Bupati Maluku Tenggara Ungkap Krisis Dokter, Sentil Kondisi Puskesmas dan Minta Unair Turun Tangan

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 10 Juni 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Bupati Maluku Tenggara Ungkap Krisis Dokter, Sentil Kondisi Puskesmas dan Minta Unair Turun Tangan

Bupati Maluku Tenggara Ungkap Krisis Dokter, Sentil Kondisi Puskesmas dan Minta Unair Turun Tangan

Malra Tribunnusantara-web.id – Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun, secara terbuka mengungkap masih parahnya kekurangan tenaga kesehatan di daerahnya. Di hadapan tim Universitas Airlangga (Unair) dan Kementerian Kesehatan RI, Hanubun bahkan meminta bantuan perguruan tinggi ternama tersebut untuk ikut menjawab persoalan yang selama ini membelit sektor kesehatan di wilayah kepulauan tersebut.

"Dokter umum saja kita masih kurang tiga orang. Dokter gigi kita masih kurang 19 orang. Belum lagi dokter spesialis anestesi, penyakit dalam dan sejumlah tenaga kesehatan lainnya yang jumlahnya masih sangat terbatas," ungkap Hanubun.

Menurutnya, dengan keberadaan dua rumah sakit pemerintah, satu rumah sakit swasta, dan 21 puskesmas, seharusnya pelayanan kesehatan di Maluku Tenggara sudah jauh lebih baik. Namun, keterbatasan tenaga medis dan kondisi sarana kesehatan masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian pemerintah pusat.

Bahkan, Hanubun mengungkapkan bahwa dari 21 puskesmas yang ada, hanya empat puskesmas yang memiliki kondisi relatif baik. Selebihnya masih membutuhkan rehabilitasi dan peningkatan fasilitas.

"Kalau bicara jujur, sebagian besar puskesmas kita masih memprihatinkan. Dengan kondisi efisiensi anggaran saat ini, pemerintah daerah belum mampu melakukan perbaikan secara maksimal," katanya.

Bupati dua periode itu menegaskan bahwa Maluku Tenggara merupakan daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T) yang memiliki tantangan tersendiri dalam pelayanan kesehatan. Keterbatasan geografis, minimnya tenaga medis hingga keterbatasan anggaran menjadi persoalan yang tidak bisa diselesaikan sendiri oleh pemerintah daerah.

Karena itu, ia berharap kehadiran Universitas Airlangga bersama Kementerian Kesehatan tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi benar-benar melahirkan solusi konkret bagi daerah.

"Tinggal sekarang bagaimana campur tangan Universitas Airlangga yang hadir di tengah-tengah kita. Jangan hanya datang memberikan materi, tetapi bagaimana bersama-sama membantu menjawab persoalan kesehatan yang ada di Maluku Tenggara," tegasnya.

Hanubun juga menaruh perhatian besar terhadap pengembangan sumber daya manusia di bidang kesehatan. Ia meminta para dokter muda asal Maluku Tenggara agar tidak ragu memperjuangkan kesempatan melanjutkan pendidikan spesialis.

Bahkan, secara terbuka ia memerintahkan jajaran Dinas Kesehatan untuk mengalokasikan anggaran bagi dokter-dokter daerah yang ingin melanjutkan pendidikan.

"Tagih terus. Jangan diam. Bilang, saya mau sekolah, saya mau ambil spesialis. Kepala dinas harus menganggarkan. Jangan ke mana-mana dulu, Unair dulu," ujar Hanubun yang disambut tepuk tangan peserta.

Dalam kesempatan tersebut, Hanubun juga menyinggung persoalan keterbatasan dokter spesialis yang dimiliki daerahnya. Menurutnya, keberadaan dokter spesialis penyakit dalam dan spesialis lainnya masih sangat minim, sementara kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat terus meningkat.

Meski demikian, ia mengapresiasi sejumlah kemajuan yang telah dicapai, terutama tersedianya listrik 24 jam di Kei Besar dan pulau-pulau terluar yang sebelumnya hanya menikmati listrik selama 12 jam.10/06/2026

"Kalau dulu alasan pelayanan kesehatan terganggu karena listrik, sekarang tidak ada lagi alasan. Listrik sudah menyala 24 jam. Yang dibutuhkan sekarang adalah penguatan sumber daya manusia dan fasilitas kesehatan," katanya.

Mengakhiri sambutannya, Hanubun kembali mengetuk perhatian pemerintah pusat dan Universitas Airlangga agar memberikan perhatian lebih kepada Maluku Tenggara.

"Daerah 3T seperti Maluku Tenggara tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Kami membutuhkan uluran tangan pemerintah pusat dan perguruan tinggi untuk memastikan pelayanan kesehatan yang layak bagi masyarakat," pungkasnya.

Editor ; Bruce Elang