Hari Bahasa Ibu Jadi Alarm Bahaya, John NR Gobai: Jika Bahasa Daerah Hilang, Identitas Suku Ikut Punah
Hari Bahasa Ibu Jadi Alarm Bahaya, John NR Gobai: Jika Bahasa Daerah Hilang, Identitas Suku Ikut Punah
PAPUA Tribunnusantara-web.id — Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional setiap 21 Februari kembali menjadi pengingat keras bagi masyarakat Papua tentang ancaman hilangnya bahasa daerah yang kini mulai tergerus zaman.
Dalam sebuah poster bertema pelestarian bahasa ibu yang beredar luas, tokoh Papua, John NR Gobai, menyampaikan pesan tajam bahwa bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas sebuah suku yang tidak tergantikan.
“Bahasa ibu adalah identitas sebuah suku,” demikian kutipan kuat yang menjadi inti pesan dalam poster tersebut.
Pesan itu dinilai sebagai alarm serius di tengah realitas semakin banyak generasi muda yang mulai meninggalkan bahasa daerah dan lebih akrab dengan bahasa luar dalam kehidupan sehari-hari.23/05/2026
Poster bernuansa sederhana dengan dominasi warna abu-abu kecokelatan itu menghadirkan suasana reflektif dan emosional. Foto tokoh Papua yang ditampilkan memperkuat pesan bahwa pelestarian bahasa daerah bukan hanya urusan budaya, tetapi juga perjuangan menjaga jati diri masyarakat adat Papua.
Dalam isi poster juga ditegaskan bahwa pelajaran bahasa daerah di sekolah harus mendapat perhatian lebih serius dari pemerintah maupun dunia pendidikan.
Tidak hanya itu, metode pengajaran bahasa daerah juga dinilai harus lebih kreatif, menarik, dan mengikuti perkembangan zaman agar anak-anak muda tidak merasa asing terhadap bahasa leluhur mereka sendiri.
Selain menyoroti sistem pendidikan, poster tersebut juga menekankan pentingnya kesiapan tenaga pengajar. Calon guru bahasa daerah dinilai perlu dibekali metodologi pengajaran yang baik agar proses belajar tidak membosankan dan mampu membangun kebanggaan terhadap budaya sendiri.
Pesan ini muncul di tengah kekhawatiran banyak pihak terhadap ancaman kepunahan bahasa daerah di Papua yang dikenal memiliki ratusan bahasa suku dengan kekayaan budaya luar biasa.
Jika kondisi itu terus dibiarkan, maka bukan hanya bahasa yang hilang, tetapi juga sejarah, identitas, dan warisan leluhur masyarakat adat Papua.
“Jika bahasa ibu hilang, budaya ikut punah,” menjadi pesan moral yang semakin kuat terasa dari kampanye tersebut.
Poster itu kini mendapat perhatian luas karena dianggap berhasil menyuarakan kegelisahan masyarakat adat terhadap masa depan bahasa daerah di Papua.
Banyak pihak berharap pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat adat tidak lagi memandang bahasa ibu sebagai pelengkap semata, tetapi sebagai benteng terakhir mempertahankan identitas budaya Papua di tengah derasnya arus modernisasi.
(Redaksi/Tribunnusantara)








































Komentar via Facebook