Erna Sujarwati Sentil Politik Kuota: Perempuan Jangan Hanya Jadi Pajangan Demokrasi
Kabarsulsel-Indonesia.web.id. Lamongan — Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Lamongan, Erna Sujarwati, melontarkan kritik tajam terhadap praktik politik yang masih menjadikan perempuan sekadar pelengkap administrasi demi memenuhi kuota keterwakilan 30 persen.
Pernyataan itu disampaikan Erna saat pelantikan Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan se-Kabupaten Lamongan yang dihadiri sekitar 1.800 kader partai, Kamis (19/5/2026).
Di hadapan ribuan kader, Erna menegaskan perempuan tidak boleh lagi diposisikan hanya sebagai “pajangan demokrasi” yang hadir saat pemilu tetapi minim ruang menentukan arah kebijakan dan kepemimpinan politik.
“30 persen keterwakilan perempuan jangan hanya dijadikan formalitas untuk memenuhi syarat undang-undang. Perempuan harus hadir sebagai kekuatan politik yang nyata, bukan sekadar pelengkap struktur,” tegasnya.
Erna menilai budaya patriarki masih menjadi tembok besar yang membatasi perempuan masuk dalam ruang pengambilan keputusan. Karena itu, menurutnya, perempuan harus berani merebut ruang politik dan tidak terus berada di bawah bayang-bayang dominasi laki-laki.
Ia juga mengingatkan kembali gagasan Sukarno dalam buku Sarinah yang menempatkan perempuan sebagai tiang negara dan penggerak perubahan sosial.
“Bung Karno sejak dulu sudah bicara soal emansipasi dan kekuatan perempuan. Ironis kalau hari ini perempuan masih dianggap pelengkap dalam politik,” katanya tajam.
Menurut Erna, kehadiran perempuan dalam politik harus membawa perspektif keberpihakan terhadap rakyat kecil, keadilan sosial, dan persoalan perempuan yang selama ini kerap diabaikan dalam kebijakan publik.
Ia juga mendorong generasi muda perempuan agar tidak takut masuk dunia politik dan memulai proses kaderisasi dari tingkat paling bawah.
“Kalau perempuan terus takut masuk politik, maka ruang kebijakan akan terus dikuasai kelompok yang tidak memahami kebutuhan perempuan dan rakyat kecil,” ujarnya.
Erna menegaskan, politik bukan ruang eksklusif laki-laki. Karena itu, kader perempuan harus berani tampil, bersuara, dan mengambil posisi strategis dalam partai maupun pemerintahan.
“Perempuan jangan hanya dipanggil saat kampanye atau dijadikan alat pendulang suara. Perempuan harus ikut menentukan arah kebijakan dan masa depan bangsa,” tandasnya.
Pelantikan PAC PDI Perjuangan Lamongan itu sekaligus menjadi momentum konsolidasi kader akar rumput dan penguatan peran perempuan dalam struktur politik partai menjelang agenda politik mendatang.
(Elang)








































Komentar via Facebook