Hari Nen Dit Sakmas di Malra, Wabup Charlos: Jangan Biarkan Nilai Adat Kei Hilang Ditelan Zaman

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 08 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Hari Nen Dit Sakmas di Malra, Wabup Charlos: Jangan Biarkan Nilai Adat Kei Hilang Ditelan Zaman

Hari Nen Dit Sakmas di Malra, Wabup Charlos: Jangan Biarkan Nilai Adat Kei Hilang Ditelan Zaman

Langgur Tribunnusantara-web.id  — Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara kembali memperingati Hari Nen Dit Sakmas sebagai momentum untuk merawat sejarah, memperkuat nilai adat, sekaligus meneguhkan penghormatan terhadap harkat dan martabat perempuan Kei.

Peringatan tersebut berlangsung di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara, Senin (7/9/2026), setelah rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah ke makam Rat Ohoivur dan makam Nen Dit Sakmas.

Wakil Bupati Maluku Tenggara Charlos Viali Rahantoknam memimpin kegiatan seremonial tersebut bersama unsur pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen masyarakat.8/9/26

Bagi masyarakat Kei, peringatan Hari Nen Dit Sakmas tidak semestinya berhenti sebagai agenda tahunan. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk kembali menggali nilai-nilai kehidupan yang diwariskan para leluhur dan memastikan nilai tersebut tetap relevan bagi generasi sekarang.

Nen Dit Sakmas dikenal sebagai salah satu figur penting dalam sejarah masyarakat Kei dan dikaitkan dengan lahirnya nilai-nilai yang kemudian menjadi bagian dari hukum adat Larvul Ngabal. Sejumlah sumber pemerintah dan sejarah budaya Kei menempatkan perjuangannya sebagai bagian penting dalam penghormatan terhadap perempuan dan tatanan kehidupan masyarakat Kei.

Bukan Sekadar Ziarah dan Seremoni

Ziarah ke makam leluhur memiliki makna lebih dalam daripada sekadar ritual penghormatan.

Ziarah menjadi ruang refleksi agar generasi hari ini tidak kehilangan hubungan dengan sejarah dan akar budayanya.

Sebab, ketika sejarah hanya dikenang dalam seremoni, tetapi nilai yang diwariskan tidak lagi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka makna sebuah peringatan perlahan dapat kehilangan kekuatannya.

Karena itu, Hari Nen Dit Sakmas harus menjadi momentum untuk bertanya kembali:

Apakah nilai adat masih menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat Kei hari ini?

Pertanyaan tersebut menjadi penting di tengah perubahan sosial yang semakin cepat.

Kemajuan teknologi, arus informasi, serta perubahan gaya hidup membawa tantangan tersendiri bagi generasi muda. Nilai adat harus mampu diwariskan bukan hanya melalui cerita, tetapi juga melalui pendidikan, keteladanan, dan praktik kehidupan sehari-hari.

Martabat Perempuan Tidak Boleh Berhenti dalam Ucapan

Salah satu pesan penting yang melekat dalam peringatan Nen Dit Sakmas adalah penghormatan terhadap perempuan.

Dalam konteks kehidupan masyarakat Kei, perempuan memiliki kedudukan yang harus dihormati dan dilindungi. Bahkan dalam pembahasan mengenai hukum adat Larvul Ngabal, terdapat prinsip yang secara khusus menempatkan penghormatan terhadap perempuan sebagai bagian dari tatanan sosial.

Karena itu, penghormatan terhadap Nen Dit Sakmas tidak cukup hanya melalui pakaian adat, ziarah, maupun acara seremonial.

Penghormatan yang sesungguhnya harus terlihat dari bagaimana perempuan diperlakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak boleh ada kekerasan.

Tidak boleh ada penghinaan.

Tidak boleh ada tindakan yang merendahkan martabat perempuan.

Nilai adat harus hadir dalam perilaku nyata.

Wabup: Sejarah Harus Menjadi Pedoman Masa Depan

Momentum Hari Nen Dit Sakmas juga menjadi pengingat bahwa menjaga adat bukan berarti menolak perubahan.

Sebaliknya, masyarakat Kei membutuhkan generasi yang mampu bergerak maju tanpa kehilangan identitas.

Nilai Ain Ni Ain, persaudaraan, penghormatan terhadap sesama, serta prinsip-prinsip hukum adat harus terus diperkuat sebagai modal sosial menghadapi tantangan zaman.

Pemerintah daerah, lembaga adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi perempuan, pemuda, dan seluruh masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan warisan tersebut tidak terputus.

Sebab adat yang hanya dikenang akan menjadi sejarah, tetapi adat yang diamalkan akan tetap menjadi kekuatan masyarakat.

Peringatan Hari Nen Dit Sakmas di Maluku Tenggara akhirnya bukan sekadar mengenang seorang tokoh perempuan dari masa lalu.

Lebih dari itu, momentum ini menjadi ajakan untuk menjadikan keberanian, keteguhan, penghormatan terhadap perempuan, persaudaraan, dan nilai-nilai adat sebagai pedoman menghadapi masa depan.

Karena menjaga Nen Dit Sakmas bukan hanya menjaga sebuah nama, tetapi menjaga nilai yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Kei.

Editor: Bruce Elang