Bahlil Buka Keran Investasi Migas Besar-Besaran, 118 Blok Potensial Siap Digarap Investor
Bahlil Buka Keran Investasi Migas Besar-Besaran, 118 Blok Potensial Siap Digarap Investor
TANGERANG Tribunnusantara-web.id — Pemerintah mulai tancap gas memburu target swasembada energi nasional. Di tengah ancaman krisis energi global dan meningkatnya kebutuhan dalam negeri, Kementerian ESDM resmi membuka peluang investasi migas besar-besaran dengan menawarkan 118 Wilayah Kerja (WK) Migas potensial kepada investor nasional maupun internasional.
Langkah agresif itu diumumkan langsung Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat membuka Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition 2026 di Tangerang, Banten, Rabu (20/5).
Dalam pidatonya, Bahlil tampil lugas dan terbuka. Ia menegaskan era “main belakang” dalam investasi migas harus ditinggalkan. Pemerintah, kata dia, membuka kesempatan seluas-luasnya bagi investor yang serius, memiliki modal kuat, teknologi, dan komitmen membangun sektor energi nasional.
“Tidak perlu nego-nego di belakang meja. Siapa saja boleh masuk. Yang penting punya teknologi, punya uang, dan punya keseriusan untuk membangun negeri ini,” tegas Bahlil disambut antusias pelaku industri migas.
Hingga Mei 2026, pemerintah telah memetakan 118 blok migas potensial yang tersebar di berbagai wilayah strategis Indonesia. Sebanyak 43 blok masih berada dalam tahap studi bersama, 50 blok memasuki tahap penawaran studi dan akuisisi data baru, sementara 25 blok sudah resmi ditandatangani kontraknya.
Dari total tersebut, delapan WK hasil lelang 2025 menjadi magnet baru sektor energi nasional, yakni Gagah, Bintuni, Karunia, Drawa, Jalu, Andaman Barat Daya, Barong, dan Nawasena.
Nilainya tidak main-main. Delapan blok itu diperkirakan menyimpan cadangan mencapai 255 juta barel minyak dan 13,79 TCF gas, dengan total komitmen investasi awal sebesar USD57,95 juta serta bonus tanda tangan USD3,15 juta.
Blok Gagah di Sumatera Selatan menjadi salah satu yang paling menjanjikan dengan potensi 173 juta barel minyak dan 1,1 TCF gas. Sementara WK Bintuni di Papua Barat diperkirakan menyimpan potensi gas sebesar 2,1 TCF.
Di kawasan timur Indonesia, WK Drawa di lepas pantai Papua Barat dan Papua Barat Daya juga mulai menarik perhatian investor global. Sedangkan Laut Andaman kembali menjadi primadona baru melalui WK Jalu dan Andaman Barat Daya yang diprediksi memiliki cadangan gas raksasa hampir 6 TCF.
Bahlil menegaskan, pemerintah kini fokus mengejar target produksi minyak nasional sebesar 900 ribu hingga 1 juta barel per hari pada 2029. Untuk mencapai target itu, eksplorasi migas harus dipercepat dan investasi tidak boleh lagi tersandera birokrasi lambat.
“Kalau investor dipersulit, kapan kita mau maju? Hulu migas itu risikonya tinggi. Jadi jangan diperlambat lagi,” katanya.
Tak hanya bicara investasi besar, Bahlil juga mengingatkan pentingnya pelibatan pengusaha lokal dalam proyek-proyek migas nasional. Ia menolak praktik lama di mana kontraktor besar hanya didominasi kelompok tertentu dari Jakarta.
“Pengusaha daerah jangan hanya jadi penonton. Mereka harus jadi tuan di negerinya sendiri selama profesional dan mampu,” ujarnya.
Langkah pemerintah membuka ratusan blok migas ini dinilai menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia tengah memasuki babak baru perburuan energi nasional. Selain meningkatkan produksi migas, investasi tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru, memperkuat penerimaan negara, dan menggerakkan ekonomi daerah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Editor : Bruce Elang








































Komentar via Facebook