan anak, family kit, hingga seragam sekolah untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Bahkan perlengkapan salat turut disertakan, seakan pemerintah ingin memastikan tak hanya tubuh yang terjaga, tetapi juga batin yang tetap tegak.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Maluku, Raden Affandy Z. Hassannusi, menyebut nilai total bantuan mencapai Rp361.084.490.
“Kami memastikan kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi. Ini adalah langkah awal pemulihan,” katanya.
Di lokasi pengungsian, bantuan itu disambut lega. Bagi mereka yang kehilangan rumah, kasur dan selimut bukan sekadar benda; ia menjadi simbol bahwa mereka tidak sendiri. Para orang tua menggenggam seragam sekolah dengan mata berkaca-kaca pertanda harapan agar anak-anak mereka bisa kembali belajar, kembali menatap masa depan tanpa bayang-bayang trauma.
Sementara itu, aparat TNI dan Polri terus berjaga. Situasi disebut telah terkendali dan mulai kondusif. Namun, pemulihan sosial tak cukup hanya dengan patroli dan bantuan logistik. Pemerintah daerah kini mendorong rekonsiliasi melibatkan tokoh adat dan tokoh masyarakat. Dialog demi dialog dirajut untuk mengembalikan kepercayaan yang sempat retak.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit betapa rapuhnya harmoni jika tersulut emosi sesaat. Di tanah Maluku, nilai Pela Gandong bukan sekadar warisan adat, melainkan fondasi persaudaraan yang telah berulang kali menjadi jangkar saat badai datang. Konflik Ohoi Danar adalah ujian baru apakah nilai itu masih cukup kuat menahan gelombang perpecahan.
Di antara puing dan tenda darurat, satu hal mulai tumbuh: tekad untuk bangkit. Negara telah hadir dengan bantuan. Kini, yang diuji adalah keteguhan masyarakat menjaga damai agar api serupa tak lagi menemukan ruang untuk menyala.








































Komentar via Facebook