Blok Masela: DPRD Maluku Desak Kebutuhan Tenaga Kerja Dibuka Transparan, Agar Warga Tak Kalah Saing

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 05 Juni 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Blok Masela: DPRD Maluku Desak Kebutuhan Tenaga Kerja Dibuka Transparan, Agar Warga Tak Kalah Saing

AMBON, Tribun-nusantara.web.id Proyek strategis nasional Blok Masela dinilai masih tertutup soal rincian kebutuhan tenaga kerja. Anggota Komisi IV DPRD Maluku, Yan Zamora Noach, menekankan pentingnya keterbukaan informasi sejak tahap awal — agar masyarakat setempat punya waktu mempersiapkan diri dan tidak kalah bersaing dengan tenaga kerja dari luar daerah.

Menurutnya, hingga kini belum ada data resmi yang jelas mengenai jenis pekerjaan, jumlah kebutuhan, maupun standar kualifikasi yang disyaratkan operator proyek. Ketidakjelasan ini justru menghambat upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal.

“Bagaimana kita bisa bicara kesiapan kalau tidak tahu apa yang harus dipersiapkan? Informasi ini wajib disampaikan secara terbuka, supaya kita paham standar kompetensi apa yang dibutuhkan,” ujarnya saat ditemui di kantor DPRD Maluku, Kamis (4/6/2026).

Ia menegaskan sosialisasi tidak boleh dilakukan sepihak. Pihak investor dan pemerintah daerah harus duduk bersama lembaga pendidikan, balai pelatihan kerja, dan masyarakat untuk memaparkan rincian kebutuhan — mulai dari tukang las, teknisi pipa, hingga tenaga ahli lainnya.

Dengan gambaran yang jelas, program pelatihan bisa dirancang tepat sasaran. Warga pun bisa mengikuti pendidikan yang relevan dan mendapatkan sertifikat kompetensi yang diakui industri, sehingga saat lowongan dibuka mereka sudah siap bersaing.

“Sertifikat itu kuncinya. Kalau sudah tahu apa yang dibutuhkan, warga bisa memilih pelatihan yang pas. Begitu ada kesempatan, mereka langsung bisa diterima,” jelasnya.

-Sesuaikan Pelatihan dengan Tahapan Proyek

Noach juga mengingatkan bahwa kebutuhan tenaga kerja berbeda di setiap tahap: masa konstruksi memerlukan keahlian yang berbeda dengan tahap produksi nanti. Pemetaan yang rinci sejak awal akan menghindari pelatihan yang sia-sia.

“Harus dijelaskan berapa orang yang dibutuhkan saat pembangunan, kemudian saat beroperasi, dan keahlian apa saja yang dibutuhkan. Jangan sampai warga dilatih hal yang akhirnya tidak terpakai,” tegasnya.

Ia mengingatkan, tenaga kerja dari luar daerah biasanya lebih siap karena lebih mudah mengakses informasi langsung dari pengelola proyek. Jika hal ini dibiarkan, dikhawatirkan masyarakat Maluku justru menjadi penonton dan tidak merasakan manfaat ekonomi dari proyek yang berada di wilayahnya sendiri.

Terkait persentase penyerapan tenaga kerja lokal, Noach mengaku belum memperoleh data resmi. Namun DPRD akan terus mengawasi agar manfaat proyek benar-benar dirasakan warga. Mengingat angka pengangguran di Maluku yang masih tinggi, kesempatan ini diharapkan menjadi solusi — asalkan persiapan dilakukan dengan benar.

“Warga pasti butuh informasi pelatihan, tapi yang terpenting: apakah pelatihannya sesuai dengan kebutuhan nanti? Kami akan awasi terus agar Blok Masela benar-benar membuka lapangan kerja dan meningkatkan kualitas SDM Maluku,” pungkasnya.

(H.R)