Bram Rahakbauw Teguhkan Larvul Ngabal di Musda Kei Fakfak: Kepemimpinan Adalah Merangkul, Bukan Melukai
Fakfak, TribunNusantara.web.id | Musyawarah Daerah (Musda) I Kerukunan Masyarakat Kei (KMK) Kabupaten Fakfak meninggalkan jejak yang lebih dalam daripada sekadar memilih ketua organisasi. Forum itu berubah menjadi ruang pembuktian bahwa adat masih memiliki daya hidup untuk meredakan ketegangan, menyatukan perbedaan, dan mengembalikan persaudaraan di atas kepentingan pribadi.
Ketegangan yang sempat membayangi jalannya Musda akhirnya mencair setelah dua kandidat yang bersaing memilih mengakhiri kompetisi melalui jalan musyawarah. Keputusan itu disaksikan para sesepuh adat dan disambut sebagai kemenangan nilai-nilai kebersamaan, bukan kemenangan satu pihak atas pihak lain.
Di tengah suasana yang berangsur teduh, sesepuh masyarakat Kei Kabupaten Fakfak, Bram Rahakbauw, tampil menyampaikan fangnanan atau petuah adat yang menjadi penutup penuh makna. Bagi Bram, penyelesaian damai itu bukan semata hasil kompromi manusia, melainkan anugerah Tuhan yang berjalan seiring restu para leluhur.
"Kita harus mengucapkan puji syukur kepada Tuhan. Apa yang terjadi hari ini bukan karena kekuatan manusia semata, tetapi karena kehendak Tuhan dan restu leluhur," ujarnya.
Sejak pagi, kata Bram, ia mengikuti dinamika Musda dengan penuh kegelisahan. Namun kekhawatiran itu berubah menjadi rasa syukur ketika seluruh persoalan dapat diselesaikan tanpa meninggalkan luka di tengah keluarga besar masyarakat Kei.
Menurutnya, peran para tetua adat bukan menjadi bagian dari pertentangan, melainkan hadir sebagai penyejuk yang menjaga keseimbangan.
"Kami berdiri sebagai orang tua. Tugas kami bukan memihak siapa pun, tetapi mendinginkan setiap persoalan yang muncul di tengah keluarga besar."
Bram mengingatkan bahwa ujian yang sempat muncul justru menjadi cermin kedewasaan masyarakat Kei. Baginya, organisasi yang besar bukanlah organisasi yang bebas dari perbedaan pendapat, melainkan organisasi yang mampu menyelesaikan perbedaan tanpa mengorbankan persaudaraan.
Ia menilai keberhasilan Musda pertama di Fakfak layak menjadi contoh karena seluruh elemen masyarakat, termasuk para donatur dan keluarga besar Kei, mampu mengesampingkan ego demi menjaga kehormatan bersama.
"Di Fakfak kita membuktikan bahwa dengan kebersamaan dan partisipasi seluruh keluarga besar, Musda dapat berlangsung baik. Ini adalah kehormatan yang harus dijaga," katanya.
Dalam petuahnya, Bram kembali menghidupkan filosofi Larvul Ngabal, hukum adat masyarakat Kei yang menempatkan martabat manusia, keseimbangan, dan perdamaian sebagai fondasi kehidupan bersama.
Menurutnya, masyarakat sering berbicara tentang keberanian dan harga diri, tetapi melupakan bahwa adat Kei sesungguhnya mengajarkan kebijaksanaan dalam menyelesaikan setiap persoalan.
"Hari ini leluhur memperlihatkan kepada kita bahwa orang Kei adalah pencinta damai. Persatuan jauh lebih mulia daripada kemenangan yang diperoleh melalui perpecahan," ujarnya.
Puncak petuah Bram hadir melalui sebuah metafora sederhana yang langsung menyentuh seluruh peserta sidang.
"Kalau ada panas, jangan datang membawa minyak. Datanglah membawa air agar semua persoalan menjadi sejuk. Api yang disiram minyak akan semakin besar, tetapi api yang disiram air akan padam."
Kalimat itu menjadi pesan moral bagi kedua kandidat maupun seluruh pendukung mereka. Bagi Bram, seorang pemimpin tidak diuji saat memenangi kompetisi, melainkan ketika mampu merangkul mereka yang berbeda pilihan.
Karena itu, ia meminta seluruh pihak menghentikan segala bentuk saling menyerang setelah keputusan bersama diambil.
"Mulai hari ini semuanya selesai. Tidak boleh lagi ada saling mengkritik yang memecah persaudaraan. Ini bukan sekadar acara organisasi, tetapi acara adat yang dimulai dan diakhiri dengan adat."
Dalam bagian lain petuahnya, Bram juga mengingatkan pentingnya menjaga kehormatan perempuan dalam budaya Kei. Nilai itu, menurutnya, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas masyarakat Kei dan harus tetap dijunjung tinggi dalam setiap aspek kehidupan.
Menutup petuahnya, Bram mengibaratkan kepemimpinan sebagai sentuhan kapas, bukan hantaman rotan. Rotan mungkin meninggalkan rasa sakit yang cepat terasa, tetapi kelembutan akan meninggalkan kesan yang jauh lebih mendalam dan bertahan lama.
"Merusak itu sangat mudah, tetapi memperbaiki membutuhkan waktu yang panjang. Karena itu, pemimpin harus mampu merangkul, bukan melukai."
Musda I Kerukunan Masyarakat Kei Kabupaten Fakfak akhirnya tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru, tetapi juga menghadirkan pelajaran sosial yang relevan di tengah menguatnya polarisasi dalam berbagai organisasi kemasyarakatan.
Ketika kebijaksanaan para tetua, nilai adat, dan kerendahan hati para peserta dipertemukan dalam satu ruang musyawarah, potensi konflik dapat diubah menjadi energi untuk memperkuat persaudaraan.
Di situlah Musda perdana masyarakat Kei di Fakfak menemukan makna yang sesungguhnya: bukan tentang siapa yang menang, melainkan tentang bagaimana persatuan tetap menjadi warisan paling berharga bagi generasi berikutnya.
Writter & Editor : Den








































Komentar via Facebook