Festival UMKM Mimika 2026 Ditutup: Omzet Naik, Samuel Yogi Desak Festival Tak Berhenti Jadi Seremoni

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 12 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Festival UMKM Mimika 2026 Ditutup: Omzet Naik, Samuel Yogi Desak Festival Tak Berhenti Jadi Seremoni

Festival UMKM Mimika 2026 Ditutup: Omzet Naik, Samuel Yogi Desak Festival Tak Berhenti Jadi Seremoni

MIMIKA Tribunnusantara-web.id  — Festival UMKM Mimika 2026 resmi ditutup setelah menjadi ruang promosi, transaksi, dan pertemuan langsung antara pelaku usaha dengan masyarakat. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Mimika, Samuel Yogi, menyebut pelaksanaan tahun ini memberikan dampak positif bagi pelaku UMKM, termasuk adanya peningkatan omzet dibandingkan tahun sebelumnya.12/08/2026

Festival yang berlangsung pada 10–12 Agustus 2026 di Halaman Graha Eme Neme Yauware tersebut diikuti 125 pelaku UMKM dengan beragam produk lokal, mulai dari kuliner, noken, aksesori, kopi Mimika hingga berbagai produk kreatif lainnya.

Namun bagi Samuel, keberhasilan festival tidak boleh hanya diukur dari ramainya pengunjung selama tiga hari. Tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah panggung festival dibongkar dan para pelaku UMKM kembali menjalankan usahanya.

Omzet Naik, Produk OAP Mulai Dilirik Pembeli

Samuel mengungkapkan bahwa pelaku UMKM merasakan adanya peningkatan transaksi dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya.

“Omzet naik dari tahun lalu. Ada pembeli dan ada transaksi produk kami, termasuk produk OAP,” ujar Samuel.

Menurutnya, meningkatnya transaksi menjadi sinyal bahwa produk lokal Mimika memiliki pasar apabila diberikan ruang promosi dan akses yang tepat.

Karena itu, pemerintah tidak boleh berhenti pada kegiatan festival. Promosi harus dilanjutkan dengan membuka akses pasar yang lebih permanen agar produk UMKM, khususnya produk Orang Asli Papua (OAP), tidak hanya dikenal ketika sebuah festival berlangsung.

“Jangan Stop Setelah Festival”

Samuel menegaskan, festival tidak boleh menjadi kegiatan seremonial yang selesai bersamaan dengan penutupan acara.

Ia justru mendorong agar momentum Festival UMKM Mimika 2026 dijadikan titik awal untuk membangun ekosistem usaha yang lebih berkelanjutan.

 “Jangan stop setelah festival.”»

Pesan tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah maupun seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan produk UMKM tetap memiliki ruang pemasaran setelah kegiatan berakhir.

Apalagi Dinas Koperasi dan UKM Mimika memang memiliki mandat untuk meningkatkan produktivitas, daya saing, serta pemberdayaan UKM sebagai pelaku ekonomi daerah.

Bidik Festival 2027 Lebih Besar

Samuel juga membuka harapan agar Festival UMKM Mimika kembali digelar pada 2027 dengan skala yang lebih besar dan konsep yang lebih matang.

Keinginan tersebut bukan sekadar mengulang kegiatan yang sama, melainkan meningkatkan kualitas promosi, jumlah transaksi, jangkauan pasar, serta keterlibatan pelaku UMKM lokal.

 “Mau ada lanjutan 2027, lebih naik dari tahun ini.”»

Pernyataan itu menegaskan bahwa festival berikutnya diharapkan tidak hanya lebih ramai, tetapi juga mampu menghasilkan dampak ekonomi yang lebih besar dan terukur bagi pelaku usaha.

Dorong Rumah UMKM Adat Dibuka Setiap Hari

Gagasan yang lebih jauh juga disampaikan Samuel, yakni menghadirkan Rumah UMKM Adat sebagai ruang pemasaran produk lokal yang dapat beroperasi setiap hari.

Konsep ini dinilai dapat menjadi jawaban atas persoalan klasik UMKM: produk tersedia, tetapi ruang pemasaran dan akses pembeli tidak selalu tersedia.

 “Mau Rumah UMKM Adat, jual tiap hari.”»

Jika gagasan tersebut diwujudkan, Rumah UMKM Adat dapat menjadi etalase permanen produk lokal Mimika sekaligus ruang promosi bagi produk OAP, kerajinan khas Papua, kuliner lokal, kopi, noken, serta berbagai produk kreatif lainnya.

Dengan demikian, pelaku UMKM tidak harus menunggu festival untuk mendapatkan pembeli.

Jangan Biarkan Festival Berakhir sebagai Seremoni

Festival UMKM 2026 telah memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk sekaligus melakukan transaksi. Namun keberhasilan jangka panjang akan sangat bergantung pada apa yang dilakukan pemerintah setelah festival ditutup.

Sebab, UMKM tidak hidup dari panggung dan spanduk. UMKM hidup dari pembeli, transaksi, akses pasar, pendampingan, modal, kualitas produk, dan keberlanjutan usaha.

Karena itu, gagasan melanjutkan festival pada 2027 dan membangun Rumah UMKM Adat patut didorong menjadi program konkret, bukan sekadar wacana.

Bila momentum ini benar-benar ditindaklanjuti, Festival UMKM Mimika tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi dapat berkembang menjadi mesin penggerak ekonomi lokal dan pintu masuk produk OAP menuju pasar yang lebih luas.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Mimika

Samuel Yogi

Editor: Bruce Elang