Dianu Omaleng: Jangan Jadikan KONI Mimika Arena Perebutan Kepentingan
Dianu Omaleng: Jangan Jadikan KONI Mimika Arena Perebutan Kepentingan
Mimika, Papua Tengah Tribunnusantara-web.id — Nada keras disampaikan Dianu Omaleng menanggapi potensi dualisme kepengurusan di tubuh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Mimika. Ia menegaskan bahwa konflik yang terjadi saat ini sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan dan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.02/05/2026
Menurut Dianu, tarik-menarik kepentingan di balik polemik kepengurusan berisiko merusak marwah organisasi olahraga dan mengorbankan kepentingan atlet.
“KONI ini bukan milik kelompok atau segelintir orang. Jangan jadikan organisasi ini arena perebutan kepentingan. Kalau terus dipaksakan, yang rusak bukan hanya struktur, tapi masa depan olahraga Mimika,” tegasnya.
Ia secara terbuka mengkritik kedua kubu yang dinilai saling mengklaim legitimasi tanpa menyelesaikan persoalan secara tuntas melalui mekanisme resmi. Dianu menyebut kondisi ini sebagai bentuk kegagalan menjaga etika organisasi.
“Kalau masing-masing merasa paling sah tapi tidak mau duduk bersama, itu bukan kepemimpinan—itu ego. Dan ego seperti ini yang membuka ruang konflik semakin lebar,” ujarnya.
Terkait isu adanya “pihak ketiga”, Dianu mengingatkan agar narasi tersebut tidak dijadikan alat untuk menutupi kelemahan internal. Ia menegaskan bahwa akar persoalan harus dicari secara jujur di dalam tubuh organisasi sendiri.
“Jangan buru-buru cari kambing hitam di luar. Kalau rumah kita sendiri tidak rapi, siapa saja bisa masuk dan memperkeruh keadaan. Jadi benahi dulu dari dalam,” katanya.
Ia juga mendesak agar kejelasan legalitas kepengurusan segera dituntaskan melalui jalur resmi di KONI Pusat maupun tingkat provinsi. Menurutnya, tidak boleh ada dua tafsir dalam satu organisasi.
“Harus ada satu keputusan yang final dan dihormati bersama. Tidak bisa organisasi sebesar KONI berjalan dengan dua matahari,” tegas Dianu.
Lebih jauh, ia menyoroti maraknya perang opini di media sosial yang dinilai memperkeruh situasi. Dianu bahkan menyebut pratik saling serang di ruang publik sebagai bentuk ketidakdewasaan dalam berorganisasi.
“Kalau merasa benar, buktikan di forum resmi, bukan di media sosial. Jangan bawa konflik internal ke konsumsi publik seolah-olah ini tontonan,” katanya.
Di tengah ketegangan yang terjadi, Dianu mengingatkan agar pembinaan atlet tidak dijadikan korban. Ia menilai, jika konflik ini terus berlanjut, maka dampaknya akan langsung dirasakan oleh para atlet dan masa depan olahraga Mimika.
Menutup pernyataannya, Dianu menyampaikan peringatan keras kepada semua pihak agar segera menghentikan konflik dan kembali pada tujuan utama organisasi.
“Kalau masih ada yang memaksakan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama, berarti dia bukan sedang membangun olahraga—dia sedang merusaknya. Ini harus dihentikan sekarang juga.”
"Elang Kei"








































Komentar via Facebook