Dugaan Fraud Rp6–8 Miliar di BMM Cabang Tual Disorot, Pengawasan Internal Dipertanyakan

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 14 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Dugaan Fraud Rp6–8 Miliar di BMM Cabang Tual Disorot, Pengawasan Internal Dipertanyakan

Dugaan Fraud Rp6–8 Miliar di BMM Cabang Tual Disorot, Pengawasan Internal Dipertanyakan

Tual, Tribunnusantara-web.id — Dugaan fraud yang disebut-sebut mencapai Rp6–8 miliar kembali mengguncang kepercayaan publik terhadap sistem pengawasan perbankan di Maluku. Sorotan kali ini mengarah ke Bank Maluku-Maluku Utara (BMM) Cabang Tual, menyusul informasi mengenai dugaan penyimpangan dalam pengelolaan uang tunai untuk kebutuhan mesin ATM.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, dugaan kasus tersebut masih dalam proses penelusuran internal dan kabarnya telah menjadi perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku.14/08/2026

Nilai yang disebut mencapai miliaran rupiah itu membuat persoalan tidak lagi sekadar menyangkut dugaan tindakan individu. Jika angka tersebut benar, pertanyaan terbesar justru tertuju pada seberapa kuat sistem pengendalian internal dan pengawasan berlapis di tubuh bank daerah tersebut.

Dugaan Berkaitan dengan Pengisian Uang ATM

Berdasarkan informasi yang berkembang, dugaan penyimpangan berkaitan dengan aktivitas pengisian uang tunai ke mesin ATM.

Seorang pegawai berinisial F disebut-sebut berkaitan dengan pengelolaan ATM. Namun, hingga kini belum ada keterangan resmi yang menyatakan bahwa yang bersangkutan merupakan pelaku atau pihak yang bertanggung jawab atas dugaan kerugian tersebut.

Karena itu, informasi tersebut perlu ditempatkan sebagai dugaan yang masih membutuhkan pembuktian dan klarifikasi resmi.

Pertanyaan publik pun mengarah pada mekanisme pengawasan. Bagaimana mungkin transaksi atau pergerakan uang dalam nilai miliaran rupiah dapat diduga berlangsung tanpa terdeteksi lebih awal?

Jika benar terdapat kerugian sebesar itu, maka pemeriksaan tidak cukup hanya berhenti pada siapa yang diduga melakukan. Sistem, prosedur, otorisasi, rekonsiliasi kas, pengawasan ATM hingga rantai pertanggungjawaban juga patut diperiksa secara menyeluruh.

Jangan Berhenti pada Pencarian “Kambing Hitam”

Dalam sistem perbankan, pengelolaan uang tunai seharusnya memiliki mekanisme pencatatan, verifikasi, rekonsiliasi dan pengawasan.

Karena itu, apabila dugaan fraud tersebut terbukti, publik berhak mengetahui bagaimana penyimpangan itu bisa terjadi, kapan mulai berlangsung, berapa nilai kerugian sebenarnya, siapa yang mengetahui, serta mengapa sistem pengawasan tidak segera mendeteksinya.

Persoalannya bukan sekadar siapa yang mengambil atau menggunakan uang, tetapi juga bagaimana celah pengawasan bisa terbuka sedemikian lebar.

Jangan sampai persoalan bernilai miliaran rupiah kemudian disederhanakan menjadi kesalahan satu pegawai semata, sementara kelemahan sistem dan fungsi pengawasan justru tidak pernah dibedah secara terbuka.

Kepala Cabang Belum Memberikan Klarifikasi

Untuk memperoleh konfirmasi, wartawan telah berupaya menghubungi Kepala Cabang BMM Tual, Ridwan Tuahena, melalui pesan WhatsApp dan sambungan telepon.

Namun hingga berita ini ditulis, upaya konfirmasi tersebut belum memperoleh respons.

Redaksi tetap membuka ruang bagi pihak BMM Cabang Tual maupun pihak-pihak lain yang disebut dalam pemberitaan ini untuk memberikan klarifikasi, bantahan, atau penjelasan sesuai fakta.

Pernah Digeledah Kejaksaan

Sorotan terhadap BMM Cabang Tual juga bukan kali pertama terjadi.

Pada Oktober 2025, kantor BMM Cabang Tual sempat menjadi lokasi penggeledahan oleh Kejaksaan Negeri Tual dalam perkara yang saat itu menjadi perhatian publik.

Kini, muncul kembali informasi mengenai dugaan fraud dengan nilai yang disebut mencapai Rp6–8 miliar.

Rangkaian informasi tersebut membuat publik menuntut satu hal: transparansi.

Jika dugaan itu tidak benar, maka penjelasan resmi penting untuk membersihkan nama institusi dan pihak-pihak yang disebut. Namun apabila dugaan tersebut benar, masyarakat tentu berharap proses pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, profesional dan tidak berhenti pada satu nama.

Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan hanya angka miliaran rupiah, tetapi kredibilitas pengawasan perbankan dan kepercayaan masyarakat terhadap Bank Maluku-Maluku Utara.

Editor: Bruce Elang