Dari Dapur Keluarga ke Posyandu, Malra Perkuat Perang Melawan Stunting di Kei Besar

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 22 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Dari Dapur Keluarga ke Posyandu, Malra Perkuat Perang Melawan Stunting di Kei Besar

Dari Dapur Keluarga ke Posyandu, Malra Perkuat Perang Melawan Stunting di Kei Besar

Elat, Maluku Tenggara Tribunnusantara-web.id  — Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Maluku Tenggara mulai diarahkan lebih jauh dari sekadar pemberian makanan tambahan. Pemerintah daerah kini mendorong agar pencegahan kekurangan gizi menjadi gerakan yang dimulai dari keluarga, diperkuat Posyandu, dan ditopang oleh pemanfaatan pangan lokal.

Arah kebijakan tersebut disampaikan Bupati Maluku Tenggara, M. Thaher Hanubun, saat membuka kegiatan pembekalan tim kader Posyandu untuk pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis pangan lokal, kampanye dan pergerakan masyarakat hidup sehat serta Gerakan Cegah Stunting di Elat, Kei Besar, Sabtu (22/8/2026).

Thaher menilai keberhasilan penanganan stunting tidak cukup diukur dari banyaknya program atau bantuan yang disalurkan. Yang lebih penting adalah memastikan keluarga memahami kebutuhan gizi anak, mampu memanfaatkan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar, serta rutin memantau pertumbuhan dan perkembangan anak.

“Pencegahan stunting harus dimulai dari keluarga. Kesehatan anak bukan hanya menjadi urusan tenaga kesehatan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama,” demikian pokok arahan Bupati dalam kegiatan tersebut.

Angka Turun, Intervensi Tidak Boleh Kendur

Data SIGIZIKESGA yang disampaikan dalam kegiatan itu menunjukkan perkembangan positif dalam penanganan stunting di Maluku Tenggara.

Pada Desember 2025, angka stunting tercatat sebesar 12,07 persen. Setelah dilakukan pemutakhiran data pada Triwulan II 2026, angka tersebut disebut turun menjadi 10,25 persen. Capaian itu berada di bawah target nasional sebesar 14 persen.

Meski demikian, pemerintah daerah tidak menjadikan penurunan tersebut sebagai alasan untuk mengurangi intervensi.

Sebaliknya, pencegahan diarahkan dilakukan sejak sebelum kehamilan hingga anak melewati masa balita. Remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui dan anak balita menjadi kelompok yang perlu mendapatkan perhatian secara berkesinambungan, khususnya dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

Dengan pendekatan tersebut, penanganan stunting tidak hanya dilakukan ketika anak sudah mengalami masalah pertumbuhan, tetapi dimulai dari upaya membangun kondisi kesehatan dan gizi sejak dini.

Pangan Lokal Harus Masuk ke Meja Makan Keluarga

Salah satu perhatian utama pemerintah daerah adalah mengoptimalkan bahan pangan yang tersedia di Maluku Tenggara.

Kekayaan pangan lokal dinilai memiliki peluang besar untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi keluarga. Karena itu, PMT berbasis pangan lokal didorong tidak sekadar menjadi program sesaat, tetapi dapat menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat dalam menyediakan makanan bergizi bagi ibu dan anak.

Sumber protein hewani dan berbagai bahan pangan lokal lainnya perlu diolah menjadi makanan yang beragam, bergizi, seimbang, sehat dan aman.

Pendekatan ini sekaligus menjadi penting agar masyarakat tidak selalu bergantung pada bahan pangan yang didatangkan dari luar daerah.

Kader Posyandu Jadi Garda Terdepan

Dalam strategi tersebut, kader Posyandu mendapatkan peran yang semakin penting.

Kader bukan hanya membantu kegiatan pelayanan rutin, tetapi juga diharapkan mampu menjadi penghubung antara keluarga, tenaga kesehatan dan pemerintah. Mereka berada paling dekat dengan masyarakat sehingga dapat membantu mendeteksi lebih awal apabila terjadi masalah pertumbuhan pada anak.

Thaher meminta perangkat daerah terkait, pemerintah kecamatan hingga kepala ohoi memperkuat pelayanan Posyandu dan memastikan ibu hamil serta anak mendapatkan pemantauan secara berkala.

Apabila ditemukan berat badan anak tidak mengalami kenaikan atau terdapat tanda kekurangan gizi, langkah penanganan harus dilakukan sedini mungkin.

PMT berbasis pangan lokal dapat menjadi salah satu bentuk intervensi bagi ibu hamil dan balita yang mengalami kekurangan gizi. Namun, apabila terdapat dugaan penyakit penyerta yang menghambat pertumbuhan, anak harus mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis, termasuk oleh dokter maupun dokter spesialis sesuai kebutuhan.

Layanan Spesialis Didekatkan ke Masyarakat

Penguatan intervensi gizi dalam kegiatan di Elat juga dibarengi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Dua dokter spesialis, masing-masing dokter spesialis anak dan dokter spesialis paru, turut dihadirkan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Kehadiran layanan tersebut menjadi bagian dari upaya mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Kei Besar, khususnya bagi warga yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Kegiatan pembekalan dan gerakan pencegahan stunting tersebut mencakup wilayah kerja Puskesmas Elat, Matahollat, Ohoiel, Larat, Mun dan Hollat.

Bukan Program Sesaat

Bagi Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, penurunan stunting harus dijaga agar tidak berhenti sebagai pencapaian angka di atas kertas.

Thaher mendorong agar perubahan perilaku menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Konsumsi makanan bergizi dan beragam, pemanfaatan air bersih, kebersihan lingkungan, kebiasaan mencuci tangan dengan sabun serta kepatuhan membawa anak ke Posyandu menjadi bagian penting dari upaya tersebut.

Karena itu, gerakan pencegahan stunting tidak hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan. OPD, pemerintah kecamatan, pemerintah ohoi, PKK, kader Posyandu, tokoh agama, tokoh masyarakat dan keluarga harus mengambil peran masing-masing.

Pesannya sederhana, tetapi menentukan: anak harus dipantau, kebutuhan gizinya harus dipenuhi, dan setiap persoalan pertumbuhan harus ditangani sedini mungkin.

Dari Elat, pemerintah daerah ingin memastikan perang melawan stunting tidak berhenti pada pembagian makanan tambahan. Intervensi harus masuk ke rumah tangga, diperkuat Posyandu, dan ditopang oleh kekuatan pangan lokal yang dimiliki masyarakat Kei Besar.

Editor: Bruce Elang