Dulu Bicara Netralitas, Kini Mengaku Jadi Pilar Kemenangan” — Pernyataan Iwan Makatita Guncang Publik Mimika
“Dulu Bicara Netralitas, Kini Mengaku Jadi Pilar Kemenangan” — Pernyataan Iwan Makatita Guncang Publik Mimika
MIMIKA Tribunnusantara-web.id — Pernyataan pimpinan media sekaligus wartawan, Iwan Makatita, kini mengguncang ruang publik Mimika. Sosok yang selama Pilkada 2024 dikenal lantang berbicara soal netralitas dan independensi pers itu, kini justru dinilai membuka sendiri dugaan keterlibatan politik yang selama ini dibantah di hadapan masyarakat.
Gelombang kritik keras datang dari Advokat dan Konsultan Hukum Valentinus Ulahayanan, SH., MH., atau yang akrab di Valen Kei. Menurutnya, pernyataan tersebut menjadi ironi besar bagi dunia jurnalistik lokal.19/05/2026
“Dulu ketika masyarakat mengkritik keberpihakan media, jawabannya selalu pers netral dan independen. Tapi sekarang justru muncul pengakuan sebagai tiang pilar kemenangan pasangan calon tertentu. Ini publik tidak lupa,” tegas Valen Kei.
Saat Pilkada Mimika 2024 berlangsung, sejumlah masyarakat dan netizen memang sempat menyoroti beberapa media dan wartawan yang dinilai terlalu dekat dengan pasangan calon tertentu. Namun semua kritik kala itu dibantah dengan dalih profesionalisme pers dan kebebasan jurnalistik.
Narasi “pers tetap netral” terus digaungkan untuk meredam tudingan keberpihakan politik.
Namun memasuki 19 Mei 2026, publik justru dibuat tercengang. Dalam pernyataan yang kini beredar luas, Iwan Makatita disebut mengakui bahwa mereka merupakan “tiang pilar” dan penyangga vital kemenangan pasangan Joel hingga berhasil menjadi Bupati dan Wakil Bupati Mimika.
Pernyataan itu langsung memantik pertanyaan serius: apakah media selama Pilkada benar-benar berdiri independen, atau justru ikut bermain dalam pertarungan politik praktis?
Valen Kei menilai, pengakuan tersebut menjadi pukulan telak terhadap marwah pers di Mimika.
“Pers itu pilar demokrasi, bukan alat politik kekuasaan. Kalau wartawan sudah ikut bermain memenangkan kandidat, maka publik berhak mempertanyakan objektivitas seluruh pemberitaan yang diproduksi,” katanya tajam.
Ia juga mengingatkan bahwa kepercayaan publik terhadap media dibangun dari independensi dan keberanian menjaga jarak dari kekuasaan. Ketika prinsip itu runtuh, maka legitimasi pers ikut dipertaruhkan.
Almarhum J.E. Sahetapy pernah mengingatkan bahwa “setitik nila merusak susu sebelanga.” Ungkapan itu kini dinilai relevan dengan situasi yang sedang menjadi sorotan tajam masyarakat Mimika.
Di tengah polemik yang terus memanas, publik kini mulai bertanya-tanya: apakah selama ini masyarakat disuguhi informasi yang objektif, atau justru diarahkan secara halus demi kepentingan politik tertentu?
Pertanyaan itu kini menjadi bola panas yang terus bergulir di Mimika.
*Singa*








































Komentar via Facebook