FABEM–SM Soroti Polemik Pernyataan Saiful Mujani, Ajak Publik Tetap Rasional

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 09 April 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

FABEM–SM Soroti Polemik Pernyataan Saiful Mujani, Ajak Publik Tetap Rasional

Jakarta, TribunNusantara.web.id | Polemik pernyataan pengamat politik Saiful Mujani yang dinilai mengarah pada ajakan menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto memantik perdebatan di ruang publik. Isu tersebut bergulir cepat dan menjadi perbincangan di tengah situasi politik nasional yang masih sensitif pasca pemilu.

Sejumlah pemberitaan menyebutkan Saiful mendorong konsolidasi untuk menurunkan Presiden Prabowo. Pernyataan itu kemudian menuai kritik karena dinilai berpotensi kontroversial jika dimaknai sebagai ajakan di luar mekanisme demokrasi yang sah.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Umum DPP Forum Alumni Badan Eksekutif Mahasiswa–Senat Mahasiswa (FABEM–SM) Bidang Hukum dan Antar Lembaga, Tody Ardiansyah Prabu, menyampaikan pandangan yang cenderung netral namun kritis. Ia mengatakan setiap pernyataan publik, terlebih dari kalangan intelektual, semestinya ditempatkan dalam kerangka demokrasi yang sehat dan konstitusional.

“Kritik terhadap pemerintah adalah bagian dari demokrasi. Namun penyampaiannya perlu proporsional dan tidak menimbulkan tafsir yang bisa memicu instabilitas politik,” ujar Tody dalam keterangan tertulis, Selasa.

Menurut dia, penting membedakan antara kritik konstruktif dan narasi yang berpotensi mendelegitimasi hasil demokrasi. FABEM–SM, kata dia, memandang kehati-hatian dalam menyampaikan opini sebagai hal mendasar agar tidak memicu kegaduhan di tengah masyarakat yang beragam, baik dari sisi tingkat pendidikan maupun kondisi ekonomi.

Di sisi lain, organisasi alumni mahasiswa itu mengapresiasi sikap pemerintah yang memilih tetap fokus bekerja di tengah polemik. Pihak Istana sebelumnya menyatakan Presiden memprioritaskan agenda strategis dan pelayanan publik.

Tody menilai pendekatan tersebut penting untuk menjaga stabilitas nasional. Polemik politik, kata dia, seharusnya tidak mengganggu jalannya pemerintahan, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi, sosial, serta dinamika geopolitik global.

Lebih jauh, FABEM–SM mendorong agar ruang diskusi publik tetap terbuka dengan diiringi kedewasaan dalam berpendapat. Peran akademisi, aktivis, dan tokoh publik dinilai penting untuk menjaga kualitas demokrasi, bukan memperkeruh suasana.

Selama ini, FABEM–SM dikenal aktif mendorong literasi politik di kalangan mahasiswa dan alumni BEM di berbagai daerah. Melalui forum diskusi, kajian kebijakan, hingga advokasi, organisasi tersebut mengklaim berupaya menjembatani aspirasi masyarakat dan mahasiswa dalam proses demokrasi.

Bagi FABEM–SM, polemik ini semestinya menjadi momentum untuk memperkuat budaya demokrasi yang sehat. Perbedaan pandangan, menurut mereka, tidak perlu dihindari, tetapi dikelola secara bijak dan bertanggung jawab.

Organisasi itu pun mengajak seluruh elemen masyarakat mengedepankan dialog dan rasionalitas. Di tengah dinamika politik dan ketidakpastian global, menjaga keseimbangan antara kebebasan berpendapat, partisipasi publik, penegakan hukum, pertumbuhan ekonomi rakyat, serta stabilitas nasional dinilai menjadi kunci merawat demokrasi.