Dari Kearifan Kei ke Ruang Digital, SMP Negeri 7 Tual Bangun Benteng Perlindungan Siswa Lewat PERISAI ANTI BULLYING

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 03 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Dari Kearifan Kei ke Ruang Digital, SMP Negeri 7 Tual Bangun Benteng Perlindungan Siswa Lewat PERISAI ANTI BULLYING

Dari Kearifan Kei ke Ruang Digital, SMP Negeri 7 Tual Bangun Benteng Perlindungan Siswa Lewat PERISAI ANTI BULLYING

TUAL Tribunnusantara-web.id  — Persoalan perundungan di lingkungan pendidikan tidak cukup dijawab dengan imbauan untuk saling menghormati. Sekolah membutuhkan ruang edukasi, komunikasi, pendampingan, sekaligus mekanisme respons yang dapat dijangkau peserta didik.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, SMP Negeri 7 Tual menghadirkan PERISAI ANTI BULLYING (Platform Edukasi dan Respon Inklusi Siswa Aman Indonesia) sebagai sebuah inovasi digital yang diarahkan untuk memperkuat budaya sekolah yang aman, nyaman, ramah, dan inklusif.03/09/2026

Platform ini mulai diperkenalkan dan digunakan di SMP Negeri 7 Tual pada 25 Agustus 2026, dengan penyusun Nessi V Tapotubun, S.Pd.

Berbeda dengan pendekatan pencegahan bullying yang hanya mengandalkan penyampaian materi secara konvensional, PERISAI ANTI BULLYING mencoba membawa isu tersebut lebih dekat dengan dunia peserta didik melalui media digital, visual, video, kuis, musik, layanan konseling, serta pendekatan kearifan lokal.

Teknologi Dijadikan Ruang Edukasi dan Perlindungan

PERISAI ANTI BULLYING dirancang bukan hanya sebagai media untuk mengenalkan pengertian bullying.

Di dalamnya terdapat berbagai materi dan fitur yang memungkinkan siswa memperoleh informasi, memahami bentuk-bentuk perundungan, mengikuti kuis, menyaksikan video edukatif, serta mengenali langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi persoalan di lingkungan sekolah.

Konsep tersebut menjadikan teknologi sebagai sarana pendukung pendidikan karakter sekaligus jembatan komunikasi antara peserta didik dengan layanan sekolah.

Pesan yang dibangun pun sederhana: siswa tidak boleh merasa sendirian ketika menghadapi persoalan.

Keberanian untuk bercerita dan meminta pertolongan menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan sekolah yang sehat.

Memperkuat Jalur Konseling

Salah satu bagian yang menjadi perhatian dalam platform tersebut adalah Perisai Care Center dan Layanan Guru Bimbingan dan Konseling (BK).

Melalui layanan tersebut, siswa diarahkan memiliki akses yang lebih jelas untuk berkonsultasi, menyampaikan persoalan, meminta pendampingan, maupun melaporkan pengalaman yang berkaitan dengan bullying.

Kehadiran fitur tersebut sekaligus mempertegas bahwa teknologi tidak dimaksudkan untuk menggantikan guru.

Sebaliknya, teknologi ditempatkan sebagai instrumen yang membantu layanan BK menjadi lebih komunikatif dan mudah dijangkau peserta didik.

Dalam konteks perlindungan siswa, aspek keamanan informasi dan kerahasiaan juga menjadi bagian yang perlu dijalankan sesuai mekanisme layanan sekolah.

Ketika Nilai Ain Ni Ain Masuk ke Dunia Digital

Keunikan lain dari PERISAI ANTI BULLYING terletak pada penggunaan kearifan lokal Kei melalui Ruang Ain Ni Ain.

Nilai persaudaraan dan kebersamaan yang hidup dalam masyarakat Kei dihadirkan dalam ruang edukasi digital untuk memperkuat pesan bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan atau menyakiti orang lain.

Melalui pendekatan tersebut, pendidikan anti-bullying tidak berdiri sendiri sebagai materi sekolah, tetapi dihubungkan dengan nilai budaya yang lebih dekat dengan kehidupan peserta didik di Kota Tual.

Ain Ni Ain menjadi salah satu pintu masuk untuk menanamkan kesadaran bahwa membangun hubungan yang baik dengan sesama merupakan bagian dari karakter dan kehidupan bersama.

Belajar Lewat Gambar, Cerita, Musik dan Video

Platform tersebut juga memanfaatkan berbagai bentuk media yang dekat dengan generasi pelajar.

Komik edukatif, video inspiratif, kuis, lagu, hingga materi kampanye digunakan untuk menyampaikan pesan tentang persahabatan, kepedulian, keberanian berkata tidak terhadap bullying, serta pentingnya membantu teman yang menghadapi perundungan.

Pada bagian Ruang Ain Ni Ain, siswa juga diperkenalkan dengan lagu-lagu bernuansa budaya Kei.

Sementara Lagu Perisai dan kampanye “Sekolah Bahagia Tanpa Bullying” menjadi bagian dari upaya memperkuat pesan positif di lingkungan sekolah.

Pendekatan multimedia tersebut diharapkan membuat pendidikan anti-bullying tidak terasa sebagai materi yang kaku, tetapi menjadi pengalaman belajar yang lebih menarik dan mudah diterima siswa.

Membangun Keberanian untuk Tidak Diam

Salah satu tantangan dalam persoalan bullying adalah ketika korban atau saksi memilih diam.

Karena itu, keberadaan ruang pelaporan dan konseling menjadi penting. Siswa perlu mengetahui bahwa meminta bantuan bukanlah bentuk kelemahan.

Sebaliknya, keberanian menyampaikan persoalan dapat menjadi langkah awal untuk mendapatkan pendampingan dan mencegah persoalan berkembang lebih jauh.

Melalui PERISAI ANTI BULLYING, pesan tersebut dikemas dalam pendekatan yang lebih dekat dengan peserta didik: berani bercerita, berani meminta bantuan, saling peduli, dan saling melindungi.

Inovasi Sekolah Harus Berujung pada Perubahan Budaya

Kehadiran platform digital tentu bukan satu-satunya jawaban terhadap persoalan bullying.

Aplikasi atau platform hanya menjadi alat. Keberhasilannya sangat bergantung pada bagaimana seluruh warga sekolah menggunakannya dan membangun budaya yang mendukung perlindungan peserta didik.

Guru, tenaga kependidikan, siswa dan orang tua memiliki peran masing-masing dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari intimidasi dan kekerasan.

Karena itu, PERISAI ANTI BULLYING diarahkan bukan sekadar menjadi sebuah inovasi teknologi, tetapi menjadi bagian dari gerakan membangun budaya sekolah yang lebih peduli dan responsif terhadap persoalan siswa.

Dari SMP Negeri 7 Tual untuk Pendidikan yang Lebih Ramah

Inovasi yang mulai digunakan pada 25 Agustus 2026 tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu praktik baik yang dapat dikembangkan lebih lanjut di lingkungan pendidikan.

Perpaduan teknologi, layanan BK, media kreatif dan kearifan lokal Kei memberikan warna tersendiri bagi inovasi yang dikembangkan di SMP Negeri 7 Tual.

Pesan akhirnya pun bukan sekadar “Stop Bullying”, tetapi bagaimana sekolah mampu menciptakan kondisi di mana setiap peserta didik merasa dihargai, didengar, dilindungi dan memiliki ruang untuk berkembang.

Dari Tual, sebuah pesan pendidikan pun digaungkan: sekolah yang aman bukan hanya sekolah tanpa bullying, tetapi sekolah yang membuat setiap anak merasa bahwa dirinya berharga.

Penyusun:

Nesi V Tapotubun, S.Pd

SMP Negeri 7 Tual

Editor: Bruce Elang