Delapan Titik Masuk Zona Sangat Rawan Karhutla, BPBD SP6 Bomberay Perketat Patroli
Fakfak, TribunNusantara.web.id | Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum sepenuhnya reda di Kabupaten Fakfak. BPBD melalui Posko SP6 terus meningkatkan kesiapsiagaan menyusul pemetaan delapan titik yang masuk kategori sangat rawan di Distrik Bomberay dan Tomage.
Empat titik berada di Distrik Bomberay, yakni SP6, SP5, SP4, dan SP3. Sedangkan empat titik lainnya berada di Distrik Tomage, meliputi SP1, SP2 Bukit Teletabis, SP7, serta kawasan sebelum SMA Pertanian.
Delapan titik tersebut kini menjadi perhatian utama tim di lapangan. Patroli dan pemantauan ditingkatkan untuk mengantisipasi munculnya titik api, terutama hingga akhir Agustus ketika kondisi cuaca masih berpotensi memicu kebakaran.
Koordinator Lapangan Posko BPBD SP6 Bomberay, Fredy Renyaan, mengatakan tim terus berkonsentrasi pada wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi tersebut.
"Kami saat ini terus fokus pada beberapa titik yang kategori sangat rawan di dua distrik tersebut," kata Fredy kepada awak media di Posko SP6, Sabtu (29/8/2026).
Meski terdapat sejumlah wilayah yang dipetakan sangat rawan, kondisi karhutla di Bomberay dan Tomage dalam dua hari terakhir masih relatif terkendali. Belum ditemukan kejadian kebakaran yang mengharuskan tim melakukan penanganan besar.
"Untuk sementara masih aman-aman saja, meski sepenuhnya masih belum aman," ujarnya.
Menurut Fredy, kewaspadaan tetap diperlukan. Sebab, potensi karhutla tidak hanya berada di Bomberay dan Tomage. Pemantauan juga dilakukan terhadap sejumlah wilayah lain di Kabupaten Fakfak yang memiliki potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Sumber Air Menipis
Di tengah kesiapsiagaan tersebut, tim BPBD menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Salah satu yang paling krusial adalah mulai menipisnya sumber air di sejumlah lokasi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena ketersediaan air merupakan faktor penting dalam proses pemadaman apabila sewaktu-waktu muncul titik api. Selain sumber air, ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dan kesiapan operasional mobil tangki air juga harus dipastikan tetap terjaga.
"Karena beberapa sumber air mulai menipis, BBM dan operasional mobil tangki air juga harus tetap kita jaga agar sewaktu-waktu dibutuhkan bisa langsung digunakan," jelasnya.
Untuk menjaga kesiapsiagaan, BPBD SP6 mengerahkan kekuatan gabungan sebanyak 43 personel. Mereka terdiri atas sembilan personel Posko BPBD SP6, 30 anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) dan warga sekitar, dua personel Polsek Bomberay, serta masing-masing satu personel dari Danramil Bomberay dan Danramil Tomage.
Dengan luas wilayah yang harus diawasi dan jumlah personel yang terbatas, keberadaan MPA dan masyarakat menjadi salah satu kekuatan penting dalam sistem deteksi dini.
Mereka diharapkan aktif memantau kondisi lingkungan dan segera melaporkan apabila menemukan kepulan asap maupun indikasi munculnya titik api. Kewaspadaan terutama diperkuat pada siang hingga sore hari, ketika suhu panas dan hembusan angin dapat memperbesar risiko penyebaran api.
Fredy pun mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menjadi pemicu karhutla.
Warga diminta tidak membakar lahan secara sembarangan, membuang puntung rokok di kawasan rawan, maupun membakar sampah di dekat kawasan hutan dan lahan kering.
"Laporkan segera jika melihat asap atau titik api ke posko terdekat, yakni BPBD SP6, agar bisa ditangani dengan cepat," tegas Fredy.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah kondisi lapangan yang belum sepenuhnya aman. Sebab, dalam situasi karhutla, keterlambatan beberapa menit dalam mendeteksi titik api dapat membuat api lebih sulit dikendalikan.
BPBD SP6 bersama MPA, aparat keamanan, dan masyarakat kini memilih untuk berjaga sebelum api membesar. Deteksi dini dan respons cepat menjadi kunci agar delapan titik rawan tidak berubah menjadi titik bencana.
Writter: ASAH | Editor: Den








































Komentar via Facebook