Bangkit dari Dualisme, HMI Aru Gelar Konfercab IV: Menutup Konflik, Menyulam Masa Depan

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 07 April 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Bangkit dari Dualisme, HMI Aru Gelar Konfercab IV: Menutup Konflik, Menyulam Masa Depan

Kepulauan Aru, TribunNusantara.web.id |  Hampir dua tahun Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Aru berjalan terseok dalam kevakuman. Dualisme kepemimpinan yang lahir dari Konferensi Cabang 2024 membuat organisasi ini terbelah, kaderisasi tersendat, dan peran kontrol sosialnya meredup. Senin, 6 April 2026, babak baru itu resmi dibuka.

Bertempat di lantai II Gedung BPKAD Kabupaten Kepulauan Aru, Konferensi Cabang (Konfercab) IV digelar. Wakil Bupati Kepulauan Aru, Muhamad Djumpa, hadir membuka forum yang diikuti 18 peserta dari tiga komisariat. Jumlahnya tak besar, namun beban sejarah yang dipikulnya tidak ringan: menyudahi konflik dan memulihkan legitimasi organisasi.

Akar persoalan bermula dari Konfercab 2024 yang menghasilkan dua klaim kepemimpinan. Dalam dinamika tersebut, salah satu kandidat ketua umum dinilai tidak memenuhi syarat sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) HMI. Ironisnya, formatur dengan suara terbanyak justru tak memperoleh Surat Keputusan (SK) dari Pengurus Besar HMI.

Sebaliknya, SK diberikan kepada formatur lain yang kemudian dipersoalkan komisariat. Ia dianggap bukan kader yang berproses di Aru, sebab aktivitas studi dan ke-HMI-annya berlangsung di Ambon. Keputusan itu memantik gugatan resmi dari komisariat kepada PB HMI.

Argumentasi yang diajukan dinilai kuat secara prosedural. PB HMI akhirnya mengeluarkan SK pembatalan kepengurusan HMI Cabang Aru. Untuk meredam konflik dan mencegah pembusukan organisasi, ditunjuklah caretaker guna menyiapkan konferensi ulang.

Koordinator Caretaker, A. Hanafi Majid, menyebut Konfercab IV sebagai “titik balik”. Ia tak menampik bahwa konflik panjang telah menggerus energi kader.

“Ini momentum untuk kembali bersatu dan melahirkan kepemimpinan yang sah serta mampu menjawab tantangan daerah,” ujarnya.

Konflik itu, menurut sejumlah kader, bukan hanya soal perebutan legitimasi. Ia berdampak langsung pada proses kaderisasi. Regenerasi terhenti. Diskursus melemah. Bahkan, ada yang menyebutnya sebagai bentuk “pembodohan” kader yang sedang berproses karena ruang belajar dan aktualisasi tersumbat oleh pertikaian internal.

Di luar organisasi, dampaknya tak kalah terasa. Dalam dua tahun terakhir, HMI Cabang Aru nyaris tak terdengar suaranya dalam isu-isu strategis daerah. Padahal, sebagai organisasi mahasiswa tertua dan memiliki tradisi intelektual panjang, HMI kerap menjadi mitra kritis pemerintah daerah.

Wakil Bupati Muhamad Djumpa dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran mahasiswa.

“Pemerintah membutuhkan energi dan gagasan generasi muda. HMI harus hadir sebagai mitra kritis sekaligus solutif dalam mengawal pembangunan,” katanya.

Pernyataan itu seolah menjadi pengingat bahwa konflik internal bukan sekadar persoalan rumah tangga organisasi. Ia berimplikasi pada hilangnya daya tawar mahasiswa dalam ruang publik. Ketika legitimasi dipersoalkan, suara pun kehilangan bobotnya.

Seorang peserta konfercab mengaku optimistis forum kali ini akan menjadi awal kebangkitan.

“Konflik kemarin harus jadi pelajaran. Kita ingin HMI kembali hidup dan bersatu,” katanya.

Konfercab IV diharapkan melahirkan kepemimpinan yang legitimate bukan hanya sah secara administratif, tetapi juga kuat secara moral dan intelektual. Tantangan ke depan tak ringan: memulihkan kepercayaan kader, menghidupkan kembali tradisi diskusi, serta mengembalikan posisi HMI sebagai kekuatan strategis di tengah masyarakat Kepulauan Aru.

Di ujung forum ini, yang dipertaruhkan bukan sekadar nama ketua umum. Yang diuji adalah kedewasaan berorganisasi dan kemampuan menyembuhkan luka lama. Dari ruang sederhana di lantai II gedung pemerintah daerah itu, HMI Aru mencoba menyalakan kembali bara yang sempat redup bahwa setelah konflik panjang, selalu ada kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih utuh.