Harmoni Serdadu dan Adat: Penyambutan Yonif TP 914 di Tual Menyiratkan Lebih dari Sekadar Upacara

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 23 Maret 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Harmoni Serdadu dan Adat: Penyambutan Yonif TP 914 di Tual Menyiratkan Lebih dari Sekadar Upacara

Tual, TribunNusantara.web.id | Langit pagi di Pelabuhan Yos Sudarso, Kota Tual, Selasa, 24 Maret 2026, belum sepenuhnya terang ketika barisan prajurit mulai tersusun rapi. Derap langkah militer berpadu dengan denting nilai-nilai adat yang telah hidup jauh sebelum republik ini berdiri. Di titik itulah, penyambutan personel Yonif TP 914/Maren Nusa Larvul bukan sekadar seremoni melainkan pertemuan dua dunia: disiplin negara dan kearifan lokal.

Kodim 1503/Tual merancang upacara ini dengan kesadaran bahwa keamanan tak hanya ditopang oleh kekuatan senjata, tetapi juga penerimaan sosial. Wakil Walikota Tual, H. Amir Rumra, yang bertindak sebagai inspektur upacara, membacakan sambutan Walikota dengan nada yang tegas namun bersahabat.

Ia menekankan harapan besar terhadap kehadiran satuan baru tersebut bukan hanya sebagai penjaga stabilitas, tetapi juga sebagai motor penggerak pembangunan.

Namun, inti dari penyambutan itu justru hadir setelah aba-aba militer usai dikumandangkan.

Di hadapan masyarakat yang berkumpul, prosesi adat Kei digelar. Raja Tual, Jafar Tamher, bersama Raja Dullah Bayan Renuat, memimpin ritual yang sarat simbol. Tidak ada senjata di tangan mereka, hanya gestur penerimaan yang diwariskan turun-temurun. Prosesi itu menjadi pernyataan diam-diam namun kuat: para prajurit tidak datang sebagai orang luar, melainkan sebagai bagian dari rumah yang sama.

Mayor Inf. Angga Andika, Komandan Yonif TP 914/Maren Nusa Larvul, memperkenalkan dirinya dengan singkat, tanpa banyak retorika. Ia menyampaikan kesiapan satuannya menjalankan tugas, sebuah kalimat yang terdengar sederhana, tetapi mengandung konsekuensi panjang di wilayah kepulauan yang kompleks seperti Tual.

Di sisi lain, Dandim 1503/Tual Letnan Kolonel Inf Andi Agussalim menegaskan pentingnya sinergi. Dalam konteks Maluku Tenggara, kata “sinergi” bukan jargon kosong. Ia adalah prasyarat antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat adat untuk menjaga keseimbangan yang rapuh sekaligus berharga.

Upacara berakhir tanpa gegap gempita. Tidak ada selebrasi berlebihan. Yang tersisa justru kesan mendalam: bahwa keamanan bisa dibangun dengan pendekatan yang membumi, dan bahwa adat bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi penerimaan.

Di Tual, pagi itu, negara dan tradisi tidak saling meniadakan. Keduanya berjalan berdampingan seperti barisan prajurit yang melangkah serempak, namun tetap menghormati tanah tempat mereka berpijak.