Forum Harmoni Kebangsaan Mimika: Rawat Persatuan, Buka Ruang Dialog

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 12 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Forum Harmoni Kebangsaan Mimika: Rawat Persatuan, Buka Ruang Dialog

Forum Harmoni Kebangsaan Mimika: Rawat Persatuan, Buka Ruang Dialog

MIMIKA, PAPUA TENGAH Tribunnusantara-web.id — Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Mimika tidak sekadar diramaikan dengan perlombaan. Forum Harmoni Kebangsaan menjadikannya momentum untuk memperkuat persatuan, menanamkan nilai Pancasila sejak dini, sekaligus mendorong terbukanya ruang dialog antara masyarakat dan pemerintah.

Puncak kegiatan ditandai dengan Dialog Kebangsaan Forum Harmoni Kebangsaan, yang mempertemukan tokoh adat Papua, tokoh agama, organisasi kepemudaan, aparat keamanan, pelaku usaha, dan masyarakat.

Ketua Forum Harmoni Kebangsaan, Abah Saleh Al-Hamid, menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan lahir dari inisiatif masyarakat dan dilaksanakan secara mandiri.12/08/2026

 “Ini dari kita, untuk kita. Kami tidak membuat proposal kepada pemerintah. Seluruh kegiatan kami laksanakan secara mandiri, termasuk hadiah dan kebutuhan kegiatan,” ujar Saleh.»

Ia menyebut total biaya kegiatan sekitar Rp14 juta, yang berasal dari partisipasi pribadi serta dukungan sejumlah pengusaha.

Menurut Saleh, semangat tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap bangsa tidak harus selalu menunggu dukungan pemerintah. Masyarakat, kata dia, memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga persatuan dan menghidupkan semangat kebangsaan.

Pancasila Jangan Sekadar Dihafal

Sebelum dialog digelar, Forum Harmoni Kebangsaan melaksanakan sejumlah kegiatan, mulai dari pertandingan gaple/domino hingga lomba menghafal Pancasila, teks Proklamasi Kemerdekaan, dan Pembukaan UUD 1945.

Namun, bagi Forum Harmoni Kebangsaan, kegiatan tersebut bukan sekadar perlombaan.

Pesan yang ingin ditanamkan adalah pentingnya generasi muda, khususnya anak-anak Papua, mengenal dasar negara, sejarah kemerdekaan, dan konstitusi Indonesia.

“Kalau kita mau bicara bangsa dan negara, kita harus memahami Pancasila, Proklamasi dan Undang-Undang Dasar 1945. Itu dasar yang harus diketahui generasi muda,” tegas Saleh.

Ia berharap anak-anak tidak berhenti pada kemampuan menghafal, tetapi mampu memahami dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan Kebangsaan Harus Dimulai Sejak Dini

Saleh menilai pendidikan kebangsaan tidak boleh hanya muncul menjelang peringatan hari kemerdekaan. Sekolah dan lingkungan keluarga dinilai memiliki peran penting dalam membangun pemahaman generasi muda mengenai Pancasila, sejarah perjuangan bangsa, serta konstitusi.

“Kami berharap anak-anak ini tidak hanya hafal untuk mengikuti lomba. Mereka harus memahami maknanya. Pancasila harus menjadi bagian dari kehidupan mereka, begitu juga Proklamasi dan UUD 1945,” katanya.

Menurutnya, penguatan wawasan kebangsaan menjadi semakin penting di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang suku, agama, budaya, dan kepentingan yang beragam.

Apresiasi untuk TNI, Polri dan Pengusaha

Forum Harmoni Kebangsaan juga memberikan apresiasi kepada jajaran TNI dan Polri yang hadir dalam kegiatan tersebut, termasuk Kapolres Mimika.

Sejumlah pengusaha turut memberikan dukungan untuk pembiayaan kegiatan. Menurut Saleh, dukungan tersebut memperlihatkan bahwa semangat kebangsaan dapat dibangun secara bersama-sama tanpa membedakan latar belakang.

“Kapolres luar biasa karena hadir memenuhi undangan kami. Dari TNI juga hadir. Ada pengusaha yang membantu, ada yang Rp2 juta, ada yang Rp3 juta. Semuanya kita gunakan untuk kegiatan ini,” ujarnya.

Ia menegaskan Forum Harmoni Kebangsaan bukan wadah untuk mencari keuntungan, melainkan ruang bersama bagi masyarakat untuk bertemu, berdiskusi, dan menyampaikan aspirasi.

Masyarakat Minta Pemerintah Buka Ruang Komunikasi

Di balik pesan persatuan, dialog juga menyentuh sejumlah persoalan yang langsung berkaitan dengan kehidupan masyarakat Mimika, terutama ekonomi, kesempatan usaha, ketenagakerjaan, dan pembangunan di Papua.

Berbagai masukan tersebut akan dirangkum untuk disampaikan kepada pemerintah daerah sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan.

Saleh menilai komunikasi antara pemerintah dan masyarakat tidak boleh tersumbat. Pemerintah membutuhkan suara masyarakat, sementara masyarakat membutuhkan ruang yang terbuka untuk menyampaikan persoalan secara langsung.

“Ruang pertemuan dengan masyarakat harus dibuka. Jangan sampai komunikasi tersumbat. Masyarakat harus bisa menyampaikan keluhan dan pemerintah juga bisa mendengar langsung apa yang menjadi kebutuhan masyarakat,” tegasnya.

Dorong Dialog Lanjutan dengan Pemkab Mimika

Forum Harmoni Kebangsaan membuka peluang menggelar dialog lanjutan dengan melibatkan Bupati Mimika dan jajaran pemerintah daerah.

Pertemuan tersebut diharapkan tidak berhenti pada diskusi, tetapi dapat menghasilkan langkah konkret terhadap berbagai persoalan yang disampaikan masyarakat.

“Kalau dalam rapat nanti disepakati untuk mengundang pemerintah, tentu kita akan mengundang. Bisa saja pemerintah menunjuk perwakilan untuk hadir. Yang penting komunikasi tidak boleh terputus,” kata Saleh.

Dari Mimika untuk Indonesia

Forum Harmoni Kebangsaan menegaskan bahwa kemerdekaan tidak cukup hanya dirayakan, tetapi harus diisi dengan tindakan nyata: menjaga persatuan, memperkuat kebinekaan, membangun komunikasi, dan mempersiapkan generasi yang memahami nilai-nilai kebangsaan.

Dari Mimika, pesan itu disuarakan sederhana namun tegas: masyarakat tidak hanya ingin menjadi penonton pembangunan, tetapi juga ingin dilibatkan dalam dialog dan proses menentukan arah daerah.

Saleh berharap kegiatan tersebut dapat menjadi agenda berkelanjutan.

“Semoga kegiatan ini menjadi inspirasi. Tahun depan kita akan buat lagi. Kita ingin anak-anak Papua semakin mengenal Pancasila, Proklamasi dan UUD 1945. Dari hal-hal kecil seperti ini kita membangun rasa cinta kepada bangsa dan negara,” pungkasnya.

Abah Saleh Al-Hamid

Ketua Forum Harmoni Kebangsaan

Pesan Forum Harmoni Kebangsaan:

Dari Mimika untuk Indonesia: rawat kebinekaan, kuatkan persatuan, buka ruang dialog, dan siapkan generasi Papua yang memahami Pancasila, Proklamasi, serta konstitusi bangsa.

Penulis: M. Gunawan F

Editor: Bruce Elang