Ekonomi Mimika Terpuruk Dua Tahun Berturut-turut, Kontraksi Minus 11,33 Persen Jadi Alarm Keras bagi Pemerintah

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 22 Juli 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Ekonomi Mimika Terpuruk Dua Tahun Berturut-turut, Kontraksi Minus 11,33 Persen Jadi Alarm Keras bagi Pemerintah

Ekonomi Mimika Terpuruk Dua Tahun Berturut-turut, Kontraksi Minus 11,33 Persen Jadi Alarm Keras bagi Pemerintah

Ketergantungan pada sektor tambang dinilai memperlemah fondasi ekonomi daerah. Pengangguran meningkat, daya beli melemah, dan sektor riil mulai tertekan.

TIMIKA, Papua Tengah Kabarsulselindonesia.web.id  – Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Mimika menunjukkan tren yang mengkhawatirkan dalam dua tahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mimika mencatat pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya mencapai 6,53 persen pada 2023, turun menjadi 3,54 persen pada 2024, dan semakin terpuruk hingga mengalami kontraksi minus 11,33 persen pada Triwulan I Tahun 2026.

Penurunan tajam tersebut menjadi sinyal serius bahwa perekonomian Mimika sedang menghadapi tekanan yang tidak bisa lagi dianggap sebagai fluktuasi biasa. Ketergantungan yang sangat besar terhadap sektor pertambangan membuat struktur ekonomi daerah rentan ketika aktivitas produksi mengalami perlambatan.22/07/2026

Pemerhati sosial, Deby Santoso, menilai kontraksi ekonomi tersebut telah memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat. Menurutnya, perlambatan ekonomi tidak hanya tercermin dalam angka statistik, tetapi juga dirasakan langsung melalui meningkatnya pengangguran, melemahnya daya beli, serta lesunya aktivitas perdagangan di tingkat lokal.

   "Ketika sektor utama mengalami perlambatan, efek dominonya langsung dirasakan sektor-sektor penunjang seperti konstruksi, perdagangan, transportasi hingga pelaku UMKM. Akibatnya lapangan kerja menyusut dan masyarakat kehilangan sumber penghasilan," ujar Deby Santoso.

Pengangguran Membayangi Mimika

Deby menjelaskan bahwa kontraksi pada sektor pertambangan turut memukul perusahaan-perusahaan subkontraktor yang selama ini menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Mimika. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan mendorong kenaikan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT).

Menurutnya, apabila kondisi ini terus berlangsung tanpa langkah strategis pemerintah daerah, maka persoalan sosial seperti kemiskinan dan kesenjangan ekonomi berpotensi semakin meningkat.

Daya Beli Melemah, Inflasi Tetap Menekan

Di sisi lain, pelemahan ekonomi juga berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat. Pendapatan yang berkurang menyebabkan perputaran uang di pasar lokal ikut melambat sehingga aktivitas perdagangan mengalami penurunan

Meskipun inflasi masih berada dalam kisaran yang relatif terkendali, kelompok kebutuhan pokok seperti makanan dan perumahan tetap menjadi penyumbang utama kenaikan harga. Kondisi ini semakin membebani masyarakat berpenghasilan rendah yang harus menghadapi pendapatan menurun di tengah biaya hidup yang tetap tinggi.

Deby menilai kondisi tersebut mengarah pada gejala stagflasi, yakni situasi ketika pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi sementara tekanan harga pada sejumlah komoditas strategis masih berlangsung.

Momentum Evaluasi Kebijakan Ekonomi Daerah

Deby Santoso menegaskan bahwa kondisi ini harus menjadi bahan evaluasi serius bagi Pemerintah Kabupaten Mimika. Ia mendorong pemerintah agar tidak lagi terlalu bergantung pada sektor pertambangan sebagai penggerak utama ekonomi daerah.

Diversifikasi ekonomi melalui penguatan sektor pertanian, perikanan, pariwisata, UMKM, dan industri kreatif dinilai menjadi langkah penting untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru sekaligus membuka lapangan kerja yang lebih luas.

Menurutnya, kontraksi ekonomi sebesar minus 11,33 persen bukan sekadar angka statistik, melainkan peringatan keras bahwa Mimika membutuhkan kebijakan ekonomi yang lebih adaptif, berkelanjutan, dan berpihak pada penguatan ekonomi masyarakat.

Penulis : Deby Santoso

Editor : Bruce Elang