DINAS PERIKANAN SALURKAN BANTUAN IKAN UNTUK PROGRAM PENCEGAHAN STUNTING DI MIMIKA TIMUR

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 14 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

DINAS PERIKANAN SALURKAN BANTUAN IKAN UNTUK PROGRAM PENCEGAHAN STUNTING DI MIMIKA TIMUR

Tribun-nusantara.web.id. MIMIKA TIMUR, PAPUA TENGAH — Upaya memperkuat pencegahan dan penanganan stunting di Distrik Mimika Timur terus dilakukan melalui pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, khususnya bagi anak-anak dan keluarga yang membutuhkan.

Dinas Perikanan turut mengambil bagian dalam program tersebut dengan menyalurkan bantuan pangan bergizi berbasis ikan kepada masyarakat di wilayah Distrik Mimika Timur.

Bantuan tersebut diterima oleh Kepala Distrik Mimika Timur, Remon Tanser, S.Sos, untuk selanjutnya diserahkan kepada Puskesmas Mapurjaya dan diteruskan melalui kader-kader Posyandu di kampung-kampung.

Remon Tanser menyampaikan apresiasi kepada Dinas Perikanan yang telah menunjukkan kepedulian nyata terhadap persoalan kekurangan gizi dan stunting di Mimika Timur.

“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Dinas Perikanan yang telah datang membawa bantuan makanan bergizi. Bantuan ini sangat berarti bagi masyarakat, terutama dalam mendukung program pencegahan stunting di Mimika Timur,” ujar Remon Tanser.

Lima Jenis Bantuan Pangan Bergizi

Bantuan yang disalurkan terdiri dari lima jenis produk perikanan dengan total ratusan kilogram, yakni:

Ikan lele ukuran 200–250 gram sebanyak 160 kilogram.

Ikan nila ukuran 200–250 gram sebanyak 175 kilogram.

Ikan filet ukuran 100–200 gram sebanyak 59 kilogram.

Bakso ikan ukuran 500 gram sebanyak 49 kilogram.

Nugget ikan ukuran 500 gram sebanyak 11,5 kilogram.

Bantuan tersebut tidak hanya dipandang sebagai distribusi bahan makanan, tetapi menjadi bagian dari intervensi pemenuhan gizi masyarakat melalui sumber protein ikan yang mudah dikonsumsi.

Menurut Remon, mekanisme penyaluran akan dilakukan melalui Puskesmas karena pihak Puskesmas dinilai lebih mengetahui kondisi serta kebutuhan kader Posyandu dan masyarakat di setiap kampung.

“Bantuan ini kami serahkan kepada Puskesmas karena mereka yang lebih mengetahui kader-kader Posyandu dan masyarakat yang membutuhkan. Dari Puskesmas nantinya akan disalurkan kepada Posyandu di kampung-kampung untuk dibagikan kepada masyarakat yang berhak menerima, terutama dalam mendukung penanganan stunting,” jelasnya.

Freezer dan Listrik Menjadi Kebutuhan Mendesak

Di balik bantuan pangan tersebut, terdapat persoalan penting yang perlu segera mendapat perhatian, yakni keterbatasan fasilitas penyimpanan dingin.

Remon menegaskan bahwa freezer dan dukungan kelistrikan sangat dibutuhkan untuk menjaga kualitas serta keamanan bahan pangan berbasis ikan yang disalurkan kepada masyarakat.

“Kami berharap ke depan Dinas Perikanan dapat membantu menyediakan freezer atau fasilitas pendingin. Ini penting karena bantuan ikan membutuhkan tempat penyimpanan yang baik. Kami juga membutuhkan dukungan untuk peningkatan atau penguatan listrik agar bantuan tersebut tidak rusak sebelum disalurkan kepada masyarakat,” katanya.

Menurutnya, bantuan makanan bergizi tidak akan maksimal apabila tidak didukung infrastruktur penyimpanan yang memadai. Karena itu, persoalan rantai dingin (cold chain) menjadi salah satu kebutuhan yang harus diperhatikan dalam program pemberian makanan tambahan berbasis ikan di wilayah Mimika Timur.

Dorong Kolaborasi Berkelanjutan

Remon berharap program tersebut tidak berhenti pada satu kali pemberian bantuan. Ia mendorong adanya kerja sama berkelanjutan antara Distrik Mimika Timur, Dinas Perikanan, Puskesmas, Posyandu, pemerintah kampung, serta pihak-pihak lain yang memiliki perhatian terhadap persoalan stunting dan kekurangan gizi.

“Kami sangat membutuhkan makanan tambahan bagi masyarakat, khususnya di Mimika Timur yang masih menghadapi persoalan kekurangan gizi. Harapan kami ke depan ada kerja sama yang lebih kuat dan berkelanjutan sehingga persoalan stunting dapat ditangani bersama,” tegasnya.

Ia menilai, penanganan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab satu instansi, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor dengan dukungan data, distribusi pangan bergizi, fasilitas kesehatan, edukasi keluarga, serta pemantauan tumbuh kembang anak.

Program ini diharapkan menjadi salah satu langkah konkret untuk memastikan masyarakat Mimika Timur, terutama anak-anak, mendapatkan akses terhadap pangan bergizi sekaligus memperkuat gerakan bersama dalam mencegah stunting.

(M.G.FAKAUBUN)