Gen Z Tual Naik Panggung: Seni, Budaya dan Literasi Jadi Energi Baru Anak Muda Kei
Gen Z Tual Naik Panggung: Seni, Budaya dan Literasi Jadi Energi Baru Anak Muda Kei
MALUKU TENGGARA Tribunusantara-web.id — Generasi Z di Kota Tual dan Maluku Tenggara menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak harus menjauhkan anak muda dari seni, budaya dan literasi. Pesan itu mengemuka dalam Pentas Seni Angkatan XXIV Program Studi Ilmu Komunikasi STIS Tual yang dirangkaikan dengan Launching Dies Natalis ke-25 STIS Tual, di Taman Landmark Kabupaten Maluku Tenggara, Jumat (11/9/2026).
Mengusung tema “Gen Z: Our Era, Our Stage”, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menampilkan kreativitas sekaligus mengasah kemampuan komunikasi, keberanian tampil di depan publik, kerja sama tim dan kemampuan mengelola sebuah kegiatan.
Panggung yang disiapkan mahasiswa tidak sekadar menjadi tempat hiburan. Di balik setiap penampilan, terdapat proses pembelajaran yang mempertemukan seni, komunikasi, budaya, pendidikan dan literasi.
Beragam pertunjukan disuguhkan, mulai dari tarian Tanimbar, Drama Kei, menyanyi solo, pembacaan puisi, pidato Bahasa Inggris dan Bahasa Kei, dance, fashion show, hingga penampilan sanggar seni dan seniman daerah.
UKM Tari Mahasiswa STIS Tual tampil membawa tarian Tanimbar dan Drama Kei. Sementara Duan Lolat Kabupaten Maluku Tenggara dan Neos Alpha Sanggar Tari Kabupaten Maluku Tenggara ikut memperkaya panggung dengan kekuatan seni dan budaya lokal.
Ekspresi generasi muda juga terlihat melalui penampilan dance dari Ganas dan Spotlight, yang menghadirkan warna berbeda sekaligus memperlihatkan bagaimana anak muda mampu memadukan kreativitas modern dengan identitas budaya daerah.
Sejumlah mahasiswa seperti Nicken, Meylan, Beno, Ayu, Etrin, Oliv, Kiki, Mira dan Ibob turut mengambil bagian dalam rangkaian pertunjukan. Keberanian mereka tampil di hadapan masyarakat menjadi bagian penting dari proses pembentukan kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri.
Bukan Sekadar Pentas, tetapi Laboratorium Pembelajaran
Ketua STIS Tual, Bernardus Rettob, S.Sos., M.AP., menegaskan bahwa Pentas Seni merupakan bagian dari proses pembelajaran mahasiswa.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang praktik bagi mahasiswa untuk menerapkan berbagai kompetensi yang diperoleh melalui mata kuliah seperti Event Organizer, Fotografi, Media Sosial dan Public Speaking.
Tema “Gen Z: Our Era, Our Stage”, kata dia, merupakan pesan agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi atau penonton perubahan zaman.
Mahasiswa justru didorong untuk tampil sebagai pelaku yang mampu menciptakan karya, menyampaikan gagasan dan mengambil peran dalam perubahan melalui komunikasi, teknologi, kreativitas dan pengetahuan.
Dengan demikian, panggung seni menjadi lebih dari sekadar pertunjukan. Ia menjadi laboratorium pembelajaran terbuka, tempat mahasiswa belajar mengelola kegiatan, berkomunikasi, bekerja dalam tim sekaligus mempertanggungjawabkan karya mereka kepada publik.
Seni Bertemu Literasi
Hal menarik lainnya terlihat dari dukungan mobil dinas Perpustakaan Daerah Kota Tual yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Kehadiran fasilitas literasi di tengah pentas seni memberikan pesan bahwa pembangunan kualitas generasi muda tidak cukup hanya melalui kreativitas dan kemampuan tampil.
Seni membutuhkan pengetahuan, sementara kreativitas membutuhkan budaya membaca.
Karena itu, perpaduan antara panggung seni dan fasilitas literasi menjadi simbol bahwa generasi muda membutuhkan ruang untuk berekspresi sekaligus ruang untuk memperluas wawasan.
Di tengah derasnya arus informasi digital, budaya membaca menjadi semakin penting agar anak muda tidak hanya cepat menerima informasi, tetapi juga mampu memahami, menyaring dan mengolah informasi menjadi gagasan serta karya yang bermanfaat.
Yayasan Dorong Kolaborasi dan Ketertiban
Ketua Yayasan STIS Mutiara Tual, Dr. Silvius Rejaan, S.Sos., M.Si., memberikan apresiasi terhadap keterlibatan mahasiswa, dosen dan pemerintah daerah dalam mendukung kegiatan tersebut.
Ia juga mengingatkan seluruh pihak untuk tetap menjaga ketertiban dan keamanan selama seluruh rangkaian kegiatan berlangsung.
Kolaborasi berbagai pihak dinilai menjadi salah satu kekuatan penting dalam menciptakan ruang yang sehat bagi generasi muda untuk berkembang.
Anak Muda Harus Kreatif, tetapi Tidak Kehilangan Jati Diri
Sementara itu, Bupati Maluku Tenggara melalui sambutan yang dibacakan Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Maluku Tenggara, Rasyid, M.Si., menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi generasi muda saat ini.
Generasi Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi, digitalisasi, keterbukaan informasi dan perubahan sosial yang berlangsung cepat. Kondisi tersebut memberikan peluang besar, tetapi sekaligus menuntut anak muda memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan mengambil keputusan secara bijak.
Generasi muda didorong untuk terus mengembangkan kreativitas, kemampuan komunikasi dan kepemimpinan, namun tetap berpegang pada adat, budaya dan kearifan lokal.
Seni dan budaya, dalam konteks tersebut, bukan sekadar warisan masa lalu. Keduanya dapat menjadi sarana memperkuat persaudaraan, membangun karakter dan menjaga identitas masyarakat Maluku Tenggara di tengah perubahan zaman.
Menuju 25 Tahun STIS Tual
Launching tersebut sekaligus menandai dimulainya rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-25 STIS Tual, dengan puncak peringatan dijadwalkan pada 22 November 2026.
Perjalanan seperempat abad STIS Tual menjadi momentum untuk melihat kembali peran pendidikan tinggi dalam menyiapkan generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu berkomunikasi, berkarya dan memberi kontribusi bagi masyarakat.
Dari panggung Taman Landmark Maluku Tenggara, pesan yang dibawa mahasiswa STIS Tual cukup jelas: Gen Z bukan hanya generasi yang hidup bersama teknologi. Mereka juga bisa menjadi generasi yang menciptakan karya, merawat budaya dan menghidupkan kembali budaya literasi.
Jika panggung adalah tempat mereka tampil hari ini, maka masa depan adalah panggung yang lebih besar—dan generasi muda Kei ditantang untuk tampil bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai pencipta perubahan.
Editor: Bruce Elang








































Komentar via Facebook