GMNI Bertemu Direktur, Dorong Politeknik Negeri Tual Jadi Kampus Nasionalis Berbasis Maritim
Langgur, TribunNusantara.web.id | Pertemuan yang berlangsung di lingkungan Politeknik Negeri Tual pada Selasa, 17 Maret 2026, menjadi ruang dialog antara mahasiswa dan pimpinan kampus. Dua komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), yakni Komisariat MRPHP dan Polikant, menggelar silaturahmi bersama Direktur Politeknik, Usman Madubun.
Pertemuan tersebut tidak sekadar seremoni. Sejumlah isu strategis kampus mengemuka, mulai dari problem internal hingga gagasan pengembangan institusi ke depan. Mahasiswa menyampaikan pandangan kritis sekaligus tawaran solusi, menandai peran mereka sebagai mitra dialog, bukan sekadar objek kebijakan.
Dalam diskusi itu, GMNI menekankan posisi strategis Politeknik Negeri Tual sebagai kampus berbasis perikanan. Letaknya yang berada di kawasan kaya sumber daya laut seperti Kota Tual dan Maluku Tenggara dinilai menjadi keunggulan yang belum sepenuhnya dioptimalkan.
“Potensi kelautan di wilayah ini harus dikelola dengan pendekatan keilmuan yang kuat. Kampus memiliki tanggung jawab untuk melahirkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan tersebut,” ujar Petrus Rado, Ketua Komisariat GMNI MRPHP.
Mahasiswa juga berharap kepemimpinan direktur mampu mendorong transformasi kampus ke arah yang lebih progresif, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam membangun karakter mahasiswa. GMNI menilai, penguatan nilai-nilai nasionalisme menjadi penting di tengah keberagaman yang ada di lingkungan kampus.
Sebagai organisasi yang berlandaskan nasionalisme, GMNI turut mendorong Politeknik Negeri Tual menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan lintas agama dan budaya. Kampus, dalam pandangan mereka, bukan hanya ruang belajar, tetapi juga arena pembentukan kesadaran kebangsaan.
Hingga kini, GMNI masih mempertahankan eksistensinya di kampus tersebut melalui dua komisariat aktif. Kehadiran mereka diharapkan terus menjadi bagian dari dinamika intelektual sekaligus kontrol sosial di lingkungan kampus.
Pertemuan itu menegaskan satu hal: dialog antara mahasiswa dan pimpinan kampus tetap menjadi elemen penting dalam menjaga arah pembangunan pendidikan tinggi—terutama di wilayah yang menyimpan potensi besar seperti Maluku Tenggara.








































Komentar via Facebook