CSR FREEPORT TRILIUNAN DIPERTANYAKAN: RAKYAT 3 LEMBAH WAA BANTI, ARWANOP DAN TSINGA HIDUP MISKIN DI ATAS GUNUNG EMAS
CSR FREEPORT TRILIUNAN DIPERTANYAKAN: RAKYAT 3 LEMBAH WAA BANTI, ARWANOP DAN TSINGA HIDUP MISKIN DI ATAS GUNUNG EMAS
MIMIKA Tribunnusantarw-web.id — Kekayaan emas dan tembaga terus diangkut keluar dari tanah adat 3 Lembah Waa Banti, Arwanop dan Tsinga oleh PT Freeport Indonesia. Namun di balik gemerlap keuntungan tambang raksasa itu, rakyat asli pemilik tanah justru masih hidup dalam kemiskinan, keterisolasian, dan penderitaan yang tak kunjung berakhir.
Ironi ini kini meledak menjadi kemarahan publik.28/05/2026
Di tengah klaim dana Corporate Social Responsibility (CSR) bernilai triliunan rupiah yang terus digelontorkan setiap tahun, masyarakat mulai mempertanyakan secara terbuka: ke mana sebenarnya seluruh uang itu mengalir?
Sebab fakta di lapangan berbicara lain. Kampung-kampung di 3 Lembah masih bergelut dengan akses kesehatan yang minim, pendidikan memprihatinkan, infrastruktur tertinggal, serta ekonomi rakyat yang nyaris lumpuh. Sementara di atas tanah mereka sendiri, miliaran dolar terus diproduksi setiap hari.
“Tanah kami kaya raya, tapi rakyatnya hidup melarat. Kalau benar dana CSR triliunan itu ada, lalu kenapa penderitaan kami tidak pernah selesai?” sorot warga dengan nada geram.
Kritik masyarakat kini tidak lagi sekadar bisik-bisik. Suara perlawanan mulai menggema keras dari Waa Banti, Arwanop hingga Tsinga. Publik menilai program CSR selama ini lebih banyak dipenuhi pencitraan, proyek seremonial, dan permainan elite, dibanding keberpihakan nyata kepada masyarakat adat pemilik hak ulayat.
Warga juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap penggunaan dana CSR yang dinilai rawan diselewengkan oleh oknum-oknum tertentu yang berlindung di balik nama “kepentingan masyarakat”.
“Jangan bicara kesejahteraan kalau rakyat asli masih lapar di tanah emasnya sendiri. Jangan bicara pembangunan kalau kampung-kampung kami masih tertinggal seperti daerah yang dilupakan negara,” tegas salah satu tokoh masyarakat.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar yang mulai mengguncang ruang publik: Siapa sebenarnya yang menikmati dana CSR Freeport? Mengapa rakyat asli tetap miskin di tengah kekayaan alam yang luar biasa? Apakah dana triliunan itu benar-benar sampai kepada masyarakat, atau hanya berputar di lingkaran elite tertentu?
Masyarakat 3 Lembah kini mendesak:
Audit independen total terhadap seluruh dana CSR Freeport sejak awal operasi tambang.
Pembukaan seluruh dokumen penggunaan anggaran secara transparan kepada publik.
Penindakan terhadap pihak-pihak yang diduga memperkaya diri di atas penderitaan rakyat adat.
Pengembalian hak masyarakat adat atas kekayaan alam di tanah mereka sendiri.
Bagi warga, penderitaan yang terus berlangsung di tengah eksploitasi tambang raksasa adalah bentuk ketidakadilan yang sudah terlalu lama dipelihara.
“Kami bukan pengemis di tanah sendiri. Kami pemilik sah negeri ini. Kalau kekayaan terus diambil sementara rakyat dibiarkan miskin, maka jangan salahkan jika kemarahan rakyat suatu saat meledak lebih besar,” demikian pernyataan keras yang kini beredar luas di wilayah 3 Lembah.
Tanah Waa Banti, Arwanop dan Tsinga bukan ladang eksploitasi bagi segelintir elite.
Rakyat adat menuntut satu hal yang sederhana namun selama ini terasa mahal: KEADILAN.
(Redaksi Tribunnusantara)








































Komentar via Facebook