Djamal Koedoeboen: Konektivitas Laut dan Energi Harus Jadi Prioritas Pembangunan Maluku
Djamal Koedoeboen: Konektivitas Laut dan Energi Harus Jadi Prioritas Pembangunan Maluku
AMBON, Tribunnusantara-web.id — Wakil Ketua Umum Kongres Advokat Indonesia (KAI), Djamal Koedoeboen, S.H., M.H., menilai pembangunan Maluku sebagai provinsi kepulauan tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi harus memastikan masyarakat di pulau-pulau kecil benar-benar merasakan manfaat pembangunan.
Menurutnya, konektivitas antarpulau merupakan urat nadi pembangunan Maluku. Kemajuan pembangunan jalan, pelabuhan, bandara dan transportasi penyeberangan patut diapresiasi, namun pekerjaan tersebut dinilai masih jauh dari selesai.
“Tantangan Maluku bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi bagaimana memastikan masyarakat di pulau-pulau kecil benar-benar mendapatkan akses transportasi yang rutin, aman dan terjangkau,” ujar Djamal.11/08/2026
Ia menegaskan, ke depan konektivitas laut harus menjadi prioritas utama, mengingat karakter geografis Maluku yang terdiri dari ribuan pulau.
Penguatan tersebut, kata dia, harus dilakukan secara terpadu melalui peningkatan kapasitas pelabuhan, penguatan armada kapal perintis, transportasi penyeberangan antarpulau, serta pembangunan jalan yang menghubungkan pelabuhan dengan sentra-sentra produksi masyarakat.
Djamal juga menyoroti pentingnya kerja sama pemerintah daerah dengan berbagai pihak, termasuk ASDP, untuk memperluas dan memperkuat jaringan penyeberangan yang mampu menjangkau wilayah kepulauan secara lebih merata.
Energi Jangan Hanya Terpusat di Kota
Selain konektivitas, Djamal menempatkan kemandirian dan ketahanan energi sebagai persoalan strategis yang harus mendapat perhatian serius.
Ia mengakui akses listrik di Maluku terus mengalami kemajuan. Namun, kondisi geografis dengan banyaknya pulau kecil dan wilayah terpencil membuat pembangunan jaringan listrik menghadapi tantangan biaya dan akses yang tidak ringan.
Karena itu, menurutnya, solusi energi Maluku tidak dapat semata-mata bergantung pada perluasan jaringan listrik konvensional.
Energi terbarukan berbasis potensi lokal harus mulai didorong lebih serius, terutama bagi wilayah yang sulit dijangkau jaringan utama.
Tenaga surya, mikrohidro dan sumber energi lokal lainnya dinilai dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di pulau-pulau terpencil.
“Target kita bukan hanya ‘ada listrik’, tetapi listrik yang andal, terjangkau dan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat,” tegas Djamal.
Ia berharap pembangunan infrastruktur konektivitas dan energi dilakukan secara beriringan. Sebab, pulau-pulau Maluku tidak akan benar-benar maju apabila akses transportasi masih terbatas dan energi belum mampu menopang aktivitas ekonomi masyarakat.
Bagi Djamal, pembangunan Maluku harus berujung pada satu hal: memperpendek jarak antara masyarakat di pulau-pulau kecil dengan pusat pelayanan, pasar, pendidikan, kesehatan dan peluang ekonomi.
Editor: Bruce Elang








































Komentar via Facebook