Bentrokan Pecah di Langgur, Jam Malam Ditetapkan: Polisi Gerak Cepat Redam Konflik Antar-Kompleks
Langgur, TribunNusantara.web.id | Suasana Desa (Ohoi) Langgur kembali mengeras setelah bentrokan antar-kompleks pecah di kawasan Mangga Dua pada Jumat malam, 5 Desember 2025. Ketegangan yang sempat merembet ke beberapa titik lingkungan membuat aparat Polres Maluku Tenggara turun tangan melakukan langkah cepat untuk meredam eskalasi.
Sehari setelah insiden, Sabtu (06/12/2025), Polres Malra menggelar pertemuan koordinatif yang melibatkan berbagai unsur masyarakat. Di ruang itu, duduk berdampingan Kepala Ohoi Langgur, Ketua Lingkungan Petrus Kanisius Ibu Welikin, Ketua Lingkungan Dominikus Bapak Amos Ohoira, tokoh masyarakat Wearsten Peto Ohoiulun, para orang tua, serta sejumlah remaja yang diduga terlibat tawuran.
Pertemuan berlangsung intens. Nada tegas terdengar dari Kasat Reskrim Polres Malra, Iptu Barry Talabessy, S.Pd., SH., MH., yang sejak awal menaruh perhatian pada peran keluarga dalam mengawasi keseharian anak-anak mereka. Dalam penanganan konflik, katanya, akar masalah sering bermuara pada kurangnya kontrol di lingkup rumah.
“Peran orang tua sangat penting. Jangan tunggu setelah masalah membesar. Pendidikan di rumah adalah benteng pertama,” tegas Barry.
Namun penegasan itu tak berhenti pada imbauan moral. Barry juga memastikan bahwa Polres Malra akan bersikap tegas terhadap siapa pun yang terlibat dalam aksi tawuran, terutama yang membawa senjata tajam seperti parang, tombak, panah wayer, hingga senjata api rakitan.
“Siapa pun yang kedapatan membawa sajam atau senjata api rakitan saat tawuran akan kami proses sesuai hukum. Tidak ada toleransi,” ujarnya, menutup segala spekulasi tentang kemungkinan pembiaran.
Di tengah diskusi yang mengedepankan keamanan kolektif, para pemangku kepentingan akhirnya menyepakati satu langkah drastis: Desa Langgur resmi memberlakukan jam malam mulai pukul 22.00 WIT, terhitung sejak Sabtu 06 Desember 2025.
Jam malam ini bertujuan memutus potensi pergerakan kelompok pemicu keributan serta mencegah bentrokan susulan. Untuk memperkuat pengamanan, Linmas desa akan diterjunkan berdampingan dengan anggota Polres Malra, menjaga titik-titik rawan setiap malam sampai situasi benar-benar dinyatakan kondusif.
Keputusan ini disambut beragam reaksi, namun sebagian besar warga menilai kebijakan tersebut sebagai langkah realistis demi ketenangan. Setelah beberapa hari ketegangan mengambang di udara, masyarakat akhirnya melihat titik terang upaya pemulihan keamanan.
Langgur malam hari kini berbeda: lebih tenang, lebih waspada, dan lebih dipantau. Sebuah harga yang harus dibayar demi memastikan konflik tidak menjalar lebih jauh. Dalam ketegangan yang mereda perlahan itu, satu pesan utama mengemuka — bahwa keamanan bukan hanya urusan polisi, tetapi tanggung jawab seluruh warga yang menginginkan Langgur tetap damai.
(Bruce Elang)








































Komentar via Facebook