Fenomena "Orang Saya" Dinilai Mengkhawatirkan, Profesionalisme Organisasi Terancam
Fenomena "Orang Saya" Dinilai Mengkhawatirkan, Profesionalisme Organisasi Terancam
TIMIKA Tribunnusantara-web.id – Praktik penempatan pejabat dan pimpinan organisasi berdasarkan kedekatan personal maupun kelompok tertentu mulai mendapat sorotan dari sejumlah kalangan. Fenomena yang populer disebut "orang saya" dinilai berpotensi menggerus profesionalisme serta merusak tata kelola organisasi, baik di lingkungan pemerintahan maupun sektor swasta.
Salah satu tokoh masyarakat, Viktor, sebelumnya menyampaikan harapan agar setiap jabatan strategis diisi oleh figur yang memiliki kapasitas, integritas, dan kemampuan sesuai kebutuhan organisasi.03/06/2026
Namun, menurut sejumlah pengamat dan masyarakat, harapan tersebut kerap berbenturan dengan realitas di lapangan.
"Yang menjadi kekhawatiran adalah ketika setiap pergantian pimpinan selalu diikuti upaya menempatkan 'orang sendiri' di berbagai posisi strategis. Jika itu terjadi terus-menerus, maka kompetensi dan profesionalisme bisa terabaikan," ujar salah satu pemerhati kebijakan publik.
Menurutnya, jabatan publik maupun posisi strategis dalam organisasi seharusnya diisi berdasarkan kemampuan, pengalaman, dan rekam jejak, bukan semata-mata karena faktor kedekatan dengan pihak tertentu.
Ia menilai budaya patronase seperti itu berpotensi menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat serta menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi.
"Ketika ukuran utama bukan lagi kemampuan tetapi kedekatan, maka yang dirugikan bukan hanya organisasi, melainkan juga masyarakat yang menjadi penerima layanan," katanya.
Fenomena tersebut dinilai perlu menjadi perhatian bersama, terutama di tengah tuntutan publik akan tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan profesional.
Sejumlah kalangan berharap proses pengisian jabatan, baik di pemerintahan maupun lembaga lainnya, tetap mengedepankan prinsip meritokrasi agar organisasi dapat berjalan efektif dan menghasilkan pelayanan yang berkualitas.
"Institusi yang kuat dibangun oleh kompetensi dan integritas sumber daya manusianya, bukan oleh banyaknya orang yang memiliki kedekatan dengan pimpinan," tegasnya.
Pengamat juga mengingatkan bahwa praktik penempatan jabatan berdasarkan kedekatan dapat memunculkan persepsi negatif di tengah masyarakat dan berpotensi menghambat lahirnya sumber daya manusia yang unggul serta kompetitif.
Karena itu, prinsip profesionalisme dan objektivitas dalam pengisian jabatan dinilai harus tetap menjadi prioritas demi menjaga kualitas organisasi dan kepercayaan publik.
Editor : Bruce Elang








































Komentar via Facebook