'Gatik Panggil Pulang': Malam Badonci Satu Abad Jemaat Gatik Satukan Dua Negeri dan Diaspora Dunia di Bawah JMP
AMBON,Tribun-nusantara.web.id. Suasana di bawah ikon Jembatan Merah Putih (JMP) Kota Ambon berubah menjadi lautan manusia yang penuh haru dan kegembiraan. Ribuan warga berkumpul dalam acara Malam Badonci, sebuah pesta rakyat yang menjadi puncak dari seluruh rangkaian perayaan Satu Abad Jemaat GPM Galala Hatiwe Kecil (Gatik).
Perayaan 100 tahun ini mengukir sejarah unik di Maluku, di mana dua institusi adat yang berbeda—Negeri Galala dan Negeri Hatiwe Kecil—mampu hidup rukun dan bersatu kokoh selama seabad dalam naungan satu atap pelayanan gereja.
Sukses Karena Kebersamaan, Bukan Hanya Pemimpin
Kepala Desa Galala, Mike Joris, tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya melihat antusiasme warga yang begitu luar biasa. Sepanjang malam, panggung pentas seni diguncang oleh bakat-bakat emas dari anak-anak muda Jemaat Gatik.
"Malam hari ini kita semua berkumpul mensyukuri malam terakhir dari rangkaian pelaksanaan satu abad. Kebersamaan ini sangat luar biasa. Kita bisa melihat bagaimana bakat dan potensi anak-anak kita ditampilkan dalam pentas seni," ujar Mike Joris di sela-sela acara.
Mike juga memberikan motivasi mendalam bagi seluruh warganya mengenai esensi pembangunan desa. Menurutnya, kesuksesan perayaan ini adalah cerminan bagaimana sebuah negeri harus dibangun ke depan.
"Membangun sebuah desa atau negeri itu bukan sekadar tugas pimpinan atau staf saja. Semua elemen masyarakat harus bahu-bahu untuk membangun desa," tegasnya.
Fenomena 'Gatik Panggil Pulang' Hingga ke Eropa
Sementara itu, Raja Negeri Hatiwe Kecil, Josias Johan Muryani, menjelaskan bahwa Jemaat Gatik memiliki keunikan sosiologis yang sangat kuat. Melalui penelitian literatur yang panjang, mereka berhasil merawat keunikan dua negeri yang menyatu dalam satu jemaat ini hingga mencapai usia 100 tahun pada 2 September 2026.
Perayaan satu abad ini memicu fenomena kultural yang mereka sebut sebagai gerakan "Gatik Panggil Pulang". Istilah ini merujuk pada gelombang mudik massal warga diaspora Gatik yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia hingga luar negeri.
"Basudara kita tidak hanya datang dari wilayah Maluku Lease, tetapi juga dari Jakarta, Surabaya, Makassar, Manado, bahkan dari Irlandia dan Belanda. Kami sangat bangga dan terkesan. Ini membuktikan bahwa biar mereka sudah jauh dan menetap di mana pun, mereka tidak lupa pada tempat putus pusar (tanah kelahiran) mereka," ungkap Josias penuh haru.
Merajut Harmoni bersama Pela dan Gandong (Hitu Lama & Hitu Mesing) Keindahan perayaan satu abad ini semakin lengkap dengan keterlibatan aktif dari basudara Muslim yang merupakan ikatan adat mereka, yaitu Negeri Hitu Lama (Pela/Gandong dari Galala) dan Negeri Hitu Mesing (Pela/Gandong dari Hatiwe Kecil). Hubungan persaudaraan sejati khas Maluku ini terlihat nyata mulai dari prosesi penyambutan tamu dari luar daerah hingga kemeriahan Malam Badonci. Warga Hitu Lama dan Hitu Mesing turut berbaur dan merayakan kegembiraan bersama saudara Kristen mereka di bawah kolong JMP.
"Kita berkolaborasi sangat baik. Kemarin dan malam ini, banyak sekali partisipasi dari basudara Hitu Lama dan Hitu Mesing. Mereka datang ke sini karena ingin bersenang-senang dan melepas rindu dengan saudara mereka," tambah Josias.
Pesan untuk Abad Kedua: Abadikan Sejarah
Mengingat momen ini hanya terjadi sekali dalam seabad, Raja Hatiwe Kecil berpesan kepada seluruh generasi muda untuk mendokumentasikan dan mengabadikan seluruh rangkaian acara dengan baik.
"Untuk menuju ke abad kedua, saya rasa kita semua yang ada di sini mungkin sudah meninggal dunia. Karena itu, ini adalah momen yang sangat penting. Abadikan ajang ini dalam bentuk foto dan video. Ke depan, ini akan menjadi sejarah yang dilihat oleh anak cucu kita, bahwa pada satu abad tanggal 2 September 2026, inilah orang-orang tua mereka," pungkas Josias menutup wawancara sebelum bergabung kembali dalam kehangatan Malam Badonci.
(H.R)








































Komentar via Facebook