Benny Hutapea Soroti Barantin: Ujian Berat Abdul Kadir Karding Usai Dilantik Presiden Prabowo

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 30 April 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Benny Hutapea Soroti Barantin: Ujian Berat Abdul Kadir Karding Usai Dilantik Presiden Prabowo

Benny Hutapea Soroti Barantin: Ujian Berat Abdul Kadir Karding Usai Dilantik Presiden Prabowo

Jepara, Tribunnusantara-web.id Keputusan Prabowo Subianto kembali merombak Kabinet Merah Putih untuk kelima kalinya sejak Oktober 2024 menuai perhatian publik. Penunjukan Abdul Kadir Karding sebagai Kepala Badan Karantina Indonesia menggantikan Sahat Manaor Panggabean dinilai bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan momentum penting untuk pembenahan sektor strategis.

Sorotan tajam datang dari kalangan pelaku usaha. Benny Hutapea, Dewan Pembina Perkumpulan Petani Sarang Walet Nusantara, menilai pergantian kepemimpinan di Barantin harus menjadi titik awal perbaikan menyeluruh, khususnya dalam tata kelola komoditas sarang burung walet (SBW).

“Ini bukan hanya soal jabatan baru, tapi soal keberanian membenahi sistem yang selama ini dinilai tumpul dan tidak berpihak,” ujar Benny, Kamis (30/4/2026).

Menurutnya, persoalan utama terletak pada tumpang tindih regulasi lintas sektor yang belum terselesaikan.         Ia mendesak agar Barantin di bawah kepemimpinan Karding mampu membangun koordinasi kuat dengan kementerian terkait, seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Kementerian Pertanian, serta otoritas kepabeanan.

Benny juga menyinggung lemahnya posisi Barantin dalam menghadapi dinamika perdagangan global. “Barantin terlihat tidak berdaya menghadapi tekanan negara tujuan ekspor. Ini bukan sekadar masalah teknis, tapi juga menyangkut diplomasi,” tegasnya.

Selain itu, ia mengungkap adanya dugaan praktik monopoli yang mempersempit ruang gerak pelaku usaha. Kondisi tersebut disebut berdampak pada penurunan kinerja ekspor SBW dalam beberapa tahun terakhir, baik dari sisi volume maupun nilai.

Padahal, Indonesia merupakan pemasok utama dunia untuk komoditas ini. Sekitar 80 persen kebutuhan global sarang burung walet berasal dari dalam negeri.

Lebih jauh, Benny mengungkap dugaan maraknya ekspor ilegal SBW yang disebut mencapai sekitar 2.000 ton per tahun, dengan potensi kerugian negara hingga Rp90 triliun. Angka tersebut, jika terbukti, dinilai menjadi sinyal serius atas lemahnya pengawasan dan tata kelola sektor ini.

“Potensi devisa hilang dalam jumlah sangat besar. Ini tidak bisa dibiarkan,” ujarnya.

Bagi Benny, kepemimpinan Karding di Barantin akan menjadi ujian nyata. Ia berharap lembaga tersebut tidak hanya berfungsi administratif, tetapi juga berperan sebagai instrumen strategis dalam mendorong ekspor dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

“Kalau tidak ada gebrakan nyata, maka pergantian ini tidak akan berarti,” katanya.

Di sisi lain, para pelaku usaha dan petani sarang burung walet berharap adanya perubahan konkret. Mereka menanti langkah cepat dalam menyederhanakan birokrasi, memperkuat diplomasi dagang, serta menutup celah praktik ekspor ilegal.

Publik kini menunggu, apakah pergantian ini menjadi titik balik atau sekadar pergantian tanpa dampak berarti.

"Hani K"