Disiplin di Tengah Ramadan, Prajurit Lanal Tual Teguhkan Loyalitas dalam Upacara 17-an

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 17 Maret 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Disiplin di Tengah Ramadan, Prajurit Lanal Tual Teguhkan Loyalitas dalam Upacara 17-an

Tual, TribunNusantara.web.id | Langit Tual yang cerah pada Selasa pagi, 17 Maret 2026, menjadi saksi tegaknya barisan prajurit dan aparatur sipil negara di Lapangan Mako Lanal Tual. Upacara bendera rutin setiap tanggal 17 itu kembali digelar—bukan sekadar seremoni, melainkan penegasan sikap dan komitmen.

Komandan Lanal Tual, Kolonel Laut (P) Andik Putro Wibowo, berdiri sebagai inspektur upacara. Dengan langkah terukur dan suara yang tegas, ia memimpin jalannya kegiatan yang diikuti oleh perwira, bintara, tamtama, hingga ASN dari Lanal Aru. Barisan rapi dan sikap sempurna mencerminkan satu hal: disiplin yang tak ditawar.

Upacara 17-an, sebagaimana kerap diingatkan dalam tradisi militer, bukanlah rutinitas kosong. Ia menjadi ruang refleksi kolektif—tempat nilai loyalitas, tanggung jawab, dan dedikasi kembali diteguhkan di tengah dinamika tugas yang kian kompleks.

Dalam amanat Panglima Koarmada RI yang dibacakan inspektur upacara, penekanan jatuh pada profesionalisme prajurit. Profesionalisme, disebutkan, tidak lahir secara instan. Ia dibangun dari disiplin yang konsisten, latihan yang terukur, kepemimpinan yang tegas, serta integritas yang tak mudah goyah.

Pesan itu terasa relevan, terlebih ketika bulan suci Ramadan tengah dijalani. Momentum spiritual ini, bagi prajurit, bukan alasan untuk menurunkan kesiapsiagaan. Justru sebaliknya, menjadi ujian sejauh mana komitmen tetap dijaga dalam kondisi apa pun.

Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, perhatian juga diarahkan pada pengaturan cuti. Prajurit diingatkan untuk menjalankannya secara tertib dan terencana, tanpa mengganggu kesiapan satuan. Di saat yang sama, nama baik TNI Angkatan Laut tetap harus dijaga, baik di dalam maupun di tengah masyarakat.

Upacara pun berakhir dengan tertib. Namun pesan yang dibawanya tidak berhenti di lapangan. Ia dibawa pulang oleh setiap peserta—menjadi pengingat bahwa pengabdian tidak mengenal jeda, bahkan di tengah suasana yang sarat makna spiritual.