Dialog Terbuka di Taman Landmark, GMNI Maluku Tenggara Soroti Isu Daerah hingga Agenda Penghijauan
Langgur, TribunNusantara.web.id | Sore itu, angin berembus pelan di Taman Landmark Kabupaten Maluku Tenggara. Di ruang terbuka itu, Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Maluku Tenggara menggelar dialog publik bersama Yayasan Sirmat Beatus Alleluia yang tengah melakukan penelitian di daerah tersebut.
Kegiatan yang berlangsung sederhana namun sarat gagasan itu menjadi ruang temu antara aktivis mahasiswa dan elemen masyarakat untuk membedah sejumlah persoalan daerah. Diskusi mengalir dari isu-isu lokal hingga persoalan nasional yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.
Ketua DPC GMNI Maluku Tenggara menyatakan, forum ini bukan sekadar agenda seremonial. “Kami ingin memastikan bahwa mahasiswa tetap hadir sebagai kekuatan moral dan kontrol sosial. Persoalan daerah tidak bisa dibiarkan berlarut tanpa sikap kritis,” ujarnya dalam diskusi tersebut.
Sejumlah isu yang disoroti antara lain problem pembangunan daerah, tata kelola kebijakan publik, hingga dinamika sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Selain itu, para peserta juga menyinggung berbagai isu nasional yang dinilai berdampak secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan masyarakat di Maluku Tenggara.
Yayasan Sirmat Beatus Alleluia yang terlibat dalam kegiatan itu memaparkan sejumlah temuan awal penelitian mereka. Data dan hasil observasi lapangan menjadi bahan refleksi bersama, terutama dalam merumuskan langkah-langkah strategis yang dapat diambil oleh berbagai pihak.
GMNI Maluku Tenggara menegaskan, hasil dialog ini tidak akan berhenti sebagai wacana. Organisasi mahasiswa tersebut berkomitmen menindaklanjuti sejumlah poin penting yang telah dibahas sebagai bagian dari peran advokasi dan pengawalan kebijakan.
Dalam kesempatan yang sama, GMNI juga membahas agenda internal organisasi. Dalam waktu dekat, mereka akan memperingati Dies Natalis ke-72 GMNI yang dirangkaikan dengan gerakan penanaman pohon. Program penghijauan itu merupakan instruksi dari Dewan Pimpinan Pusat GMNI yang harus segera ditindaklanjuti di seluruh cabang.
Gerakan penanaman pohon tersebut dipandang bukan sekadar simbolik, melainkan sebagai bentuk komitmen terhadap isu lingkungan yang kian mendesak. “Kegiatan ini menjadi refleksi atas tanggung jawab generasi muda dalam menjaga keberlanjutan lingkungan hidup,” kata salah satu pengurus.
Dialog di ruang terbuka itu pun ditutup dengan kesepahaman bahwa mahasiswa tidak boleh berjarak dari realitas sosial. Di tengah berbagai persoalan yang membelit daerah, kehadiran forum-forum diskusi semacam ini diharapkan menjadi titik tolak lahirnya gagasan dan gerakan yang lebih terarah.
Di Taman Landmark itu, perbincangan mungkin telah usai. Namun bagi GMNI Maluku Tenggara, pekerjaan rumah baru saja dimulai.








































Komentar via Facebook