Hari Ditsakmas ke-8, Thaher Hanubun Serukan Penguatan Adat Kei dan Perlindungan Martabat Perempuan
Hari Ditsakmas ke-8, Thaher Hanubun Serukan Penguatan Adat Kei dan Perlindungan Martabat Perempuan
Langgur Tribunnusantara-web.id – Peringatan Hari Nen Dit Sakmas ke-8 Tahun 2026 di Kabupaten Maluku Tenggara menjadi momentum untuk kembali meneguhkan nilai-nilai adat Kei sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga martabat perempuan dalam kehidupan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Bupati Maluku Tenggara, Thaher Hanubun, dalam sambutannya pada seremonial dan ziarah peringatan Hari Nen Dit Sakmas ke-8 di Langgur, Senin (7/9/2026).
Bagi Thaher, peringatan Ditsakmas tidak boleh berhenti sebagai kegiatan mengenang sejarah. Momentum tersebut harus menjadi ruang untuk memahami kembali posisi perempuan dalam sejarah adat Kei serta meneruskan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.
Ditsakmas sendiri, dalam sejarah masyarakat Kei, dikenal sebagai sosok perempuan yang turut hadir bersama para pembesar Kei atau Hila’ai dalam proses penetapan hukum adat Larvul Ngabal. Karena itu, keberadaannya memiliki makna penting dalam perjalanan sejarah dan kehidupan adat masyarakat Kei.
Larvul Ngabal Bukan Sekadar Aturan Adat
Thaher menegaskan, Larvul Ngabal tidak sekadar dipandang sebagai aturan adat, tetapi merupakan fondasi kehidupan bersama masyarakat Kei.
Di dalamnya terkandung nilai tentang penghormatan terhadap sesama manusia, menjaga kehormatan keluarga, melindungi kehidupan, membangun persaudaraan, menjaga perdamaian serta menjalankan tanggung jawab terhadap negeri.
Karena itu, ia mengajak para orang tua, pemangku adat, tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh masyarakat dan terutama generasi muda untuk tidak hanya mengenal nama Ditsakmas.
Lebih dari itu, generasi muda diminta memahami sejarah, adat dan nilai-nilai Larvul Ngabal sebagai bagian penting dari identitas orang Kei.
Thaher mengingatkan, ketika generasi muda mulai kehilangan pemahaman terhadap adat, yang terancam bukan hanya pengetahuan tentang masa lalu, tetapi juga jati diri masyarakat Kei.
Hormati Perempuan, Jangan Mengatasnamakan Adat
Salah satu pesan paling kuat yang disampaikan Bupati adalah mengenai kedudukan perempuan Kei.
Ia menegaskan bahwa perempuan bukan hanya bagian dari masyarakat adat, tetapi merupakan bagian dari kehormatan masyarakat adat itu sendiri.
Karena itu, tidak boleh ada tindakan yang merendahkan martabat perempuan, kekerasan terhadap perempuan maupun penghinaan terhadap kehormatan perempuan. Tidak boleh pula ada budaya yang dijadikan pembenaran terhadap perlakuan tidak adil kepada perempuan.
Menurut Thaher, penghormatan terhadap perempuan harus menjadi bagian nyata dalam kehidupan masyarakat apabila nilai Larvul Ngabal benar-benar ingin dijunjung.
Ia bahkan memberikan penegasan yang menjadi salah satu pesan utama peringatan tersebut:
“Jangan kita bicara tentang adat kalau kita masih merendahkan perempuan.”
Pesan itu sekaligus menegaskan bahwa nilai adat tidak cukup hanya diucapkan dalam seremoni, tetapi harus diwujudkan melalui perilaku dan kehidupan sehari-hari.
Ditsakmas Didorong Menjadi Gerakan Moral
Lebih jauh, Thaher mengajak masyarakat Maluku Tenggara menjadikan Hari Ditsakmas sebagai sebuah gerakan moral.
Gerakan tersebut diharapkan dapat memperkuat keluarga, memberikan perlindungan terhadap perempuan dan anak, membangun sikap saling menghormati, memperkuat semangat Ain Ni Ain, serta menjaga persatuan seluruh masyarakat Kei.
Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, kata Thaher, berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian adat dan budaya Kei sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan daerah.
Menurutnya, pembangunan tidak boleh hanya menghasilkan jalan, gedung dan infrastruktur. Pembangunan juga harus meninggalkan warisan berupa nilai, martabat, adat dan kehormatan negeri kepada generasi berikutnya.
Membangun Daerah Tanpa Kehilangan Akar Budaya
Thaher juga menekankan pentingnya membawa Maluku Tenggara menuju kemajuan ekonomi, peningkatan kualitas pendidikan, pemerintahan yang kuat serta keterbukaan terhadap perkembangan zaman.
Namun, seluruh kemajuan tersebut harus tetap berpijak pada akar adat dan budaya Kei.
Dalam pesannya, ia merangkum nilai yang dapat dipetik dari tiga unsur penting kehidupan masyarakat Kei.
Dari Larvul Ngabal belajar tentang aturan, dari Ain Ni Ain belajar tentang persaudaraan, dan dari Ditsakmas belajar tentang penghormatan terhadap perempuan.
Dengan demikian, Hari Ditsakmas ke-8 tidak hanya menjadi peringatan terhadap sebuah nama dan sejarah, tetapi juga menjadi momentum untuk merefleksikan kembali bagaimana masyarakat Kei mempertahankan nilai leluhur di tengah perubahan zaman.
Thaher mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menghormati perempuan, menegakkan nilai Larvul Ngabal, memperkuat Ain Ni Ain serta menjaga martabat dan kehormatan negeri Kei.
“Ain Ni Ain. Larvul Ngabal tetap menjadi kekuatan moral masyarakat Kei. Setara Sejahterakan Negeri.”
Editor: Bruce Elang








































Komentar via Facebook